Best Life ala Mistikus Korporasi Indonesia

July 12th, 2008 by massepe

6050
Books
Sebenarnya sudah lama saya ingin
menulis resensi dari buku ini. Buku refleksi kehidupan kaum top executive kalo bisa saya memberi
label kedua buku ini. Buku yang berjudul The
secret of better life
dan Best Life
yang ditulis oleh Ir. Stefanus Indrayana, MBA dan Ir.Goenardjoadi Goenawan, MM.

 

Selintas mengeni kedua penulis,
Stefanus Indrayana saat ini adalah Direktur Pemasaran PT Samsung Electronic
Indonesia (SEIN) yang bertanggung jawab atas strategi pemasaran produk-produk
Consumer Electronic dan Information Technology dan Corporate Markeitng Samsung
di Indonesia. Pengalaman bekerja dibidang pemasaran diawali ditahun 1987
sebagai marketing manajer Consumer Goods pada Tempo Group, kemudian beralih di
ke Toshiba kemudian di Philips dengan posisi General Manager.

 

Sedangkan Rekannya yang bersama
menulis buku Ir.Goenarjoadi Goenawan, MM. adalah pelaku bisnis Franchisor
rekaman Talent Box yang sudah tersebar dikota-kota besar di Indonesia

Pengalaman marketingnya pun sudah teruji pernah bekerja diperusahaan
multinasional dan lokal. Perusahaan tersebut adalah Colgate Palmolive, Gillette
Asia Pasific, Wings Group, Tjiwi Kimia, dan jabatan terakhir sebagai Business
Development Manager Consumer Product pada Hewlett Packard Indonesia.

 

Saya berkenalan dengan pak
Stefanus Indrayan sewaktu menggelar seminar di Makassar berjudul Marketing
Outlook, Geeting out of price war yang diselenggarkan oleh Indonesian Marketing
Association (IMA) chapter Sulsel, bersama Yuswohady dari Markplus pada tangal 8
Februari 2008 lalu di Hotel Horizon Makassar.

Sewaktu perjalan mengantar beliau
pulang ke bandara Hasanuddin, tercipta percakapan ringan yang saya merasa
banyak mutiara kehidupan yang berguna bagi saya dari beliau. Sebagai seorang
yang berkecimpung dibidang pemasaran, dan pengalaman memimpin korporasi menulis
buku tentu butuh suatu energi tersendiri, disamping kesibukannya sehari-hari
dikantor.

 

Stefanus dan sobatnya
Goenardjoadi membuat buku yang berjudul The Secret of better life dan Best Life (Elex MediaKomputindo, 2007)
sebenarnya memiliki tujuan adalah mengajak para kaum professional dan eksekutif
yang sehari-hari sibuk bergelut dengan pekerjaannya dikantor untuk sejenak
melakukan refleksi dengan pertanyaan-pertayaan Apakah hidup kita ini telah menemukan
makna dan bahagia? Mengajak kita berpikir kembali, Apa misi kita hidup didunia?
Untuk apa kita diciptakan dan dilahirkan di buim ini? Apa yang telah kita
kerjakan selama ini bagi kemasyahlatan orang banyak. Apakah kita sudah berada
dijalan yang benar?

Pertanyaan-pertanyaan sepele,
bahwa kalau bisa saya bilang sudah sering kita dengar dan baca, tapi apakah
kita betul-betul memahami?

Nah buku-buku ini dapat juga
dijadikan buku exercise, Mengapa? Cobalah ambil waktu satu-dia jam dihari libur
Anda. Cari tempat yang nyaman dan tenang, matikan handpone dan jauhi segala
macam benda-benda yang berkaitan dengan tugas-tugas harian Anda. Kemudian baca
buku best
life
dan the secret of better life, ikuti saja alur bukunya. Jawablah
pertanyaan-pertanyaan yang muncul di buku, dan simak kisah-kisah dalam buku
(story box). Semuanya akan membawa kita kedalam refleksi pribadi masing-masing.

 

Buku-buku refleksi ini lahir
sebagai suatu hasrat untuk berbagi kisah. Pengalaman bekerja puluhan tahun
diperusahaan multinasional khususnya perusahaan Korea seperti Samsung. Berbagi
nila-nilai kehidupan yang universal, lintas agama, dan yang paling penting
adalah jujur akan kehidupan yang kita jalani dalam menemukan kebahagian jiwa.

 

Dalam buku The secret of better
life diuraikan bagaimana seseorang untuk mengenal jiwa yang bahagia, itu
dimulai dengan;1)pengenalan jiwa dengan memenuhi kebutuhan didengar, 2)
mendapatkan jiwa dengan mengalahkan ego yaitu terbebas dari ambisi, 3) memberi
makan jiwa dengan menolong/memberi atau berbuta kebaikan, 4) mengembangkan
kebijaksanaan dengan mengerti kebenaran. 5) menguatkan identities sosok jiwa
kita dengan mencari jati diri, 7) mencapai kesempurnaan jiwa dengan mencapai
kemuliaan.

 

Kita kadang kurang sadar, bahwa
selama ini hidup kita, rutinitas kita malah membuat kita tidak enjoy dalam hidup. Banyak hal yang
kadang kita lupakan dalam hidup. Kita lupa mendengar kata hati kita, dan juga
jarang mendengar kata hati pasangan hidup kita, orang-orang yang kita cintai,
anak kita, sanak saudara kita, rekan kerja kita.

 

Penulis mengajak kita untuk
bertanya dan menggali lagi makna hidup. Teori Hirarki kebutuhan dari Abraham
Maslow menjadi landasan dari kedua buku ini. Kebutuhan Maslow paling dasar
dimulai dari kebuthan fsiologi makan dan minum, selanjutnya kebutuhan akan rasa
aman, rasa cinta dan dimiliki. Kemudian kebutuhan akan pengakuan dan kebutuhan
terakhir adalah mencapai aktualisasi diri atau mencari jati diri. Begitulah
kira-kira.

Kalau anda sering membaca buku-buku
karya Emha Ainun Nadjib trus ada lagi buku refleksi Komaruddin Hidayat yang
sifatnya mengarah nilai-nilai Islam,  nah
buku karya Stefanus Indrayan dan Goenarjoadi Gonawan boleh disebut buku
refleksi dari kaum korporasi atau eksekutif dilevel korporat dengan nilai-nilai
yang universal.

