Archive for March, 2005

Tangga lagu Ku

Friday, March 25th, 2005

My top music media library MP3
MAret 2005

Indonesia:
1.Java Jive -Sisa semalam 64
2.Audy - Temui Aku 62
3.Tofu - Cinta takkan pernah berakhir -52
4.Erwin G feat Ruth S - Andai Kau datang –> 49
5.Ada band - Manusia Bodoh -32
6.Chrisye feat Peterpan - Menunggumu -28
7.Peterpan - Mungkin Nanti - 18
8.Rossa -Aku bukan milikmu -18
9.PEPPI KAMADHATU- we are all alone- 15
10.Erwin G feat Audy - Bilakah kau pulang -12
11.Dewa - satu -10
12.Warna - Dalam hati saja-8

Barat:
1.Red Hot chili paper - Under the bridge -49
2.Simple Plan -welcome to my life -38
3.Simple Plan -Perfect - 34
4.Green Day- American idiot -33
5.Kenny G -Every time i close my eyes - 31
6.Randy Crowford - Knockin on heaven the doors -20
7.Bryan Adams - Heaven (accoustic) -18
8.Tamia - More- 11
9.Maroon 5 - This lOve - 11
10.Dave Koz -Cheng Fu -5

HARGA

Wednesday, March 23rd, 2005

(Sebuah catatan di awal tahun 2000)

Saya mempunyai sebuah cerita, yang diperoleh dari milis irfan seed tentang patung marmer dan lantai marmer. Suatu ketika, di museum yang sangat besar di sebuah kota. Di dalamnya terdapat beberapa patung marmer, dengan beralaskan lantai marmer yang indah. Patung itu, terpasang di ruang utama, dan menjadi perhatian setiap pengunjung yang datang kesana. Begitu banyak dan beraneka ragam pelancong yang datang baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri itu. Para pengunjung pun rata-rata kagum akan keindahan patung marmer itu.

Pada suatu malam, si lantai marmer, dimana dekat patung itu berada berkata, “Hei, Patung Marmer, ini sungguh tidak adil, sungguh tidak adil. Kenapa setiap pengunjung yang datang itu, hanya mengagumi mu, sementara mereka menginjakkan kakinya berdiri di atas tubuhku. Aku selalu terhina dengan ini semua, aku selalu diinjak-injak. Ini sungguh tidak adil !” Patung itu lalu menjawab, “Tenang sobatku lantai marmer. Apakah kamu masih ingat, kita sesungguhnya berasal dari gua yang sama? Bukankah kita sama-sama lahir dari tempat itu? Si Lantai Marmer kembali berseru, “Yeah, itulah yang membuatku tambah tidak adil. Kita lahir dari tempat yang sama, namun, kini, kita mendapat perlakuan yang berbeda. Tidak adil ! Dengan tenang, Patung itu berkata, “Lalu, apakah kamu juga masih ingat saat ada seorang pematung yang datang kepadamu, namun, kamu menolak itu semua? Lalu kamu tak mau untuk diukir oleh pahat-pahat itu? “Ya, tentu saja, aku masih ingat, ujar si Lantai, “Aku benci pria itu,bagaimana mungkin aku bisa menerimanya? Pahat-pahat itu sangat menyakitkan diriku.

“Betul, pematung itu tak bisa bekerja membuat karya, sebab, kamu menolak untuk diukir olehnya, ujar si Patung. Lantai itu bertanya lagi, “Lalu, mengapa demikian?.
Dengan tetap sabar Patung itu berkata, “Sobatku, saat pematung itu selesai denganmu, dan mulai mengukirku, aku yakin, suatu saat, aku akan tampil berbeda. Aku akan menjadi lebih baik suatu saat nanti. Aku juga tahu, kerja kerasnya akan membuatku tampil lebih indah dan berharga. Aku berubah melebihi keadaan ku sebagai batu marmer. Aku menerima semua alat yang digunakannya. Walaupun memang, semua pahat-pahat itu begitu menyakitkan tubuhku.

“Sobatku, ada sebuah harga untuk semuanya di dunia ini. Saat kamu menolak untuk menerima semua ujian itu, jangan salahkan orang lain jika mereka semua menginjak-injak tubuhmu. Si Lantai Marmer hanya terdiam merenungi kata-kata si patung itu.

Kisah diatas memberi makna mendalam bahwa dalam kehidupan ini memiliki “harga-harga” terhadap sesuatu yang akan kita peroleh kelak. Semuanya tidak ada yang gratis. Terkadang kita sering menghindar dari sayatan-sayatan alat pahat dari pengukir yang sebenarnya taklain adalah sebuah ujian bagi kita. Kita tidak sabaran untuk memperoleh sebuah hasil, tanpa kerja keras menghadapi semua ujian yang kita tempuh. Jangan lah muncul ke irian dan kesirikan kita takalan ada batu marmer lain yang karena kesabarannya, ketekunannya, dan usahanya untuk bertahan menghadapi proses kehidupan dari tangan sang pengukir. Begitu banyak air mata, karena menahan rasa sakit itu, begitu banyak waktu dan tenaga yang telah dicurahkannya. Dan dari “harga-harga” yang telah dihasilkan tadi kemudian terbentuk lah dia menjadi sebuah sosok lain yang lebih bagus dan indah dari “harga” asalnya sebongkah batu.

