a child called “it”
Friday, October 14th, 2005Mungkin pembaca telah lebih dahulu pernah membaca judul buku diatas. Dicetak dan diterjemahkan oleh penerbit Gramedia, tahun 2001 lalu. Ditulis oleh David Pelzer, di tahun 1995 di Amerika sana.
Sebenarnya sudah lama saya ingin membeli buku tersebut, persoalan mengenai perkembangan dan pengembangan pribadi anak-anak selalu menjadi tema menarik buat saya.
Tapi baru diawal tahun 2005 ini saya menyempatkan meminjamnya disebuah penyewaan buku di pogung baru tempat tinggal saya di jogja.
Child abuse, sebuah terminologi yang menjadi tema sentral dalam buku itu. Kurang lebih saya mengartikannya, segala sesuatu perbuatan –yang boleh dikatakan sebagai tindak kriminal terhadap anak-anak diusia dibawah umur, berupa bentuk kekerasan, intimidasi fisik dan mental yang umumnya dilakukan oleh orang dewasa dalam hal ini orang tua mereka sendiri dimana perlakuan itu berdampak buruk terhadap perkembangan kepribadian si anak.
David Plezer adalah salah satu dari ribuan korban child abuse yang terjadi di Amerika, Bagaiamana di Indonesia?
Tanpa melakukan riset pun saya yakin hal serupa terjadi disini. Mungkin dalam model dan cara yang tidak jauh beda seperti dialami oleh ribuan anak-anak korban child abuse di negara maju seperti di Amerika sana. Namun sayang negara kita masih sibuk dengan urusan KKN, dan politik semacamnya demi keuntungan segelintir dan pemenuhan ambisi orang-orang tertentu.
David menuliskan, pada setiap saat seorang dewasa yang pernah menjadi korban penyiksaan di masa kecilnya mungkin saja melampiaskan rasa frustasinya kepada lingkungan sosialnya atau kepada orang-orang yang ia cintai.
Kejadian-kejadian seperti dimana seorang ayah yang berprofesi sebagai pengacara meninju anaknya sampai pingsan lalu meningkalkan si anak tergelaak begitu saja dilantai. sementara ia sendiri kemudian pergi tidur.
Kisah lain seorang ayah yang membenamkan kepala anaknya yang masih kecil ke toilet. Akhir dari kejadian itu mengakibatkan kedua anak itu tewas.! Para psikolog pun memperingatkan dampak yang ditimbulkan dari penyiksaan tersebut.
Pernah terjadi suatu kasus seorang anak korban penyiksaan yang tumbuh menjadi seorang pria pembantai dengan menembaki orang-orang tak berdaya di MC Donald, sehingga polisi terpaksa menembaknya mati ditempat. Child abuse, bagaimana pun juga memberi dampak negatif pada kehidupan sosial masyarakat disetiap bangsa.
Menurut david (yang saya pun setuju dengannya hal ini), mengatakan bahwa banyak anak korban penyiksaan menyembunyikan masa lalu mereka dalam-dalam didalam dirinya sedemikian rupa dalam sampai-sampai kemungkinan mereka sendiri menjadi orang dewasa penyiksa pula.
Mereka mungkin terlihat hidup normal, menjadi suami istri, membangun rumah tangga dan membangun karir. Namun persoalan sehari-hari sering memaksa mereka yang dulunya anak korban penyiksaan bertingkah laku sepeerti tingkah laku yang mereka terima saat anak-anak.
Pasangan dan anak-anaknya sendiri kemudian menjadi sasaran rasa frustasinya dan tanpa disadari terbentuklah suatu lingkaran kemarahan yang sempurna tak ada putus dan habisnya.
Yah, mungkin David benar, child abuse memiliki efek domino, saling terkait, yang menyentuh semua pihak yagn berhubungan dengan keluarga bersangkutan. Yang menanggung penderitaan terbesar adalah sisa anak sendiri, baru kemudian terbagi diantara para anggota keluarga langsung sampai pasangan hidup yang sering kali merasa tercabik dalam memihak antara si anak dan pasangan hidupnya.
Dari situ penderitaan menyebar kepada anak-anak lain dalam keluarga bersangkutan yang tidak tahu menahu tetapi juga merasakan ketakutan yang diakibatkannya. Saya sendiri kadang tidak habis pikir bila ada orang tua tanpa sebab yang jelas begitu marah pada anaknya, seolah anak-anak itu merupakan tempat pelampiasan unek-unek dari beban hidup yang dihadapi oleh mereka.
Saya jadi teringat suatu kejadian di sebuah pusat belanja di jogja, waktu itu saya lagi membeli sebuah payung, karena diakhir tahun 1999 merupakan masa-masa hujan mengguyur kota jogja terus menerus.