Saya jadi ingat buku The
Corporate Mystic karya Gay Hendricks dan Kate Ludeman (2002) yang saya pernah tulis resensinya
diblog
saya juga. Dalam buku itu diceritakan bahwa penulis melakulan riset
mewawancara kurang lebih 1000 orang eksekutif puncak pada perusahaan korporasi.
Disimpulkan para pebisnis memiliki sifat sifat yang biasanya dimiliki oleh para
mistikus. Mereka sangat menjaga etika dan menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual.
Mereka melihat perusahaan sebagai perwujudan kolektif roh, mengandalkaan
intiusinya dan tahu bagaimana cara menggunakan pada saat yang diperlukan.
Mereka menghadirkan bukan hanya dompet melainkan juga hati dan jiwa mereka
dalam bekerja yang disebut oleh penulis buku sebagai Mistikus Korporat.

 

Dalam buku-buku yang saya
bicarakan tadi terdapat nilai-nilai seorang mistikus korporat. Dimana bekerja
tidak hanya untuk hidup, tetapi bagaiman bekerja itu memiliki makna bagi orang
lain dan orang-orang yang kita cinta. Buku-buku tersebut layak dibaca bagi para
eksekutif perusahaan diwaktu senggang untuk menemukan value baru dan melakukan refleksi kehidupan.

 

 

Wassalam…

 

Andi M Nur Bau Massepe

Makassar

Membership of Director IMA
Chapter Sulsel

Thomas S Khun

February 24th, 2008 by massepe

 Rowinkuhn

Membicarakan filsafat ilmu atau philosophy of science atau filsafat
sains tidak bisa lepas dari ketokohan pemikiran dari Thom as Samuel Kunt. Ilmuwan yang la hir
tanggal 18 juli 1922
di Cincinnati, Ohio,United
  States.

Sebagai pemikir yang intens dalam
kajian filsafat ilmu, pemikiran yang terkenal dari beliau adalah masalah philosophy of science dan history of sciences yang mana konsep
dari pemikiran tersebut akan dibahas dibawah ini.

Masa hidupnya banyak diabdikan di
kampus dimana dia mengajar yakni Hardvard Univeristy sekaligus menerima gelar
PhD. Ditahun 1949 untuk kategori general
education
dan history of science.
Di Harvard beliau mengajar dari tahun 1949 sampai 1956 untuk bidang sejarah
ilmu pengetahuan setelah itu dia pindah ke Universitas California, Berkeley
untuk bidang yang sama. Prestasi yang luar biasa di raihnya ditahun 1962 di
Universitas California itu dia mendapat gelar
Profesor setelah menerbitkan karya fenomenal dibidang filsafat sain dengan
judul The Structure of Scientific Revolutions diterbitkan oleh University of Chicago press (1962).

Kunt dua kali menikah pertama ke
Kathryn Muhs (mempunyai tiga anak-anak) dan kemudiannya untuk kedua kalinya
dengan istri yang bernama ke Jehane Barton ( Jahane R. Kuhn). Beliau meninggal
ditahun 1996 setelah didiagnosa mengidap peyakit kanker.

Kajian yang intensif mengenai
masalah falsafat sains dapat ditelusuri dari abstraksi pengetahuan Beliau.
Dalam pemikiran beliau, filsafat sains adalah bidang ilmu yang mempelajari
dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari sains, yang termasuk di
dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial. Di sini, filsafat sains sangat berkaitan erat dengan epistemologi dan ontologi.

Filsafat sains berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti:
apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah,
bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana sains dapat menjelaskan,
memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi; cara menentukan
validitas dari sebuah informasi; formulasi dan penggunaan metode ilmiah;
macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta
implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu
pengetahuan itu sendiri.

Secara ringkas dapat juga di simpulkan dalam pemahaman seorang  Thomas Khun, ilmu dari waktu ke waktu
mengalami revolusi dimulai dengan perubahan dalam paradigma yang digunakan.

Sains berusaha menjelaskan tentang apa dan bagaimana alam sebenarnya dan
bagaimana teori ilmu pengetahuan dapat menjelaskan fenomena yang terjadi di
alam. Untuk tujuan ini, sains menggunakan bukti dari eksperimen, deduksi logis
serta pemikiran rasional untuk mengamati alam dan individual di dalam suatu
masyarakat.

Dari pemikiran seorang Thomas S
Kunt dapat disimpulkan bahwa ilmu senantiasa berubah (the changing of science). Ilmu berusaha mencari dan mengungkap
kebenaran, tetapi pada waktu yang sama menyadaari keterbatasannya. Ilmu tidak
dapat berpretensi (telah) menemukan kebenaran absolut. Ilmu senatiasa merupakan
proses pencarian terhadap kebenaaran. Berangkat dari uraian di atas, maka tidaklah mengherankan bahwa garis depan
ilmu selalu berubah-ubah dan bergeser. Kebenaran Kebernaran ilmiah tidaklah
bersifat mutlak (absolut), berubah-ubah dan tidak abadi. Ia bersifat nisbi,
sementara dan kira-kira. Namun kebanyakan ilmuwan mengakui adanya kebenaran
mutlak yang merupakan otoritas dari Tuhan.
Kebenaran mutlak merupakan kebenaran tunggal yang sering disebut sebagai kebenaran hakiki yang substanstif d
an
esensial, yang tampil dalam bentuk keteraturan alam semesta.

Kebenaran hasil olah pikir
manusia bersifat relatif, namun dimungkinkan manusia dapat mejangkau lebih luas lagi samudra kebenaran
yang dibentangkan melalui kekuasaan
Allah baik yang tersurat dalam Al-kitab dan ciptaan-Nya yang tergelar di alam
semesta maupun yang melalui kreasi potensi manusia, berupa akal, budi dan
indera. Dimungkinkan manusia akan mampu meraih kebenaran yang lebih tinggi
dalam wujud kebenaran transendental yang vertikal.

 

 

 

Referensi.

1) situs wikipedia

a. http://en.wikipedia.org/wiki/Thomas_Samuel_Kuhn

b. http://en.wikipedia.org/wiki/The_Structure_of_Scientific_Revolutions

c. http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat_sains

2) Filsafat Ilmu, Tim Dosen Filsafat Ilmu
Univeristas Gadjah Mada, Liberty Yogyakarta 2003. hal17-20 dan hal63.

Tuhan, Antara ada dan tiada

December 23rd, 2007 by massepe

Allah
Seorang konsumen
datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya.

 
Si tukang cukur mulai
memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai
menghangat.

 
Mereka membicarakan banyak
hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan
beralih tentang Tuhan.

 
Si tukang cukur
bilang,"Saya tidak percaya Tuhan itu ada".