Dengan itu semua, akhirnya dia meninggalkan goa tempat yang pengap, gelap gulita, dan kini bermukin disebuah museum yang megah dan nyaman, dan disitu pulalah dia mendapat tempat terhormat dalam sebuah ruangan khusus kemudian orang-orangpun (pengunjung) mengaguminya. Tidak seperti nasib batu marmer yang lain yang cuman menjadi tempat pijakan orang-orang karena “harga” yang diperolehnya hanya menghasilkan dirinya menjadi lantai marmer yang letaknya dibawah. (sumber: internet)

Kalau saya analogikan keadaan bangsa kita ini, seperti kisah batu marmer tadi. Semenjak reformasi bergulir untuk sebuah proses (transformasi), telah begitu banyak penderitaan, kesakitan-kesakitan yang kita alami. Telah banyak pengorbanan entah itu materi, maupun non-materi, airmata dan darah, waktu dan tenaga dan lainnya. Kasus-kasus kemanusian, konfik antar etnis, kerusuhan massal, yang terjadi di level bawah, sampai ke disintegrasi bangsa, pertikaian antar elite politik yang tidak jelas ujung pangkalnya, kemudian timbul resesi ekonomi, inflasi yang sangat merugikan perekonomian kita dan rakyat pun menjadi menderita karena masalah-masalah tersebut. Kesemuanya itu menjadi “harga-harga” yang harus kita bayar. Sepertnya kita harus bersabar untuk menunggu tangan-tangan pengukir, yang sedang menguji bangsa ini apakah layak menjadi sebuah patung marmer yang berharga atau kah hanya sebuah lantai marmer yang untuk diletakkan dibagian bawah. Bangsa ini sedang dibentuk, cita-cita bersama adalah sebuah patung demokrasi yang indah. Semua elemen-elemen bangsa sedang menuju kesana. Tinggal bagaimana kita semua menyikapi permasalahan yang terjadi. Jangan sampai proses atau ujian ini hanya menjadikan kita sebagai bangsa yang kedudukannya seperti lantai marmer, yang bernasib untuk diinjak-injak oleh orang-orang karena “harga” kita hanya segitu.

Padahal kita ini berasal dari asal yang sama, sama seperti negara-negara adidaya lainnya yang katanya telah matang berdemokrasi itu. Akankah kita terus dibawah kapan kita menduduki tempat yang terhormat itu seperti patung maremr dalam sebuah museum.
Ada sebuah ungkapan permenungan yang patut kita renungi bersama, yaitu untuk membuat impian kita menjadi kenyataan, kita harus lah mau menukarkan dengan sebagian dari kehidupan kita.

Oleh:
Andi Nur Baumasepe M.
dipublikasikan di Majalah MOTIVATOR edisi 6 tahun 2000

internet dan buka-bukaan

Wednesday, March 23rd, 2005

Siap-kah dengan perubahan "buka-bukaan" yang ditawarkan oleh kemajuan Telekomunikasi dan Komunikasi (internet). Segala informasi mengenai seseorang bisa kita lacak dengan mudah lewat gerbang yang namanya internet.

Suatu hari iseng saja saya mengecek nama seorang caleg di daerah saya (makassar), di search engine google waktu itu musim pemilu ditahun 2004. Saya kaget ternyata ada. Saya telusuri ternyata artikel yang pernah dimuat suatu media massa, itupun media massa underground, tahun 1996an. Berita itu pun (soft copy) nya diposting disebuah mailig list dan website yang khusus membicarkan KKN keluarga Soeharto. Nah disitu diberitakan bahwa orang yang namanya saya ketik itu pernah terlibat suatu bisnis "haram" berkerja sama dengan cucu Soeharto (mantan Presiden Indonesia). Dan media massa mengecam bisnis pe-labelan minuman keras tersebut.

Dari pengalaman tadi, pikiran saya pun melayang ke masa kecil teringat pada guru agama yang menasehati bahwa sejak kecil sampai kita mati, setiap manusia senantiasa akan dipantau oleh dua malaikat, satu yang bertugas mencatat segala perbuatan baik kita dan satunya lagi mencatat perbuatan jelek sepanjang waktu hidup kita di dunia ini. Kasus search nama tadi membuat saya berpikir. Internet itu seperti yang dikatakan oleh guru agama saya itu. Begitu mudah saat ini informasi kita akses, termasuk hal-hal yang mengandung “dosa” atau “kebajikan” yang pernah kita perbuat. Jangan-jangan begitu kita online segala catatan-catatan perbuatan kita didunia telah tercatat dalam suatu data warehouse (gudang data) di ruang cyber yang namanya internet.

Pernahkah pembaca menonton film The Net yang dibintang Shandra Bullock, Bertutur seorang programer pintar difitnah dengan cara data-datanya dimanipulasi oleh si Jack programer yang jahat. Begitu kepolisian mengakses data basenya, maka gadis programer pintar itu akan bertertuliskan bahwa dia seorang narkotik, buron dan dikabarkan banyak catatan kriminalnya. Padahal gadis itu sebenarnya gadis biasa-biasanya saja, hobinya hanya mengutak-ngatik program komputer dan bertukar pengetahuan sesama programer lainnya diseluruh dunia. Itu salah satu contoh bahwa internet dapat menjadi "jahat" bagi diri kita. Semua hal tersebut diatas merupaka suatu contoh bahwa internet bisa mencabuli diri kita.

Catatan saya negara-negara maju seperti Amerika telah mengarah ke sana. Suatu system data yang terintegrasi. Data terintegrasi yang dimaksudkan disini adalah suatu pendataan profil perorangan maupun intitusi dapat dengan mudah ditelusuri oleh lembaga-lembaga yang memiliki otoritas dari negara bersangkutan. Seandainya kita sampai ke taraf dimana semua informasi mengenai diri kita dapat diketahui oleh orang lain. Segala track record kita dapat terlihat bila kita mengunjungi situs tertentu atau seperti google misalnya. Kita hidup seperti di telanjangi, privasi saat ini begitu tidak dapat lagi kita tutupi (tidak memiliki lagi suatu privasi), apabila kita menjadi publik figure, seperti artis, pejabat Negara, ataupun atlet terkenal dan sebagainya.

Kembali membicarakan apakah internet itu seperti malaikat pencatat kebaikan dan keburukan. Di akhir tahun 2004 ini, saya mencoba merefleksi diri untuk belajar bersikap, berpikir, dan belajar untuk menjadi bijaksana di tengah gelombang hidup yang serba berubah dan penuh kebingungan ini.

