Archive for December, 2006

Renungan Kloset

Sunday, December 24th, 2006

(renungan akhir tahun 2006)

Ada baiknya
Tak mencatat hidup
Dalam lembar-lembar buku harian

Suatu masa
JIka dibacanya lagi
Manis, membuat kita ingin kembali
Pahit, membuat duka tak bias lupa

Ada baiknya
Merenung hifup
Dalam kloset yang sepi

Tak perlu malu
Mengenang tersenyum atau menangis
Setelah itu semua hilagn
Bersiap menerima makan baru
Yang lebih baik dari kemarin

By: Rieke Diyah Pitaloka

Puisi yang ditulis mba Rieke ini (pemeran Oneng dalam baja bajuri) saya catat dalam buku diary ku. Laki-laki punya diary? Bancis bangett.. kata temanku, Tapi saya protes BJ.Habibie aja punya diary, sampai buku yang terbaru yang  berjudul Detik-detik yang Menegangkan", banyak merujuk dari diary-nya itu.

Ya.. BJ.Habibie aja punya diary, mengapa harus dibilang diary itu punya kaum hawa, siapa tau besok-besok buku diary ku itu bisa menjadi buku yang best seller. Dan bisa seperti beliau juga jadi presiden. Hehehe.

Hidup itu bergerak.. tulis ku di salah tema diblog ku.
Semua kejadian terjadi merupakan konsekuensi kita dalam memilih dan memutuskan suatu hal. Hidup adalah perpindahan dari suatu pilihan dan suatu keputusan. Kita belajar dari keputusan-keputusan yang kita tempuh. Hasill dari keputusan kita pasti tidak selamanya baik, dan juga tidak selamanya buruk. Alangkah bahagianya jikalau setiap lekuk-lekuk kehidupan yang kita jalani adalah buah hasil keputusan kita. Dari situlah kita belajar suatu kebijaksanaan dan kedewasaan.

Kembali ke laptop…..(tukul bangett)
Pusisi Renungan kloset, yang menarik adalah pesan bahwa  hidup itu tidak usah terlalu banyak di sesali. Saya sepakat, takala banyak kejadian-kejadian hidup yang telah terjadi, hanya lah menjadi hal yang tak berguna kalau dirasain pahit atau manis lagi. Sudah berlalu….

Nah di penguhung tahun 2006,  begitu banyak kejadian yang sudah terlewatkan.
Bagaimana kah saya memaknai pergantian tahun ini?

Pertama-tama menyadari bahwa kehidupan itu adalah sebuah sekolah.
Cherie Carter Scott, Ph.D dalam bukunya If life is a game these are the rules, Dia menuliskan “Anda sudah terdaftar pada sekolah informal yang disebut “kehidupan”. Setiap Hari Anda akan memperoleh kesempatan memetik pelajaran dalam sekolah ini. Anda bisa menyukai atau membenci pelajaran-pelajaran itu, tetapi Anda sudah merancangnya sebagai baian dari kurikulum Anda.

Hidup ini saya anggap sebagai sebuah sekolah. School of life. Sekolah kehidupan kata penganut de-schooling seperti Gde Prama, Adreas Harefa, Jansen Sinamo, YB Mangunwijaya (alm) dan banyak lagi. Mereka menganggap sekolah yang paling sempurna adalah sekolah kehidupan, bukan sekolah yang dari umur 4 tahun sudah kita jalani itu. Kita hanya duduk, mendengar, kerjakan tugas, menyalin dan terima lapor.

Disekolah kehidupan saya merasa tidak ada yang benar dan salah. Semuanya dimulai keberanian kita membebaskan diri kita terhadap “value” (nilai-nilai) yang sudah sejak kecil kita peroleh dari Orang tua, guru-guru, keluarga dan lingkungan kita. Dengan terbiasa mengosongkan dulu nilai-nilai yang kita dapat, kita  akan cepat mempelajari pelajaran-pelajaran berisi nilai-nilai baru dengan sikap yang kritis.