 
"Kenapa kamu
berkata begitu ???" timpal si konsumen.

 
"Begini, coba
Anda perhatikan di depan sana , di jalanan… untuk menyadari bahwa Tuhan itu
tidak ada.
Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada,
Adakah yang sakit??,
Adakah anak terlantar??
Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan.
Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini
semua terjadi."

 
Si konsumen diam untuk
berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu
pendapat.

 
Si tukang cukur
menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang
cukur.

 
Beberapa saat setelah
dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang
panjang, berombak kasar (mlungker-mlungker- istilah jawa-nya), kotor dan brewok
yang tidak dicukur.
Orang itu
terlihat kotor dan tidak terawat.

 
Si konsumen balik ke
tempat tukang cukur dan berkata, "Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG
CUKUR."

 
Si tukang cukur tidak
terima," Kamu kok bisa bilang begitu ??".
"Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!"

 
"Tidak!"
elak si konsumen.
"Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan
rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana ",
si konsumen menambahkan.

 
"Ah tidak, tapi
tukang cukur tetap ada!", sanggah si tukang cukur.
" Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak
datang ke saya", jawab si tukang cukur membela diri.

 
"Cocok!"
kata si konsumen menyetujui.
"Itulah point utama-nya!.
Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA !
Tapi apa yang terjadi… orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU
MENCARI-NYA.
Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini."

 
Si tukang cukur
terbengong !!!


 
 
(sumber: internet, unknown)

Pesan: apa yang kita pikir bahwa Tuhan tidak ada itu benar, dan kalau Tuhan itu ada juga benar. Hidup selalu dihadakan pilihan, yang mana Anda pilih. Jika kita memang beriman, jangan ragukan lagi ke tiadaan Tuhan.

Siapa elo?

December 20th, 2007 by massepe

Tulisan yang menarik dari Samuel Mulia, penulis di kolom urban life di kompas setiap minggu. Saya senang banget membacanya, karena cara menulisnya yang cukuup unik, mejelek-jelekkan diri sendiri, tapi penuh refleksi,

selamat membaca…!!

——

Siapa elo?
samuel mulia, penulis mode dan gaya hidup

Di akhir pekan lalu, saya berkumpul bersama
sahabat-sahabat saya sambil menikmati makanan italia buatan salah satu
teman saya itu. Di tengah goyangan pasta, ada menu asinan betawi.
Benar-benar menu mancanegara.

Di seputaran kolam renang itu kami mengobrol ke sana kemari.
Kebetulan sahabat-sahabat saya itu berprofesi seperti menu siang itu.
Dari yang bekerja di rumah pelelangan sampai yang mengelola gedung,
tanpa melupakan yang memiliki salon dan seorang seniman.

Seorang wanita salah satu dari sahabat-sahabat saya itu bekerja di
sebuah bank yang baru saja melakukan aksi perampingan karyawan. Jadi,
ternyata yang bercita-cita memiliki "tubuh" ramping bukan cuma manusia.
Saya berpikir, perusahaannya sudah dibantu sekian tahun dengan
manusia-manusia ini sampai sukses dan setia, dan ketika keuntungan
berkurang dan mulai panik, maka salah satunya melakukan perampingan.
"Kata setia itu gak ada lagi, Mas," celetuk teman saya.

Sahabat saya bercerita bahwa ia sempat deg-degan apakah ia juga
dimasukkan ke dalam program pelangsingan—yang bisa membuat orang tak
bisa tidur itu, dan malah benar-benar langsing karena stres—meski
imbalannya, menurut cerita sahabat saya itu, mencapai enam puluh kali
gaji.

Ia menjadi bingung. Bagaimana kalau seandainya aksi pengurangan
pegawai itu menimpa dirinya, dan ia sampai harus mencari pekerjaan lagi
meski angka enam puluh kali sekian juta bisa ia genggam. Saya senang
mendengar ceritanya itu, apalagi ucapannya yang terakhir. "Gue bisa aja
dapat uang sebanyak itu, tetapi siapa gue setelah gak kerja di sana?"

"Mas dari mana, ya?"

Siapa gue. Sebuah pertanyaan yang penting sekali tampaknya. Saya
kemudian mengingat bahwa kejadian itu juga pernah saya alami. Beberapa
waktu lalu saya bertemu dengan klien saya yang kebetulan dulu pernah
menjadi manajer iklan di majalah di mana saya bekerja. Ia kini bekerja
di sebuah hotel berbintang. Suatu hari saya bertemu dengannya di
kantornya di salah satu gedung pencakar langit di kawasan Sudirman.
Saya tiba di reception.

"Selamat pagi, Mbak. Saya Samuel Mulia, ingin bertemu dengan Ibu
Santi," jelas saya. Dengan senyum ramahnya ia membalas, "Pak Samuel
dari mana, ya?" Saat ia menanyakan itu, saya gelagapan, benar-benar tak
bisa menjawab, malah saya balik bertanya, "Dari mana ya, Mbak?" Tentu
saya tak bisa menjawab bahwa saya dari rumah. Saya mengerti sepenuhnya
bahwa pertanyaan dari mananya itu dimaksudkan sebagai nama perusahaan
di mana saya bekerja.

Masalahnya, saya sekarang tak bekerja di sebuah perusahaan atau
institusi apa pun. Sebagai konsultan media pemula dan ecek-ecek, saya
belum berani membuat perusahaan. Jadi saya bingung, benar-benar KO
mendengar pertanyaan si Mbak. Kemudian karena saya memang tidak dari
mana-mana, saya mengatakan saya ini temannya Ibu Santi.

Wajah ramah dan senyumnya berubah menjadi ketus. Mungkin ia
berpikir, ini bukan waktunya main-main dan mengunjungi teman saat jam
bekerja. Saya cuma menggerutu dalam hati, yaaa… beginilah kalau
keramahan hanya menjadi sebuah kewajiban dan tak datang dari nurani.
Saya malu sendiri karena setelah menggerutu, saya jadi ingat suara
teman saya yang suka nyeletuk, "Bukannya elo juga kayak gitu."

Setelah pertemuan itu, di dalam taksi menuju ke tempat pertemuan
berikutnya, saya berpikir lagi, apakah saya akan ditanya lagi saya dari
mana? Kemudian saya malah jadi bertanya kepada diri saya sendiri,
siapakah saya ini? Siapakah saya selama ini di mata saya dan di mata
orang lain? Saat itu mata saya terbuka bahwa selama ini saya melabelkan
orang dan diri saya sendiri dengan nama institusi di mana tempat
bekerja. Karena berbelas tahun melabelkan dan kemudian menjadi
kebiasaan, maka ketika si Mbak receptionist mengajukan pertanyaan dari
mana, saya kebingungan karena "nama belakang" saya kini sudah tak ada
lagi.