Pengalaman saya yang baru beberapa tahun (kurang lebih 6-7tahun) bergelut dengan dunia cyber (internet), memberi suatu makna berpikir dan belajar yang luar biasa. Internet merupakan dunia yang tidak dibatasin oleh dimensi-dimensi fisik dan waktu. Dalam pandangan sebagian orang kehidupan internet merupakan dunia yang tanpa batas, dunia tanpa aturan, dan dunia kebebasan. Dalam buku Filosofi Naif-nya Pak Onno W.Purbo, sempat dibahas, bahwa “tiada Tuhan di dunia cyber”. Betul, bahwa tahap awal mengenal Internet, saya begitu asyik menikmati “kebebasan” yang mungkin didunia nyata sangat terbatas dan tidak berlimpah seperti didunia maya. Mulai dari potongan tubuh artis-artis ngetop lokal maupun global, sampai gambar-gambar yang menyeramkan (mayat terpotong, tergilas kereta dan lainnya). Mengakses situs-stus manula, dewasa sampai anak-anak. Nimbrung di milis-milis dan terlibat diskusi, ikut memaki segala kebobrokan pemerintah atau suatu lembaga tanpa mengetahui detail masalahnya. Memang suatu keasyikan sendiri, melampiaskan unek-unek, melontarkan pendapat dan ide, dan ditanggapi oleh rekan netter lain, kemudian setelah itu berganti topik yang lebih asyik.

Tindakan yang tidak sopan, yang kasar, asusila, dan tidak pantas (etis) bila dilakukan di dunia nyata menjadi sesuatu yang lumrah di internet. Tuntutan hukum bagi yang berbuat asusila di ruang publik sangat jarang di dapatkan, malah penegak hukum pun kadang di tertawakan bila mulai mencoba menggunakan tools yang bernama hukum itu di ruang publik (internet). Fenomena yang saya renungkan adalah sebuah pergeseran pribadi diri kita yang “terbiasa” hidup didunia nyata, kini masuk pada suatu ruang publik yang maya (public cyber space).

Lain ladang lain belalang. Bila kita memasuki ruang publik yang maya, suka tidak suka kita akan mengalami proses adaptasi baru, dengan “lingkungan sosial” yang baru, para riset dunia cyber menyebutnya network society. Lingkungan baru yang menurut padangan saya adalah suatu lingkungan sosial yang menawarkan keterbukaan, bebas berpendapat, siap dihujat, kebanjiran informasi tanpa peduli itu bermoral atau tidak, etis atau tidak. Kita harus siap mendapat suatu ke”cabulan” atas suatu kebebasan itu.

Akhirnya, kembali pada diri kita. Pembelajaran demi pembelajaran akan menerpa kita dalam proses kematangan sosila baru itu. Kita “harus belajar” kalau tidak mau terjerembab kedalam “lubang” keterbukaan yang dalam hati nurani saya terdalam menganggap itu sebagai suatu yang tidak wajar jauh dari nilai kebenaran. Belajar tuk lebih bijaksana.

Penulis:
Andi Nur Baumassepe
pengamat maslah TI, moderator http://groups.yahoo.com/group/e_bizzclub
dedikasikan tuk kemajuan e-business Indonesia
===Copyright, ngayogyakarto desember 2004

Memoar Organisasi UKMJ

Wednesday, March 23rd, 2005

Tulisan kali ini sifatnya romatisme belaka, sekedar ingin refleksi (baca: merenung dan mengambil hikmah) sambil ditemani dengan lagu-lagu dari Audy. Kenapa Audy, karena musiknya nge-rock, lembut, dan agak sok-melankoli gitu, ah gue banget…!! ede..de..(mudah-mudahan tidak talekang ji –> jowo ne ora norak:D)

Bagi teman-teman jujur saja, apakah berorganisasi itu nyaman dan mengasyikkan? Saya ingin jawaban yang jujur! Saya yakin sebagian dari kita bahwa organisasi itu awalnya saja yang enak setelah jadi pengurus dan memikul tanggung jawab pasti terbersik perasaan bahwa untuk apa sih ngurus organisasi ini, mana pengurus dan anggotanya pada seolah-olah “tidak peduli”. Tanggung jawab? Mang aku harus bertanggung jawab sama siapa? Sama pihak kampus, Pak Djoko mana dia jarang di kampus, Pak Wing? Wah makluk ini apa lagi, yang di otaknya cuman teknologi informasi melulu. Pak efer? Sapa sich lo..?

Sama alumni? Alumni pada kemana? Sibuk dengan kerjaannya dan keluarganya. Di AD/ART kan alumi bukan pengurus. Dan gak jelas wewenang dan perannya bagi organisasi. Jadi apa dong.

Saya coba bernostalgia takala mengambil “keputusan” berkecimpung dengan serius di gmh104. Motivasi awal yang paling membekas bagi ku adalah takala di calonkan oleh teman-teman anggota, yang waktu itu angkatan ke-4, ya si faisal (penghormatan buat dia namanya aku tulis paling depan, soalnya kita sadar banyak dosa-dosa kita karena seringnya “menindas” mu bro), si Muliadi Palesangi, Gaib, Eko, Ickhsan, Nita, Nurul, Hari, Ronny….. Dan “sial” nya takala ternyata aku yang terpilih menjadi Ketua Umum periode 1999/2000. Mau menolak, takut membuat kecewa. “Suara rakyat adalah suara Tuhan”.

Dari alumni, mas Riko juga beri argumen, kalau kita biarkan mereka yang meng-organisir UKMJ di masa depan, angkatan ke-4 itu ibarat buah yang masih belum siap dipanen, dikarbit jadi hasilnya pasti asal-asalan. Sehingga butuh sosok yang lebih dewasa, lebih punya pengalaman, dan mengerti running organisasi. Lagian,..tambah mas Riko, organisasi ini sudah susah-susah kita bangkitkan kembali setelah “mati suri’ di tahun 1998, masa kita ingin melihatnya redup kembali (kurang lebih seperti itu kalimatnya cuman saya modifikasi dikitJ ).

