Archive for May, 2006

Turut Berduka atas gempa

Tuesday, May 30th, 2006

Mari mengheningkan cipta.

Panjatkan doa, dan bacaan alfatihah, Al.kursi. Syalawat Nabi.

Mari beristgfar, ….

Atas gempa di jogja karta. sabtu jam 6.oo

Book Review: Manusia Bugis

Friday, May 19th, 2006

180pxthe_bugis_cover

Manusia Bugis

Judul Asli: The Bugis

Penulis: Christian Pelras

Penerjemah: Abdul Rahman Abu Dkk.

Penerbit: Nalar, 2006

Tebal: xxxix + 449

Siapakah manusia Bugis itu? Apa karakteristik yang

melekat padanya sehingga berbeda de-ngan kelompok

manusia lainnya, seperti manusia Jawa, Bali, Melayu,

dan lain-lain? Dan bagaimana karakter kebugisan itu

terbentuk, bertahan, dan berubah mengikuti gerak-gerak

zaman?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itulah yang

dituangkan oleh Christian Pelras, antropolog

berkebangsaan Prancis, dalam bukunya, Manusia Bugis.

Spektrum pemaparannya amat luas dan komprehensif; bak

sebuah repertoar dalam adegan sandiwara Hamlet. Memuat

tentang asal-usul, kondisi geografi dan ekologi,

sistem teknologi, organisasi sosial dan sistem

perkawinan, seni sastra, religi, ekonomi, politik, dan

watak manusia Bugis menurut tapak-tapak waktu. Mulai

dari milenium pertama tarikh Masehi hingga sekarang.

Penyajian seperti itu dimungkinkan karena Pelras

melakukan penelusuran dokumen yang amat teliti dan

penelitian lapangan yang intensif. Risetnya

berlangsung selama 40 tahun (1950–1990).

Temuannya mencengangkan. Sebab-, jejak-jejak masa

silam orang Bugis yang masih samar-samar dan yang

belum terinstal dalam peta pengetahuan bagi umumnya

orang Bugis, termasuk pemerhati dan ilmuwan sosial,

dipaparkan secara amat meyakinkan-. Meskipun pijakan

penelitiannya, kitab La Galigo, diragukan kesahihannya

dan bahkan ditentang oleh sejumlah peneliti- mengenai

Sulawesi Selatan lainnya, seperti Andaya, Caldwell,

dan Koolhof, argumentasinya logis dan di-ser-tai

dengan bukti arkeologis.

Lebih dari itu, ia menampik keyakinan masyarakat umum

dan ilmiah- bahwa moyang orang Bugis pelaut ulung.

Bagi Pelras, mereka petani dan pedagang. Aktivitas

kemaritiman baru ditekuni orang Bugis pada abad ke-18.

Anggapan mengenai nenek- moyang- orang Bugis sebagai

pelaut ulung bersumber dari banyaknya perahu Bugis

pada abad ke-19 yang berlabuh di berbagai wilayah

Nusantara, Papua, Singa-pura, bagian selatan Filipina,

dan pantai barat laut Australia. Lagi pula, perahu

phinisi yang terkenal dan dianggap telah berusia

ratusan tahun, bentuk, dan model akhirnya baru

ditemu-kan antara penghujung abad ke-19 hingga 1930-an

(hlm. 3–4).

Hal lain yang diungkap oleh Pelras adalah bahwa orang

Bugis sejak 1800-an telah menembus ruang yang masih-

dibatasi oleh jarak. James Brook, penge-lana berkulit

putih yang berkunjung ke Wajo pada 1840, ditanya

tentang situasi politik di Turki dan nasib Napoleon

(Pelras, Tapak-tapak Waktu-, 2002: 45). Selain itu,

orang Bugis mampu mendirikan kerajaan yang tidak

mengandung pengaruh India dan tidak mendirikan kota

sebagai pusat aktivitas mereka. Perpaduan antara karya

sastra tertulis dan tradisi lisan melahirkan La Galigo

yang justru lebih panjang dari Mahabarata.

Sungguhpun demikian, karya Pelras tidak luput dari

kelemahan, ter-utama menyangkut karakter orang Bugis

di lapis waktu kini. Klaim Pelras bahwa pola interaksi

sehari-hari warga masyarakat Bugis dilandasi oleh

sistem patron-klien tampaknya sudah sangat- langka.

Itu tampak nyata dalam kehidupan petani dan nelayan,

dengan hubungan antara ponggawa (pemilik sarana

produksi) dan sawi (buruh yang mengoperasikan

peralatan produksi) yang cenderung eksploitatif. Dalam

sistem bagi hasil, sawi men-dapatkan bagian yang

sa-ngat kecil, sehingga kondisi ekonominya selalu

ber-ada di am-bang kelaparan. Kalaupun ponggawa

sa-ngat mudah- memberikan pinjaman berupa pangan dan

uang kepada sawi-nya, itu lebih se-bagai strategi

ponggawa agar sawi-nya senantiasa dalam genggamannya.

Demikian halnya karakter orang Bugis yang menghargai

orang lain dan sangat setia kawan, tampaknya mungkin

sudah mulai tergerus oleh arus zaman. Lihatlah kondisi

pada 2000: Sulawesi Selatan, termasuk di daerah Bugis,

terdapat banyak balita dan anak-anak yang menderita

kelaparan gizi, juga cukup banyak orang Bugis yang

menunaikan ibadah haji. Hal itu meng-isyaratkan bahwa

orang Bugis yang arus rezekinya agak deras kurang

memiliki kepedulian terhadap tetangganya.

Drs Yahya MA, dosen antropologi Universitas Hasanuddin

Majalah Tempo 01/XXXV/27 Februari - 05 Maret 2006