Kalau Paris itu (bukan) Hilton

Saya sampai berpikir apakah orang mengenal saya seperti ini. Samuel itu loh yang nulis di Kompas. Tentu nama Kompas
sudah seperti nama Krisdayanti. Sambil merem dan mimpi saja bisa
teringat. Atau Samuel itu loh yang kerja di Bank ABC. Dan tak hanya
label institusi, tetapi juga sampai menyerempet dengan urusan nama
keluarga dan perilaku. Samuel itu elo yang anaknya Jenderal Kancil.
Masak gak tahu sih, Samuel itu loh, dia kan cucunya pengusaha guling.
Kakeknya kan dulu membuat guling dan bantal, baru aja meninggal.
Kakeknya kan dulu nakal. Makanya, cucunya sami mawon. Samuel itu elo
yang dulu kerja di majalah pisang jambu, yang sok tahu itu, yang
mulutnya nggak disekolahin. Samuel itu elo, yang bekas berselingkuh ama
penyanyi keroncong.

Beberapa hari setelah kumpul- kumpul di tepi kolam renang, saya
melihat tayangan bagaimana sejuta media meliput masuknya Paris Hilton
ke penjara. Berbagai media berkomentar ini dan itu. Saya membayangkan
bagaimana kalau Paris itu bukan Hilton? Cuma perempuan biasa yang tidak
punya kaitan dengan nama belakangnya? Akankah sejuta media
mengerumuninya? Siapakah Paris tanpa Hilton? "Yaaa… itu kan ibu kota
Perancis," celetuk teman saya.

Ya, siapakah saya ini kalau saya tak punya predikat apa pun, tidak
bekerja di bank kondang atau anak orang kondang? Saat saya pindah kerja
dari perusahaan besar ke perusahaan ecek-ecek, klien-klien saya yang
dahulu baik dan memberikan saya perlakuan istimewa tiba-tiba tak
mengenal saya, memberi kesusahan saat meminta janji temu, kalaupun
baik, hanya sekadarnya. Harus diakui, saya merindukan untuk kembali
memiliki nama belakang, dan tentu saya memilih yang besar dan terkenal
kalau perlu.

Dan kadang ketika saya tak punya nama belakang yang besar dan
kondang, saya mencari-cari dengan melakukan perilaku yang mengundang
orang untuk membicarakan, agar nama yang tak ada apa-apanya itu menjadi
apa- apanya dong. Kalau dimisalkan sebuah brand, maka ketika saya mem-build brand saya, saya membangun dengan cara yang provokatif sehingga memancing perhatian orang, yang sensasional, meski brand saya sendiri tak ada istimewanya sama sekali.

Jadi, memiliki nama besar di belakang yang bukan nama saya sendiri
membuat saya seperti ketagihan bak pengguna narkoba. Sekali dilepas,
maka saya jadi sakau. Teman saya dengan polos bertanya, "Mas, jadi
sekarang Mas ini siapa?"

http://www.kompascommunity.com/index.php?fuseaction=home.urban

POWER OF THE VERBS

December 20th, 2007 by massepe

Saya kutip dari blognya pak Rusman Hakim (salah seorang pengamat kewirausahaan) yang tulisannya saya rasa cukup mencerahkan.

———–
POWER OF THE VERBS

Dalam suatu seminar, seorang peserta berkeluh-kesah kepada Stephen
Covey, bahwa kehidupan rumah tangganya tidak bahagia. Ia dan isterinya
sudah tidak sepaham lagi, sehingga terlalu banyak pertengkaran yang
terjadi. Oleh sebab itu, ia ingin Covey memberinya jalan keluar. “Apa
yang harus saya lakukan, Tuan Covey?” demikian ia bertanya.

Setelah berfikir sejenak Stephen Covey menjawab: “Cintai isterimu..”

Sang
penanya tertegun, lalu ia menegaskan: “Anda tahu Stephen, saya sudah
tidak cinta lagi pada isteri saya. Jadi apa yang harus saya perbuat?”

“Cintai isterimu..”, Stephen Covey mengulangi jawabannya.

“Anda
tentu tidak mengerti bahwa sesungguhnya sudah tidak ada lagi perasaan
cinta di hati saya terhadap dia..” sang peserta tetap pada pendiriannya.

“Kawan..!
Yang saya maksud di sini adalah ‘cinta’ dalam kata kerja. Bukan
‘perasaan cinta’ sebagai kata benda atau kata keadaan. Jadi Anda harus
mencintai isteri Anda dalam kata kerja. Lakukanlah, cintai isteri Anda
dan Anda akan menemukan cinta itu kembali..”

Meski petikan
dialog di atas kelihatan sederhana, namun sebenarnya yang dibahas oleh
Stephen Covey adalah sebuah kunci kesuksesan hidup. Sebuah “resep
rahasia” yang akan mampu menuntun manusia ke arah kebahagiaan sejati
dalam kehidupan yang hingar-bingar ini. Mengapa demikian?

Sebagian
besar orang memang lebih banyak menggantungkan kebahagiaan hidupnya
pada “kata benda” atau “kata keadaan”. Lebih tepatnya, pada “sesuatu”
baik berupa benda, orang atau pun lingkungan.

Yang lebih
mengherankan adalah kenyataan bahwa rata-rata manusia hanya mau atau
hanya bisa berbahagia, kalau ada alasan tertentu untuk itu. Coba
perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini:

“Saya akan sangat berbahagia bila saya berhasil menjadi orang kaya..!”

“Mobil
mewah itu sungguh bagus, berteknologi tinggi serta memberikan prestise
tersendiri. Alangkah berbahagianya bila saya dapat memilikinya..”

“Dunia serasa gelap, dan tiada lagi kebahagiaan yang tersisa semenjak saya ditinggal oleh kekasih yang sangat saya cintai..”

“Hari mendung menjelang hujan lebat, jalanan macet pula.  Hati saya benar-benar tertekan hari ini..”

Empat
contoh kalimat di atas menunjukkan secara jelas, betapa banyak orang
yang menggantungkan kebahagiaanya pada keadaan (kekayaan), pada benda
(mobil mewah), pada orang (kekasih) dan pada lingkungan (cuaca mendung
dan jalan macet).

Padahal, kalau kita mau berfikir jernih,
mengapa pula kebahagiaan itu harus dilekatkan pada hal-hal di luar
kita, baik benda, orang, keadaan mau pun lingkungan?