Ok, saya pun terima “tantangan” ini, walau dalam hati sudah ingin gak terlibat lagi di kepengurusan, maklum saja saya aktif tahun 1997, begitu awal masuk STIEYKPN, dan trus vacuum, nah pas pertengahan tahun 1998 mulai bangkit lagi setelah ORBA dan Soehartonya turun, barulah UKMJ kembali ke “Khittah”-nya menjadi organisasi murni kemahasiswaan bukan sebuah organisasi pergerakan politik.

Dalam pergulatan diri selama menjadi pengurus, saya sadari sebenar masalah-masalah yang dihadapi dalam organisasi sebenarnya sebuah latihan bagiku dalam bagaimana memanajemin dan menjadi leader di suatu organisasi. Mungkin kalimat yang paling cocok adalah di UKMJ saya pintu gerbang mulai belajar menemukan kesejatian diri, dimana kesejatian diri itu meliputi pembelajaran saya sebagai manusia baik sisi individu, dan sosial, intelektual, emosional dan spritual. Sisi individu berarti saya berlahan-lahan mulai mengenal diri saya sendiri. Kata filosuf untuk mengenal Tuhan kita harus mengenal diri kita lebih dulu. Sisi sosial, saya punya banyak kawan, sahabat, guru-guru informal, dan musuh. Dari mereka lah saya membangun jaringan (networking) dan silaturahmi yang kelak dimasa depan saya yakin akan bermanfaat dalam menunjang karir dan sukses saya. Aspek emosional, saya belajar untuk lebih peka dan berempati kepada orang-orang lain. Dan sisi spritual, saya belajar, bahwa Tuhan akan selalu bersama kita disaat-saat apapun apalagi takala lagi susah.

Life is Journey. Kehidupan adalah sebuah perjalanan, sebagaimana juga kalimat yang sering kita baca bahwa Succes is Journey. Dari permenungan saya (refleksi) setidaknya ada 4 hal yang menjadi nilai pembelajaran (the four learning value) yang akan saya uraikan dibawah ini.

1. Untuk Mewujudkan cita-cita kita harus berani menukarkan dengan pengorbanan. Saya belajar cita-cita beda dengan impian belaka. Omong kosong belaka kalau kita mengharapkan perubahaan tapi kita hanya berleha-leha di kasur sambil tidur-tiduran. Di UKMJ, semuanya menginginkan perubahaan, berkoar-koar dengan kata-kata mutiara yang baik, tapi tak ada pun suatu aksi untuk mewujudkannya. Dari situ saya mulai belajar, bahwa manusia yang sukses harus berani mengambil resiko untuk keluar dari zona kenyamanan untuk mewujudkan cita-citanya itu. Kenapa saya katakan resiko karena resiko merupakan sesuatu yang berarti ada sebuah konsekuensi dari upaya kita, bisa berbentuk pengorbanan waktu, materi, fisik, dan mental. Semuanya tentu sudah dirasakan oleh kawan-kawan pengurus yang berkomitmen tinggi. Ungkapan dari Frank Harvey, begitu mendalam, yaiut; “kadang untuk membuat impian menjadi kenaytaan, kita harus mau menukarkannya dengan sebagian dari kehidupan kita”.

2. Tidak membenci masalah. Kini, saya belajar bahwa masalah itu adalah karunia. Saya yakin Tuhan tidak akan memberi suatu masalah (cobaan) diluar kesanggupan umat-Nya. Masalah membuat kita naik kelas, meminjam kata-kata dari Gede prama. Masalah-masalah menjadikan kita lebih tahan banting, dan terampil bila menghadapi persoalan-persoalan berikutnya. Mungkin bagi sebagian besar anak-anak STIE YKPN, terlahir dan tumbuh dalam keluarga yang mampu dan berada. Resistensi (daya tahan) terhadap problem-problem hidup, akan berpengaruh terhadap budaya organisasi. Tidak semua anggota bisa memaknai persoalan-persoalan hidup yang mereka hadapi. Dari sini saya belajar untuk memisahkan mana masalah organisasi dan mana masalah individu. Mana masalah yang sebenarnya tidak harus dipikirkan terlalu berat dan dimasalah-masalahkan. Intinya management problem, ya… saya bahagia karena dari pengalaman organisasi kini saya berubah perspektif terhadap masalah-masalah yang dihadapi. Dulu saya menganggap masalah yang terjadi adalah sebuah kutukan atau sanksi dari Tuhan (yang kadang saya geli juga dengan pikiran ku seperti itu), tapi kini saya berpikir masalah (problem) adalah masalah, suatu kata benda, yang intinya kita harus HADAPI dan mencari SOLUSI, bukan menjadi beban dalam pikiran. Betapa berat hidup kalau setiap masalah kita simpan dalam pikiran dan kita hanya bisa mengutuk tanpa bisa mencari pelajaran dan solusi dari semua itu.