Seorang ibu dan anak perempuan yang berumur kurang lebih 4 tahun juga membeli payung. Si ibu berkata, “hayo sana kamu milih payungnya”. Dan si anak pun bergegas mencari dan memilih sebuah payung kecil dengan warna yang menarik.
Si ibunya pun berucap agak kasar, “ ah kamu ini, jangan itu, mahal”. Tanpa sengaja saya melihat ekspresi anak kecil itu tampak ketakutan dan merasa pilihannya salah, dia pun mengembalikan payung itu ketempat semula.
Kembali si ibu berucap dengan suara yang agak tinggi, “loh hayoo, milih payung, malah bengong..!”. Si anak pun salah tingkah dan kembali melihat-lihat payung mana yang ingin dipilihnya, tampak tangan mungilnya ragu-ragu mengambil payung mana yang akan diambil dan takut dia akan di salahkan dan dimarahin lagi oleh ibunya.
Melihat tingkah anaknya seperti, si ibu makin naik pitam kemudian terdengar umpatan yang bernada agak kasar terhadap anaknya. “Kamu itu nyusahin aja, tidak tau, hayo cepatan, jangan payung mahal, kita tidak punya duit”, ujar ibunya. Kemudian ibu itu mengambil payung lain, dan bergegas pergi, dan berucap “Sudah ini aja gak usah macam-macam, kamu itu bodoh milih, hayo pulang” sambil menarik lengan kecil anak itu.
Si kecil hanya diam, wajahnya nampak tidak gembira dan mengikuti langkah ibunya.
Sepulang dari toko itu pun saya tidak habis pikir tingkah laku ibu itu kepada anaknya. Pikirku kenapa juga ibu itu menyuruh si anak untuk memilih payung, bila dia tau anak seumur itu belum tau mana payung yang mahal dan sesuai dengan kebutuhan.
Kalaupun memang salah, kenapa ibu tersebut tidak berbicara dengan lembut dan menjelaskan itu mahal dan tidak punya anggaran yang cukup. Bukannya marah dan memaki tak karuan.
Memori ku kembali teringat takala membaca buku a Child called it suatu kisah nyata korban kekerasan terhadap anak oleh orang tuanya.
Saya jadi kasihan dengan si anak Saya jadi ikut merasakan perjuangan yang dilakukan oleh David. Dia sosok yang bisa bertahan dan menang untuk keluar dari masa kelam yang dialaminya sejak kecil.
Masa kecilnya dilalui dengan perlakuan kejam dan bengis dari ibunya yang selalu saja menghukum dia dan mencap dirinya sebagai “anak nakal”. Bentuk “pendisiplinan” yang dilakukan sang ibu, berupa pukulan yang menyakitkan, kata-kata kasar, sampai hukuman tidak diberi makanan dan kurungan yang ditimpakan terhadap dirinya.
Masa kecil yang seharusnya dilalui dengan tawa, canda, dan kebebasan untuk bermain serta bersenag-senang tidak diperolehnya. Dia berada dilingkungan keluarganya yang hidup dengan alkohol dan pertengakaran antar pasangan suami istri yang kemudian dia ceritakan akhirnya orang tuanya bercerai karena tidak adanya keharmonisan dalam berkeluarga.
David setidaknya kini menjadi pahlawan bagi orang-orang yang mengalami nasib seperti dirinya. Lewat penulisan buku, dan seminar-seminar serta kegiatan sosial yang dilakukannya agar kejadian yang menimpanya tidak menimpa anak-anak kecil lainnya didunia ini.
Saya memiliki pandangan yang perlu dibuktikan lagi. Bahwa kualitas hidup suatu negara sebanding dengan peningkatan kualitas hidup didalam keluarga.
Bagaimana kita dapat saling memahami satu sama lain, hidup rukun dan saling menghargai ditengah kemajemukan bangsa ini, sementara nilai-nilai seperti itu tidak ditumbuhkan dalam keluarga yang lingkupnya lebih kecil.
Bagaimana kita tidak bisa sayang menyayangi dan saling mengasihi, bila dalam keluarga tidak ditumbuhkan rasa kasih dan cinta.
Mungkin inikah penyebab negara kita masih disibukkan dengan sikap permusuhan, perang antar etnis, saling tuding menuding dengan yang berbeda suku, agama dan ras. Mari kita bercermin dalam kehidupan kelurga kita masing-masing.
by; Andi Nur Bau Massepe January 2005,
in my blue rooms (gang pamungkas Yogyakarta)
mas_pepeng@yahoo.com Link: http://massepe.blogspot.com/