Kekuatan Kata Kerja

Sejak
kelahiran manusia pertama di atas bumi, Tuhan Yang Maha Esa telah
memberi perintah agar manusia aktif bekerja untuk dapat mempertahankan
hidup. Dalam segala hal, manusia harus “taking action”, maka itu
artinya ia harus selalu berada dalam lingkup kata kerja.

Patut
disyukuri bahwasanya kesadaran dan etos kerja manusia secara fisik
berkembang pesat, sehingga tingkat kemajuan teknologi di dunia industri
sekarang sudah sedemikian majunya.

Namun apa lacur, kalau pun
kekuatan kata kerja telah mampu membawa kemajuan di tingkat fisik,
tidak demikian halnya di tingkat mental. Hampir semua orang berfikir
bahwa kekuatan kata kerja hanya berlaku atas segala sesuatu yang kita
kerjakan secara fisik. Nyaris tidak pernah terfikir bahwa kekuatan kata
kerja juga berlaku atas aktivitas-aktivitas mental dan emosi.

Ambil
contoh, emosi-emosi negatif seperti kecewa, marah, takut atau perasaan
tertekan, adalah unsur-unsur mental yang dianggap sebagai suatu
“keadaan” atau “kondisi”, yang terjadi sebagai akibat pengaruh-pengaruh
dari luar. Karena merupakan akibat dari pengaruh luar, maka emosi-emosi
semacam itu tidak dapat dikontrol oleh yang bersangkutan.

Nyaris
tidak ada orang yang mau berspekulasi bahwa emosi sebenarnya juga
merupakan aktivitas manusia yang bisa dikendalikan oleh yang empunya
tubuh. Aktivitas yang tentunya bisa dilakukan oleh manusia berdasarkan
“kata kerja”.

Penyanyi seriosa sekaliber Surti Suwandi atau
Pranawengrum, mampu menstimulir dirinya saat menyanyikan lagu sedih,
sampai menangis mengeluarkan airmata yang tidak sedikit. Demikian juga
apa yang dilakukan oleh para penyanyi opera dan artis film drama.

Hal
tersebut merupakan bukti kecil dan sederhana, bahwa emosi pun bisa
“dilakukan”. Dan itulah juga yang sesungguhnya dimaksud oleh Stephen
Covey, bahwa “cinta” bukanlah sekadar keadaan emosi yang terjadi dengan
sendirinya. Cinta adalah juga sebuah aktivitas manusia yang bisa
dilakukan kapan saja sesuai dengan inisiatif si pelaku.

Bahagia dan Sukses Juga Merupakan Kata Kerja

Kita
perlu prihatin, bahwa sebagian besar orang menganggap seakan-akan
kebahagiaan hanya akan datang kalau ada pemicunya, apakah itu berupa
harta benda, perhatian atau kasih sayang seseorang, atau stimulus lain.

Hal
ini perlu dikoreksi. Sesungguhnya, kebahagiaan dapat dikendalikan
sesuai dengan inisiatif orang yang bersangkutan. Jim Dorner, seorang
tokoh kepemimpinan pernah mengatakan bahwa manusia sudah sepantasnya
berbahagia, dan itu bisa diperoleh cukup dengan mengatakan: ”I want to
be happy! I don’t want to be unhappy!”, tanpa mengait-ngaitkannya
dengan faktor luar.

Memang, sesuai dengan hukum sebab dan
akibat, segala sesuatu yang terjadi senantiasa karena ada suatu alasan
yang melatarbelakanginya. Kekeliruan yang selama ini dilakukan oleh
banyak orang sehingga mereka sulit untuk merasa bahagia secara terus
menerus adalah bahwa latar belakang kebahagiaan mereka selalu
diletakkan pada obyek-obyek luar yang mudah lenyap serta di luar
kendalinya.

Padahal, sumber-sumber daya yang permanen ada pada
diri kita sendiri merupakan alasan terbaik untuk kita bisa selalu
merasa bahagia.

Apa saja? Banyak, antara lain keyakinan akan
diri, kepiawaian dalam bidang-bidang tertentu, profesionalisme,
semangat dan daya juang, naluri avonturisme, proaktivitas, motivasi,
visi, serta kedekatan kita dengan Tuhan. Dengan latihan dan kesadaran
akan berbagai kemampuan pribadi inilah, pada akhirnya kita akan
terbiasa untuk berbahagia setiap saat, tanpa perlu melihat materi luar
apa yang kita miliki.

Pertanyaannya adalah, bagaimana mungkin
komponen-komponen tak kasat mata (intangible) seperti semangat,
kepiawaian, motivasi, kepercayaan diri dan sebagainya itu dapat menjadi
alasan untuk kita berbahagia? Bukankah lebih realistis kalau orang
merasa bahagia karena memperoleh banyak uang, memiliki rumah besar dan
mobil mewah?

Seperti telah disinggung di atas, uang, rumah
besar, mobil mewah dan bahkan kasih sayang orang lain, adalah
unsur-unsur luar yang tidak sepenuhnya berada di bawah kendali kita.
Sifatnya situasional, sehingga setiap saat bisa saja lenyap dari
kepemilikan kita.

Sebaliknya, kemampuan diri pribadi merupakan
“mesin kehidupan” yang kita miliki secara abadi, tidak akan hilang
sepanjang hayat masih dikandung badan. Uang, mobil serta harta benda
lainnya mudah diperoleh asalkan kita mau bekerja memanfaatkan “mesin
kehidupan” tersebut secara tepat dan benar.

Silahkan direnungkan.(rh)

*** Artikel ini dapat Anda baca juga di portal wirausaha http://www.gacerindo.com, dilengkapi dengan gambar.

Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
LifeWisdom Presenter
E-mail: rusman@gacerindo.com
Portal: http://www.gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com

desember 2007

December 20th, 2007 by massepe

Alo,
Menulis dan meng update sebuah blog nampaknya bukan pekerjaan yang mudah. Saya rasa sendiri sampai saat ini "terkena" penyakit malas menulis dan menulis. Padahal inginnya sih punya blog saya rajin memposting tulisan-tulisan di blog ini.

Mungkin aktifitas saya yang terlalu banyak. Pertama, aktifitas saya sebagai mahasiswa di program S-3 UNHAS (padahal saya ingin menulis tetang "mengapa saya mengambil kuliah S-3-isinya segala curhat dan pikiran tentang kuliah di S-3 bagi saya) sampai sekarang belum selesai ditulis.