3. Hal ini yang merupakan pelajaran tersulit, Berlatih dalam mengambil pilihan (choice) dan keputusan (decision). Sampai saat ini pun saya masih belajar dalam mengambil keputusan. (decision making). Sulit kah? Ya, sulit bagi yang belum biasa dan tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Hidup ini selalu dihadapkan dua hal yakni pilihan dan keputusan. Kita harus memilih yang mana, kanan atau kiri, putih, hitam atau abu-abu. Setelah kita memilih keputusan pun harus kita buat dan laksanakan. Awalnya saya begitu sulit, membuat keputusan-keputusan organisasi, mempertimbangkan rasa tidak enak dengan kawan-kawan, rasa bersalah, dan berbagai macam nilai-nilai lainnya. Takala, membuat keputusan untuk bekerja sama dengan detik.com dan AJI untuk penandatangan MoU (memorandum of understanding) dalam menggarap program kanal kampus online. Beberapa rekan sempat mempertentangkan, Apakah UKMJ siap kerja sama, melihat system kerja organisasi masih amburadul, bagaimana mungkin, mereka adalah lembaga yang professional. Persma kita masih jauh ketinggalan dari Balairung, Ekspresi, Bulaksumur Pos, Edents, Suara USU dan lainnya. Mereka (persma lain) sudah lebih pengalaman dan lama kita baru 3 tahun. Saya memahami kondisi teman-teman UKMJ saat ini lagi tidak percaya diri. Tapi sebagai penangung jawab organisasi harus membuat pilihan dan keputusan, intusi saya pun mengatakan UKMJ harus mengambil bagian dari proyek ini. Kita tidak boleh ketinggalan, belum tentu mereka lebih bagus dari kita. Justru saya berpikir dengan kerja sama dengan pihak luar, akan menjadi cambuk bagi pengurus untuk mengubah diri lebih baik dan saya sendiri khususnya. Tentu kita malu, sudah berani kerjasama tetapi kerja kita tidak bagus. Saya pun yakin, untuk menjadi lebih baik, kita harus keluar, out of our box, keluar dari tempurung kita. Soalnya saat itu kita sudah merasa “bangga” dengan posisi sebagai organisasi yang “terhebat” di kampus adalah hal yang hebat kalau kita bisa bekerjasama dengan pihak yang lebih hebat dari kita. Dan, akhirnya saya puas dan senang denga pilihan tersebut. UKMJ pun menuai beberapa kebanggan dan prestasi walaupun itu masih ecek-ecek.

4. Kita masing-masing lahir didunia ini dengan ciri-ciri bawaan kita sendiri. Setiap manusia itu unik. Pengalaman selama memimpin organisasi, mengajarkan buat diriku bahwa setiap manusia itu unik, sehingga pendekatan pun berbeda-beda tidak sam dengan yang lain. Untungnya- aku sudah pernah membaca buku Personality Plus-nya Florence Littaeur. (sebaiknya cah UKMJ membaca buku tersebut dan mengamalkannya). Dari situ saya melakukan pembenaran terhadap tipe-tipe karakter manusia dari ajaran buku itu. Sehingga saya pun tidak heran mengapa anggota ada yang tiba-tiba motivasinya menurun drastis padahal baru bebrapa waktu sebelumnya dia sangat antusias. Tidak heran dengan sikap anggota yang begitu dominant, sangat ingin menguasai, dan ide-nya lah yang paling benar, disamping itu juga saya menyaksikan watak anggota yang hanya sebagai follower (pengikut) yang setia dan patuh. Tidak heran bila dalam rapat, ada yang sangat tidak betah untuk duduk berjam-jam sementara ada yang sangat serius dan detal dengan setiap topik yang dibahas. Lainnya cuman setuju dan setuju. Saya ingat dibuku Dale Carnegie, judulnya Bagaimana mendari kawan dan mempengaruhi orang lain. Bahwa salah satu kesuksesan para pemimpin, apakah itu pebisnis, partai politik, dan pemimpin lainnya adalah kepiawaian mereka dalam menangani manusia-manusia. Mmm..sungguh pengalaman yang sangat mengesankan dalam proses pembelajaran ku lebih lanjut.

Demikian sedikit berbagi pedapat. Mungkin tidak semua disetujui oleh teman-teman. Tapi itulah pendapat. Sangat menyenangkan bisa menuangkan dalam sebuah tulisan.

Andi noer BM,
fabruary 2005

Hidup tuh bergerak…!!!

Wednesday, March 23rd, 2005

The moving finger writes; and having writ, Moves on: nor all piety no wit Shall lure it back to cancel half time a line Nor all thy tears wash out a world of it (omar kahyyam) 1048-122.. Indra gunawan “menulusuri buku kehidupan”-p. 8 diartikan; tangan kehidupan itu senantiasa bergerak, membuat goresan segala yang pernah diperbuatnya. Ia mengukir dan memahat semua yang sudah dilakukan Semua kebajikan, kesalehan ,ataupun sesal air mata tak akan membatalkan jejak yang pernah di torehnya.

SEBENARNYA tulisan ini hendak dijadikan sebagai kado di hari valentine, hari kasih sayang, saya coba memberi kado bagi diri sendiri,namun kesibukanku baru sebulan saya akhirnya menyelesaikan tulisan ini.

Tak terasa telah 26 tahun saya hidup dimuka bumi ini, yang dibulan april tanggal 28 akan berubah menjadi 27 tahun. Entah berapa tahun lagi kedepan, (tentu ini rahasia MU Tuhan).

Bersyukur! karena saat ini saya berada di jogja, bagaimana seandainya saya berada di Aceh, mungkin nasib ku akan berkata lain, dengan adanya peristiwa gelombang Tsunami tanggal 26 desember 2004 lalu disana.

Sepenggal kalimat sebagai pembuka tulisan ini sangat berarti bagiku. Hidup kita terus bergerak, tidaklah mungkin mohon ijin pada Tuhan, hidup kita di “pause” dulu. Tidak bisa tuk me-rewind (mengulang) atau meng-previous (mempercepat).

Semua telah berjalan dengan track nya tanpa ada zat yang bisa mengutak-ngatik. Saya coba ingat dan merenung apa saja yang sudah terjalani dalam kehidupan ku sepanjang ini.

Sejak SMP (Islam Athirah dari tahun 1990-1993) dan SMA (1993-1996) saya ternyata selalu aktif dalam kegiatan organisasi di sekolah. Iya, sejak di SD pun saya pernah mengikuti cerdas-cermat P4 mewakili sekolah.

Kemudian saya ingat kegiatan pramuka dan mewakili SD (SD Kristen) untuk upacara bendera. Mmm,..sejak kecil saya sangat suka kegiatan yang berhubugan dengan banyak orang ya rupanya. Ikut olah raga beladiri, Karate sejak kelas dua dan tidak aktif sewaktu masuk SMP, sabuk adalah terakhir coklat.

Saya ingat sekali, Ayahanda menyuruhku tuk beladiri, karena menurutnya, siapa tau saya kelak merantau ke daerah orang saya pun punya bekal pembelaan diri. (ayahanda tahu kali kalau anaknya ini kelak kan merantau ke Jogja).