Aktifitas kedua, mengajar di STMIK DIPANEGARA semester ini saya hanya mengajar 6 kelas dengan satu mata kuliah yaitu Kecakapan Antar Personal (Interpersonal skill), mata kuliah yang lebih banyak bercerita dan memotivasi mahasiswa. Tentang sharing menjadi dosen sekali lagi saya ingin menulis tapi kok tidak selesai tulisan tentang pengalaman menjadi dosen.

Ketiga, aktif di organisasi IMA (Indonesia Marketing Association) walaupun saat ini saya sudah mengurangi untuk tidak aktif disana, tapi cukup menuntut waktu dan energi juga.

Sebenarnya blog ini mungkin menjadi tulisan terakhir di tahun 2007 ini. Wow, tidak terasa waktu berganti lagi ya. Sudah masuk tahun 2008. Mudah-mudahan denagn pergantian tahun ini semakin baik dan semakin majulah saya.

Selamat tahun baru semua kawan ku..!
Semoga tahun 2008 ini semakin baik dan semakin maju juga buat kalian

my korean name -SUNG HYE YOO (siapa nama korea mu?)

November 22nd, 2007 by massepe

1. Surname : Korean surname is the
last number in your year of birth .
- 0: Park
- 1: Kim
- 2: Shin
- 3: Choi
- 4: Song
- 5: Kang
- 6: Han
- 7: Lee
- 8: Sung
- 9: Jung

II. Middle name : is your month of
birth .
- 1: Yong
- 2: Ji
- 3: Je
- 4: Hye
- 5: Dong
- 6: Sang
- 7: Ha
- 8: Hyo
- 9: Soo
- 10: Eun
- 11: Hyun
- 12: Rae

III. Name : is your date of birth .
- 1: Hwa
- 2: Woo
- 3: Joon
- 4: Hee
- 5: Kyo
- 6: Kyung
- 7: Wook
- 8: Jin
- 9: Jae
- 10: Hoon
- 11: Ra
- 12: Bin
- 13: Sun
- 14: Ri
- 15: Soo
- 16: Rim
- 17: Ah
- 18: Ae
- 19: Neul
- 20: Mun
- 21: In
- 22: Mi
- 23: Ki
- 24: Sang
- 25: Byung
- 26: Seok
- 27: Gun
- 28: Yoo
- 29: Sup
- 30: Won
- 31: Sub

Have fun!!

Selamat idul fitri

October 16th, 2007 by massepe

Assalamu alaikum wr.wb
Saya mengucapkan selamat hari raya idul fitri buat rekan2 friendsterku yang seagama dengan saya. Mohon maaf lahir batin ya. Maafkan bila aku ada salah.

<object width="425" height="350"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/bORLJMt2crM"></param><param name="wmode" value="transparent"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/bORLJMt2crM" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" width="425" height="350"></embed></object>

Meriit, are u sure?

October 5th, 2007 by massepe
+++++++++++++Loveheart
Dear my Frienster, .this a good article i think, you must read, before you merit.click this. mayapadaprana 

Do u agree with her? let read together and share it

N = NurafniL = Leo

N = Selamat siang Pak Leo. Pak, dia lagi OL tuh. Akusama dia diem2an, biasanya ga gt. Tp, dia udah maungobrol, tp ga seperti biasanya. Wah, maaf ya Pak Leoini mungkin ga penting, nanti saya mau tanya ke Bapalagi ah. Eh, tapi yg kemarin juga blm dijawab.

L = Sure, yang mana?

N = Motivasi org yang ga ingin nikah, yang sdhmencapai tahap universal, klo ga salah.

L = Begini mbak, mungkin bukan "motivasi" istilahnya,tetapi KESADARAN.

N = oooooh...

L = Kesadaran (AWARENESS) yang dimiliki oleh tiaporang itu berbeda. Ada yang kesadarannya mutlak 100 %dibentuk oleh BUDAYA. Budaya itu termasuk Tradisi,Agama, Nilai2 Teman2 Sepergaulan, Lingkungan Asal,termasuk Pendidikan.

Kalau Budaya-nya bilang semua orang harus menikah, yadia itu akan menikah. Biarpun HATI NURANI dia itu gakmau menikah karena dipikirnya dia gak suka harusseperti itu, tetapi karena dia mau KOMPROMI denganbudaya itu, maka menikahlah.

Indonesia kita ini termasuk masyarakat yang ANEH kalau mengikuti jalan pemikiran yang TERCERAHKAN(Enlightened). Menurut kebanyakan orang Indonesia:Menikah adalah PERINTAH TUHAN. ... --Menurut aku ituMASYAALLAH. Masa Tuhan kurang kerjaan suruh orangmenikah? Emangnya kalo manusia gak menikah Tuhan jaditersinggung? Emangnya "kemuliaan" Tuhan akan berkurangkalau manusia gak menikah? 

Tapi sudahlah, itu kan manusia yang mengatas-namakanTuhan. Biar aja. Pedahal, menurut aku sendiri, kitamau menikah atau tidak menikah is ok2 aja. Tuhan jugaok2 aja. 

N = Lalu bagaimana kaitannya dg libido? atau kebutuhan"yg satu itu" ?

L = Nah, Libido kan HORMON. Hormon sex. Rasa kepengenesek2. Kalo kepengen esek2 thok, kan gak harusmenikah. Esek2 bisa sendiri, bisa berdua, bisabertiga,... dan gak harus menikah. Kawin juga esek2,cuma gak pake surat aja.

Dan esek2 itu gak harus menjadi LIAR (or lieur)seperti di masyarakat tidak beradab. We are civilizedpeople. Kita ini masyarakat beradab, tetapi kokmemaksakan orang untuk saling menjiret leher satusama lain dalam JERUJI yang diberi nama PERNIKAHAN,dan dikenakan  SANKSI HUKUM, baik "hukum" agama,sanksi2 budaya, tekanan2 lingkungan sekitar, dst,...

N = hmmmm...

L = Jadinya Ribet, ribet sekali. Pedahal, asalnya kancuma dorongan LIBIDO itu saja. HORMON SEX itu saja.Dan itu kan simpel saja. Untuk release hormon itu, gakperlu manusia berlainan jenis (bisa juga sesama jenis)sampai akhirnya saling MANIPULASI. Saling adu pintersiapa yang lebih bisa MENGUASAI yang satunya lagi.

N = Lalu bgmnkah sebaiknya dunia ini Pak Leo,dikaitkan dg PERNIKAHAN atau kawin? BUZZ!!!

L = Menurut aku, pernikahan is good, tapi gak perlusampai di-PAKSA-kan sampai begitu2 amat.

N = Paksakan gmn maksudnya?

L = Kalau ada yang ingin menikah, it's good, silahkan;tapi kalau ada yang gak mau menikah atau belum maumenikah, dengan alasan apapun, seharusnya masyarakat(termasuk keluarga, teman, agama, tradisi, lingkungan,dsb...) tidak me_MAKSA_ orang itu untuk menikah.

N = Ya Pak.. SEPAKAT!

L = Gak perlu nakut-nakutin orang dengan alasan jadiPerawan Tua. Jadi Perjaka Tua (eh, laki2 gak ada yangdibilang perjaka tua yah?), dst.... Malah ada istilahJanda Muda,... kalo janda gak boleh muda. Musti kawinlagi sehingga statusnya gak lagi janda.

Emangnya kita ini apa? Itu bukan naluri lho mbak?Segala pemaksaan itu _bukan_ NALURI, dan _bukan_ pulaINTUISI. Segala pemaksaan agar orang menikah ituberasal dari BELIEF SYSTEM.

Belief System adalah sistem jadi2an, buat2an orangbelaka. Buatan manusia belaka. Mungkin ada gunanya,ada maksudnya ketika belief system itu pertamakalidicanangkan.

Misalnya, dulu kan manusia perlu berkembang-biak(kayak hewan peliharaan yang musti dikembang-biakkan,that's true) karena jumlah orang masih sedikit.Tenaga kerja kurang.

N = Yah....

L = Di Timur Tengah dulu itu, orang kalo perang,rampasan perangnya berupa manusia.

N = HM..

L = Ribuan manusia akan diangkut ke wilayah kerajaanyang memenangkan perang itu. Jadi, yang menjadi nilaiadalah manusia sebagai tenaga kerja. Orang2 Yahudi ituberkali-kali diangkut dari tanah mereka. Sekali angkutratusan ribu orang sekaligus. Dipindahkan ke tempatpemenang perang. Pernah diangkut ke Babylonia. Laludipulangkan kembali. Lalu diusir lagi. Begitu sete-rusnya. Yang jadi masalah kan manusia sebagai tenagakerja.

N = Lalu?

L = Nah, di masa sekarang ini, dimana manusia sudahseabrek-abrek, apa masih perlu Belief System sepertiitu? (termasuk Belief System Yahudi yang mengutipAllah sebagai bertitah: "Berkembang-biaklah kamu!").

N = Yah, dunia diciptakan Tuhan bukan utk itu kan PakLeo?

L = Hm, begini mbak, lebih baik kita berbicara atasnama diri sendiri. Gak usah pakai nama "Tuhan" sepertipara orang agamis itu. Kita bisa bicara kok, tanpaperlu mencatut nama "Tuhan".

N = Baiklah.

L = Kita bisa memberikan alasan yang masuk akal.Alasan yang rasional, alasan yang tidak egoistis, dsb. Dan itu bisa dilakukan even tanpa mencatut nama"Tuhan". Kenapa? Sebab konsep "Tuhan" sendirisebenarnya buatan manusia, itu buatan budaya, ituBELIEF SYSTEM.

Tuhan memang ada, tetapi Tuhan yang asli itu kan cumabisa dirasakan di dalam diri kita di dalam KESADARANkita sendiri. Di dalam CONSCIOUSNESS kita.

Dan Tuhan yang kita kenal di dalam diri kita sendiriitu is really full of LOVING KINDNESS. Dan gakdiktator, dan gak suka maksain pendapat kayak orang2yang bawa2 nama "Tuhan" itu. 

God is really loving, kenapa tukang catut nama God itujadi begitu kurang ajar sehingga Tuhan menjadi punyaimage sebagai ILLAH yang WALLAHUALAM musti disembah endipuji2 lebih tinggi dari langit en musti dikasihkorban ini en korban itu? ... Bener2 konsep yang gakber-Tuhan, kalao according to my humble opinion.

N = Wah Pak, ku msh blm ngerti ttg konsep Tuhan yg PakLeo pahami. BUZZ!!!

L = Hm, pengertian tentang "Tuhan" itu berbeda-beda disetiap orang. Itu ok saja.

N = Yah betul Pak, mmg aku sedang "mencari".

L = Tetapi, apa Tuhan itu beda? Kalau secara teoritis,Tuhan itu sama, gak beda. Berarti apa dong yang beda? Berarti yang beda itu cuma pemahamannya kan? Pemahamantiap orang itu beda which is ok2 aja. Pemahamanajaran2 agama itu beda2 which is ok2 aja. Bahkan, didalam satu agamapun, alirannya gak kehitung.

Dalam satu agama saja bisa ada ratusan aliran, dan itupemikirannya tentang "Tuhan" berbeda-beda. Lalu,pengertian tentang "Tuhan" yang mana yang mau kitapakai? ... Tiap aliran besar dalam agama "mencatut"nama "Tuhan" dengan seenaknya. Mereka memberikansanksi2 atas "perintah2" yang katanya dari "Tuhan"

Itu pemaksaan. Jaman dulu, bahkan juga sampai jamansekarang di wilayah tertentu, segala perintah2 yangkatanya dari "Tuhan" itu memang bisa diimplementasikandengan Hukum Positif. Hukum manusia. Misalnya, hukum rajam, hukum cambuk, hukum mati. Semua atas nama"Tuhan".

Itu kan gak Illahiah. Tidak berperi-Ketuhanan, kalaumenurut aku. Wong itu semua hasil karya manusia,segala pemikiran itu hasil karya manusia, kok namaTuhan dicatut? Nama Tuhan dicatut untuk memberikansanksi atas segala budaya manusia.

Tapi mereka yang hidup di waktu itu gak ngerti kan?Mereka gak ngerti bahwa segala perintah2 yangdi-atasnama-kan Tuhan itu benar2 dari Tuhan, atau dari Tuhan2an. Dari Tuhan buat2an.

The TRUTH is, apa yang kita sebutkan sebagai dariTuhan, sebenarnya berasal dari DIRI KITA sendiri.Memang bisa dari KESADARAN TINGGI yang ada di dirikita. Our HIGHER SELF. God is OUR HIGHER SELF. Tuhankan lebih DEKAT dari URAT LEHER kita. Itu artinya apa?Artinya, kita kan BAGIAN dari TUHAN.

N = Iya...

L = Kita bagian dari Tuhan, berarti Tuhan is OURHIGHER SELF. Nah, karena Tuhan adalah Our HigherSelf tentu saja kita bisa ber-KOMUNIKASI dengan Tuhan.Nah, pengertian yang kita dapat tentu saja berlakuuntuk saat itu. Pengertian yang didapat oleh para nabiitu adalah pengertian SAAT ITU. 