Saya pun sedikit berbangga, karena dengan ikut beladiri itu teman-teman SD pun “segan” karena saya anak Lemkari. Kembali di SMP, saya begitu aktif di OSIS, dengan jabatan wakil ketua.

Kemudian di SMA Negeri 1 Makassar diangkat menjadi wakil sekertaris. Dunia organisasi merupakan dunia ku sejak kecil. Sewaktu SMP pun saya pernah mengikuti lomba minat baca tingkat provinsi SULSEL.

Mungkin momen ini yang mengubah kebiasan hidupku, sehingga detik ini saya gemar membaca. Dari lomba kecil itu, (atas prakarsa dan dorongan seorang guru SMP, pak Rahman untuk ikut lomba itu) saya belajar bahwa usaha dan kerja keras pasti akan membuahkan hasil.

Masih dapat saya bayangkan lelahnya saya dua minggu untuk belajar mengerjakan resensi sebuah buku. Judulnya Virus komputer, apa dan bagaimana, terbit tahun 1992. Bayangkan waktu itu komputer masih langkah dan saya belum banyak tahu tentang komputer, saya disuruh baca buku teknik-populer seperti itu.

Tapi anehnya saya toh dapat membuat resensi sebanyak 250 kata atau dua halaman kertas kuarto dengan spasi satu sentengah. Saya tidak ingat persis bagaimana cara saya buat resensi itu, yang jelas saya baca, terus mencatat hal-hal penting dan jadilah sebuah resensi sambil membaca buku bagaimana membuat sebuah resensi.

Sesuatu hal yang kita kerjakan dengan sebaik mungkin, penuh harapan dan doa tentu akan memberi suatu kesuksesan (prestasi).

Ternyata, saya mendapat juara harapan satu (plus uang 20 ribu rupiah yang saya tabung di bank BII). Erwin teman SMP ku juga dapat juara tiga. Mulanya saya jadi kecewa, saya merasa dia tidak lebih baik dari saya.

Belajar menerima sesuatu “ketidak adilan”, Saya menghargai usaha ku, apalagi semenjak setelah saya tahu kalau dia membuat resensi itu dengan bantuan kakaknya. Akhirnya saya berbangga hati, resensi itu saya buat, saya baca dan tulis, kemudian saya ketik sendiri dengan mesin ketik tanpa bantuan siapa. (waktu itu komputer belum diperbolehkan karena masih langkah dan mewah bagi peserta hanya boleh pakai mesin tik, walau saya sudah bisa meng-operasikan komputer sebatas game dig-dug dan packman punya paman ku sejak tahun 1988 sedikit-sedikit wordstar 3.1).

Kemudian masa SMA ku, tidak jauh dari organisasi lagi, selain OSIS, saya pun aktif di Palang Merah Remaja (PMR) dan Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR) dan terakhir menjadi pengurus Mushallah IRMUDAM.

Dipikir-pikir gila juga, saya mau sekolah atau berorganisasi. Tidak tanggung-tanggung diorganisasi itu semua saya menjabat pula sebagai pengurus. Akhirnya kadang dapat sindiran dari teman kalau saya itu anak organisasi-organisasi, dari pagi sampai malam aktifitasnya di sekolah.

Itupun kadang pake acara menginap di mushallah kalau ada acara OSIS bersama teman-teman, seperti Niko, Ical naim, Irwan suaib, Budi WS, Adi setan gunung, Amran “tembok”, Hasbi “humairah”, dan teman lainnya. Konsekuensi dari aktifitas saya di organisasi, nilai sekolah (akademik) tidak begitu bagus.

Di kelas dua, peringkat saya 29 dari 35 siswa dalam satu kelas. Anjlokkk!! Padahal sewaktu kelas satu, sempat diperingkat tujuh. Mungkin waktu itu belum terlalu aktif di lingkungan organisasi, paling ikut menjadi simpatisan diacara keagaman di mushallah.

Dan saya sadar teman bergaul (lingkungan) itu mempengaruhi setiap motivasi tindakan dan rencana kita. Di Bukunya David J.Schawartz, the magic of thinking big, ada kutipan “Anda adalah produk lingkungan Anda”.

Awal sekolah saya memiliki lingkungan gaul (baca teman-teman) yang berorientasi pada studi. Tirta Bastoni, termasuk anak yang juara kelas, memberi motivasi saya untuk belajar. Kemudian ada Happy, Indrawaty, Defri Sanusi dan Alexander R.Caumen, yang selalu menjadi “saingan” dalam prestasi ulangan dikelas memotivasi untuk sukses dalam kelas.

Hidup adalah sebuah dari konsekuensi atas pilihan kita. Disaat itu saya menghadapi dilema, antara kegiatan sekolah dan prestasi belajar. Tentu sangat sulit untuk beriringan. Saya sadar waktu adalah anugerah dari Ilahi yang sama bagi semua makhluknya.

Kita hanya punya 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu dan seterusnya. Kita memilih mau digunakan untuk apa? Ternyata ditahun kedua sekolah di bawakaraeng 53 itu, saya memilih untuk aktif diorganisasi, tidak punya cewek (walau bukan berarti tidak pernah suka ma someone hehe…ada deh.),

tidak melewatkan waktu untuk berkumpul tanpa tujuan bersama teman-teman sekolah yang lain, misalnya nongkrong di diskotik, atau sekedar ngumpul cerita kosong. Dengan memilih orientasi keorganisasian dan kepemimpinan itu, saya belajar mengadakan suatu kegiatan, membuat rencana, mengelola sumber daya waktu, manusia dan sumber-sumber lainnya. Lebih sering berinterkasi dengan banyak orang-orang. Akhirnya saya belajar yang namanya konflik, pertengkaran antara rekan organisasi.