Salahnya, para penerusnya, menyangka bahwa apa yangsudah di-WAHYU-kan SAAT ITU berlaku selama-lamanyasampai akhir jaman. Itu salah, menurut aku gak gitu.Menurut aku, Tuhan ber-KOMUNIKASI dengan MANUSIA allthe time. Setiap saat, sepanjang waktu.

Dan, karena situasi kita berubah terus, makapengertian2 itu juga BERUBAH. Ada yang berubah, danTuhan juga ok2 aja. Tetapi, karena ada SELF INTERESTdari orang2 tertentu untuk mempertahankan WAHYU(Tradisi, Interpretasi,...) yang berasal dari jamanbaheula itu,.. maka diteruskanlah UPAYA PEMAKSAAN.

Pemaksaan, my dear, pemaksaan nilai2 yang sudah tidakpada tempatnya. Dan terjadilah clash. CULTURE CLASH. Clash karena apa yang kita pahami sekarang ternyatagak sinkron dengan apa yang DIPAKSAKAN sebagai yangseharusnya kita pahami.

Kita merasa jadi Orang Bego. Sedangkan mereka yangmemaksakan Nilai2 Out of Date (Kedaluwarsa) itu mintadihormati sebagai orang yang pinter. Orang2 yangberilmu Ketuhanan or whatever they call it. Jadi itukan hal2 yang sebenarnya, bukan saja tidak manusiawi,melainkan juga tidak ber-periketuhanan. INHUMAN andUNGODLY.

N = Ya Pak.. i c

L = The fact is, kita bisa langsung komunikasi denganTuhan. Dan Tuhan itu tidak menghakimi manusia. Sepertihal MENIKAH itu. Kalau mau menikah is ok. Gak maumenikah juga ok. Menurut aku, Tuhan gak keberatan samaorang yang gak menikah. Menikah or gak menikah samasaja buat Tuhan. Tuhan is VERY TOLERANT. Tuhan itusangat berperi-Ketuhanan. 

Yang tidak berperi-Ketuhanan itu adalah mereka yangpunya self interest untuk memaksakan pengertian merekasendiri...  --Well, I have to sign out soon. Talk toyou later yah? Bye!

N = Yah Pak, thanks, nanti kita diskusi lagi, byebye,,,

makassar, Oktber 2007--buat yang single

The Corporate Mystic: Sukses berbisnis dengan hati

March 18th, 2007 by massepe

Penulis: Gay Hendricks dan Kate Ludeman
Tahun 2002, 280 halamn
Harga 34000
ISBN: 979-9452-46-5

Pertanyaan mengenai apakah bisnis itu “kejam”, saat ini tidak relevan lagi. Wacana yang tertanam di benak masyarakat bahwa bisnis sangat jauh dari nilai-nilai sosial, bisnis hanya berorientasi profit dan bisnis tidak dapat dikaitkan nilai-nilai moral bagi kalangan usahawan di Indonesia akan segera berakhir. Kejayaan korporasi di zaman Soehartoisme, memberi pelajaran bagi pebisnis bahwa dalam jangka panjang bisnis yang dijalankan jauh dari nilai-nilai etis atau moral (KKN) akan menjadi boomerang dan menghancurkan bisnisnya sendiri.

Buku yang saat ini menjadi bahan pembicaraan dikalangan pebisnis adalah buku karangan dua orang akademisi, Gay Hendricks dan Kate Ludeman yang berjudul “The Corporate Mystics” mengupas akan tersebut hal diatas.

Tidak hanya di Idonesia, resesi ekonomi yang oleh Daryati P Ahmad (Panjimas 2003) yang menuliskan resensi buku Corporate Mystics, pada awal athun 1990-an sering dijadikan contoh bahwa bisnis semata-mata tidak terus membicarakan akan bagaimana memaksimalkan keuntungan bagi pemegam sahan (shareholder). Terpenting harus memanusiakan, mengambil langkah-langkah yang harmonis dengan seluruh partisipan di lingkungan tempat perusahaan berada seperti karyawan, masyarakat, pemerintah, pelangan yang disebut sebagai stakeholder.

Setelah mewawancarai tak kurang dari 1.000 jam dengan ratusan pengusaha dan eksekutif perusahaan sukses di Amerika Serikat, kedua penulis ini meyimpulkan bahwa para pebisnis memiliki sifat sifat yang biasanya dimiliki oleh para mistikus. Mereka sangat menjaga etika dan menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual. Mereka melihat perusahaan sebagai perwujudan kolektif roh, mengandalkaan intiusinya dan tahu bagaimana cara menggunakan pada saat yang diperlukan. Mereka menghadirkan bukan hanya dompet melainkan juga hati dan jiwa mereka dalam bekerja yang disebut oleh penulis buku sebagai Mistikus Korporat.

Selanjutnya, para pebisnis yang diwawancarai itu disebut penulis buku memahami spritulitas yang dalam, mereka bekerja berasakan integritas, mengejar visinya dengan penuh semangat dan bergairah. Selain tiu mereka juga sebagai motivator yang sealu memacu potnesi orang-orang yang mereka temui. Mereka terjun ke dunia bisnis sebagai aktualisai kehendak kata hati dan jiwa disamping tentu untuk memenuhi kebutuhan ekonominya.

Dua penulis Gay Hendricks dan Kate, memaparkan 12 karakter pokok yanga da pada mistikus korporat. Diantaranya kejujuran, keadalian, pengenalan diri sendiri, fokus pada kontribusi, bekerja efisien, membangkitkan yang terbaik dalam diri sediri dan orang lain terbuka menerima perubahan, keseimbangan, disiplin dan visi jauh ke depan serta focus perhatian pada yang didepan mata.

Buku ini sangat baik dibaca oleh mahasiswa yang menggeluti bidang manajemen, dosen maupun para pelaku bisnis. Adanya buku ini memberi paradigma baru akan makin konvergennya konsep-konsep bisnis dengan konsep-konsep sosial bahkan konsep-konsep keagamaan. Bisnis yang sebelumnya (kita anggap) dapat secara lebih baik diatur oleh egoisme, kepentingan pribadi dan sikap-sikap asosial dan tidak etis, kini mulai terbukti lebih membutuhkan sifat-sifat sosial agar dapat menjadi lebih viable (bertahan hidup terus menerus).

Andi Nur Bau Massepe
Mahasiswa Magister Manajemen UGM
Jogjakarta. Desember 2003