Dari situ juga saya belajar suatu keahlian sosial dan interpersonal seperti saling berempati, saling membantu, saling menghormati. Saya begitu menikmati dan mensyukuri bergaul dan berinteraksi dengan teman-teman sekolah yang berbeda latar belakang budaya, ekonomi, pola pikir serta bakat minat. Saya menyadari bahwa Tuhan menciptakan setiap manusia itu dengan keunikan masing-masing. Hasil dari semua itu membawa pemahaman bahwa setiap manusia memilik perbedaan dan nilai-nilai (value) masing-masing yang mereka peroleh sejak kecil, baik dari lingkungan keluarga, masyarakat, Agama serta pengetahuan masing-masing.

Setiap orang memilki persepsi masing-masing terhadap suatu masalah, tentu akan terjadi beda pendapat dan konflik. Agar kita berdamai dengan perbedaan keadaan itu, dengarkan lah Stephen Covey, tulisnya Apabila saya ingin mengubah keadaan saya harus mengubah diri saya lebih dahulu dan mengubah diri saya secara efektif saya harus lebih dahulu mengubah persepsi saya. (Hernowo, Mengikat Makna, kaifa, 2001)

waktu pun bergulir…. ciee..

Kemudian saya merantau di Jogja ditahun 1996,dua kali tidak diterima UMPTN tahun 1997 saya akhirnya memutuskan kuliah di STIE YKPN.

Awal tahun kuliah saya menceburkan diri di aktivitas pergerakan mahasiswa. Mas Andree Komunis (sapaannya), memperkenalkan pemikiran-pemikiran kiri, seperti Karl Marx itu.

Pengalaman yang cukup berkesan adalah ikut mengorganisir demostrasi ditingkatan kampus. Memobilisasi massa, sehingga mahasiswa kampus ku “mau” diajak turun kejalan bersatu padu dengan seluruh masyarakat jogja untuk berikrar reformasi di alun-alun utara bersama Sri Sultan Hamengkubuwono X, yang ujung-ujungnya melengserkan Soeharto itu.

Tapi satu tahun sebelum masuk kuliah, saya sempat menganggur (ikut bimbel dan kursus sana-sini). Masa itu cukup memberi makna dan tidak enak namanya nganggur. Masa saya banyak membaca, di masa itu pun saya berkenalan dengan “guru-guru” informal yang menularkan semangat spiritual dan intelektual. Ka Syafwan lewat yayasan rausyan Fikr. Pendekatan keagamaan lewat ideologi Syi’ah, saya diajak mengembara untuk menemukan Tuhan lewat pendekatan CINTA. Keberagaman bukan dimaknai sebagai suatu dua sisi halal dan haram saja. Bukan suatu dogma yang harus dipaksakan, tetapi suatu perjalan mencari Tuhan dengan nilai-nilai yang lebih universal dan rasional menurutku.

Dari situ saya berkenalan dengan pemikiran-pemikiran Ali bin Abi Thalib RA, Murthaddha Muttahari, Alisyariati. Kang Jalal, Nurcholis Madjid. Walaupun saya akui tidak sampai intensif, tapi mempengaruhi pola pikir ku yang dulu hanya mengganggap bahwa ujung dari hidup ini adalah syurga dan neraka atau halal dan haram.

Sewaktu SMA sebenarnya saya sudah dikenalkan dengan kegiatan dikusi dan menulis oleh senior alumni smansa di kegiatan IRMUDAM, seperti kak Alfian, dengan pendekatan bahan bacaan seperti Emha Ainun Najib, Toto Tasmara, dan beberapa buku-buku pencerahan yang terbitan MIZAN, saya diajak untuk berpikir kritis dan memulai suatu pencarian kebenaran.

Saya ingat ditahun awal 90-an buku MIZAN sempat diharamkan. Karena kontroversial, MIZAN dianggap penerbit yang keluar dari pakem keagamaan yang masih didominasi “ekslusifitas” kaum tertentu.

Karena kontroversi, mendorong saya tertarik mendalami buku-buku “pencerahan tersebut”. Kembali lagi masa mahasiswa, Jogjakarta nampaknya memang sebuah kota pertemuan dalam hidup ku (baca jodoh).

Mungkin apabila waktu itu saya memutuskan balik ke kampung halaman, (karena tak satu pun PTS dan PTN yang menerima saya sebagai mahasiswanya ditahun 1996), jalan hidupku takkan begini. Saya tetap bertahan, dan yakin bahwa dengan “hijrah” (berpindah dari kota kelahiranku) akan memberi suatu pengalaman baru dan “cerita” baru dalam hidup.

Begitulah sampai saya pun terlibat dalam dunia jurnalistik. Dunia pers (mahasiswa) yang memberiku kesempatan untuk lebih dekat dengan dunia baca dan tulis. Dari kegiatan baca dan tulis itu terkadang banyak mengubah perspektif ku dan pandangan ku terhadap hal-hal yang ada didunia ini. Tidak sebatas hitam dan putih lagi. Saya teringat kata Francis Bacon "Membaca membuat seseorang manusia menjadi berisi, diskusi membuatnya menjadi siap dan menulis menjadi jelas dan pasti".

Di dunia pers kampus, saya belajar kembali menangani organisasi dan bersinggungan dengan idealisme-idealisme perlawanan terhadap suatu kemapanan. Saya lebih tertarik kali ini menuliskan pembelajaran dari dunia juralistik yang menurut ku suatu hal yang baru.

Dimana saya belajar menilai antara suatu fakta dan opini. Saya sadar terkadang kita membaca berita, kita lebih sering mempercayai suatu opini pendapat para ahli, tanpa mempercayai fakta yang terjadi sebenarnya.

Fakta adalah kondisi riil yang terjadi disuatu masyarakat, sedangkan opini sebatas pendapat dari seseorang yang mungkin benar dan salah menilai suatu keadaan. Dunia tulis menulis membawaku kedalam dialog batin terus menerus, sehingga melatih ku untuk tidak lekas meng-amini atau mengambil kesimpulan sempit terhadap segala sesuatu yang terjadi. Sikap kritis ku mulai terbangun, berani mempunyai pendapat sendiri dan kerangka berpikir sendiri.

Dengan banyak membaca, berdiskusi, dan mendengarkan pendapat orang lain, memberiku banyak pemahaman-pemahaman baru, walau saya sadar itu kadnag membuat ku pusing dan bigung.

Akhir tulisan ini sebenarnya adalah sebuah refleksi, permenungan yang panjang. Permenungan dan pergulatan yang hidup dijiwa dan pikiran ku, yang akan berhenti takala ruh tidak bersama tubuh ku lagi. Hidup adalah sebuah perjalanan. Saya yakin bahwa kitalah yang menentukan baik dan buruknya perjalan itu, setengahnya ada campur tangan Ilahi.

Hidup kita pasti akan bergerak, Hidup memang harus dijalani, tidak untuk menunggu keajaiban dan keberuntungan.

Hidup bagi ku adalah sebuah perjalan panjang menuju satu yakni menuju ke TUHAN dengan jalan kita masing-masing. Selamat menempuh sisa hidup kita.!

Andi Nur Bau Massepe

alias Mas pepeng

Maret 05. Jogja (in my blue room, karena saya baru saja mengecet wana biru kamar kos ku)

ANtara Takdir dan Usaha

Wednesday, March 23rd, 2005

Kehidupan sukses sesungguhnya dijalani melalui pemahaman dan kesetian menelusuri
lika-liku kehidupan kita sendiri bukan dari pengejaran mimpi-mimpi atau harapan-harapan orang lain.(Ching Ning Chu)

Malam ini saya iseng aja, membongkar buku-buku yang masih tetap rapi di rak kamar ku.
Tanpa sengaja buku Ching Ning Chu, yan berjudul Thick Face black heart ku tarik
dari posisinya. Sekedar informasi saja Ching Ning Chu itu seorang wanita, yang
kalo boleh saya juluki superwoman dari Asia. Beliau merupakan pembicara dan konsultan
yang cukup disegani di Amerika sana. Beliau digelari sebagai pakar
dalam strategi bisnis dan teknik negoisasi dengan sentunan falsafah Timurnya.
Perusahaan yang sudah pernah menjadi kliennya seperti IBM, Boeing, P&G, Toyota Corporation, Ernst&Young, dan masih banyak lagi.

Walupun besar di Amerika, dia bukan tipe kacang lupa akan kulitnya. Karya-karyanya
malah digemari oleh pebisnis dunia, karena buku-bukunya seperti Asian Mind Game yang berisis pola pikir yang harus diketahui oleg pebisnis internasional akan budaya bisnis orang asia khususnya budaya cina.

Simak apa yang dituliskan mengenai takdir hidup. Pertanyaan yang sering muncul dalam diri kita masing-masing “apakah kehidupan ini memang takdir atau hasil upaya dari kita sendiri?”.

Dalam alam pikiran tokoh kita ini, mengatakan bahwa takdir memang ada bagi setiap insan yang lahir dibumi ini, takdir itu bukan lah suatu kebetulan. Sama seperti logika bukannya kebetulan saya lahir di kota makassar, dibesarkan dalam keluargaku sekarang, menjalani pendidikanku saat ini, pengalaman-pengalaman yang terjadi dalam hidup ini. Menurutnya, kita masing-masing dilahirkan dalam lingkungan tertentu untuk mengisi takdir kita yang telah ditentukan oleh Nya. Tapi Ching NIng Chu menggaris bawahi bahwa harus ada upaya kerja keras, tekad yang pantang menyerah. Kalau belum dicoba sampai tuntas, bagaimana dapat kita ketahui apa takdir kita. Dia lebih mementingkan motivasi untuk ketahanan, keuletan, keberanian dan kesetiakawanan. Katanya, sekalipun Anda sudah tahu takdir Anda sekalipun, ia hanya bisa jadi berarti sesuai seberapa jauh upaya yang ANda telah curahkan untuk membuatnya menjadi kenyataan. Takdir dan upaya sendiri merupakan dua roda dari gerobak yang sama.

Kemudian saya pun berpikir, bagaimana kita mengetahui takdir kita dimasa depan seperti apa? Sementara logikanya kita tidak pernah hidup dimasa depan? Kita hanya mampu merasakan dengan panca indera dan pengalaman diri kita dimasa lampau? Tapi apakah ada diantara kita yang dapat merasakan bagaimana keadaan dan takdir hidup kita dimasa depan? Bagaimana rumah kita, bagaimana anak-anak kita, kehidupan seperti apa yang kita nikmati, apakah berlimpahan materi atau terjerat dengan kemiskinan.

Saat ini banyak pakar seperti Athony Robbin berbicara mengenai kekuatan dari pikiran. Bahwa pada dasarnya manusia memiliki kekuatan bawah sadar yang bisa menggerakkan kita meraih sesuatu yang kita impikan? Tekniknya dalam training-training yg diadakan banyak perusahan Multi level Marketing, dengan membuat daftar impian, dan menuliskannya sedetail mungkin hal-hal yang betul-betul kita impikan.

Buku Athony Robbins, dalam unlimited power, pun memaparkan bahwa untuk sukses. (definis sukses menurut cherlie)
kita harus memulai dari akhir dimana kita berada. Kemudian mengurakaian kebelakang (mundur. Nah teknik ini di “yakini” mampu membawa kita kepada yang namanya kesuksesan itu. Tentutidak berhenti hanya sampai dengan penggambaran sukses dalam pikiran bawah sadar kita, anthony juga menekankan perlunya daya upaya untuk meraih hal tersebut.

Begitulah kira-kira pergulatan bahwa definisi takdir itu kita jalani saja seperti air, atau takdir
itu kita mulai dari penciptaan karena proses kekuatan pikiran (otak) kita.
Saya sampe saat ini masih mecari jawabannya. Tetapi yang jelas yang saya yakini saat ini,masing-masing manusia punya takdir sendiri untuk sukses, kita harus berusaha berjuang dan berdoa untuk memenuhi takdir kita masing-masing.

Andi Nur BM

desember 2004, my blue rooms