Saya kembali mengutip R.Kiyosaki, dalam buku Rich Kids and Smart Kids, dalam tulisan yakni, Tuhan memberi kita sebuah kaki kanan (right) dan sebuah kaki kiri (left). Tuhan tidak memberi kita sebuah kaki yang benar (right) dan sebuah kaki yang salah (wrong). Lanjutnya, Orang yang berpikir mereka harus selalu benar adalah orang yang seperti dengan sebuah kaki kanan saja. Mereka mengira membuat kemajuan, tetapi biasanya mereka hanya berputar-putar dalam lingkaran.

Dari situlah saya mencoba menerima ketidak sempurnaan. Setelah tahu kalau saya ini adalah termasuk tipe perfeksionis. Disekolah kehidupan mengajarkan ku bahwa tidak ada kesempurnaan mutlak. Kesempurnaan adalah suatu sikap yang berlebihan, dan dalam Alqur’an mengajarkan bahwa Tuhan amat membeci perilaku yang berlebihan. Kesempurnaan yang baik adalah melalui sebuah proses yang tidak bisa secara instant.

Kaizen, adalah salah satu prinsip yang sangat dikenal di Jepang. Kaizen adalah proses penyempurnaan secara terus menerus yang tiada henti. Prinsip ini lebih baik dari pada keinginan untuk mewujudkan suatu hal yang langsung sempurna.

Kedua, saya ingin mensyukuri apa yang telah saya lalui selama setahun ini. Saya bersyukur pada Tuhan terhadap pelajaran kehidupan yang telah dia berikan. Saya bersyukur pernah merasakan menjadi kaum papa, takala di Jakarta, dengan pengalaman di”tampar Monas” kata kawan yang pernah kuliah di STIE YKPN. Di’tampar monas” maksudnya merasakan dinamika hidup di Jakarta. Merasakan kehidupan kaum masyarakat bawah. Masyarakat bawah yang kehidupannya mengandalkan sarana publik buatan pemerintah.

Merasakan hari-hari bergelantungan di bus kota, berdesak-desakan didalamnya, sampai perang mulut dengan kenek bersama teman kuliah MM yang orang Padang itu. Gara-gara bus yang sudah penuh sesak masih saja diisi orang untuk masuk, kita pun protes, tapi malah keneknya suruh turun kalau tidak mau.Ilmu marketing tidak dipakai di bus sudah kita bayar ongkos harusnya dapat pelayanan malah disuruh turun. Onde mande….!!

Saya juga tidak habis berpikir dan prihatin, bagaimana susahnya orang pinggiran yang kekantor memanfaatkan kereta ekonomi KRL. Sungguh lebih manusiawi kandang ayam dari pada kereta ekonomi itu, Saya juga bingung dengan pemerintah, mengapa menyediakan namanya system transportasi rakyat yang kayak itu, bila lengah sedikit nyawa bisa melayang, karena harus berhimpitan dan bergelantung dipinggir gerbong atau naik diatas gerbong.

Dengan bersyukur akan memberi kita sikap untuk menikmati apa yang sudah ada sekarang. Rasa syukur berarti kita berterima kasih atas dan menghargai apa yang kita punya dan dimana kita sekarang berada dijalan kehidupan kita.

Ketiga, dari bersyukur itu, akhirnya saya tidak berhenti-hentinya mengucapkan terima kasih. Berterima kasih kepada Tuhan. Berterima kasih atas kebijaksanan yang saya peroleh.

Berterima kasih kepada Orang Tua, ayah dan ibu atas semua yang diberikan, baik dan materi maupun kasih sayang. Berterima kasih kepada orang yang mengecewakan saya. Apalgi saya sangat berterima kasih kepada orang yang membantu ku dalam kesusahan. Berterima kasih kepada orang yang membuat kita susah. Berterima kasih kepada orang yang membuat ku sedih dan bahagia.

Kata terima kasih merupakan kata yang sangat jarang kita ucapkan. Berterima kasih bermakna kita tahu apa yang telah kita terima. Begitu juga pelajaran yang kita dapatkan dari sang pemberi dan pemilik Ilmu hakiki.

Seorang filsuf Thomas Paine pernah mengatakan, ”Apa yang kita peroleh dengan terlalu mudah pasti kurang kita hargai. Hanya harga yang mahalah yang memberi nilai kepada segalanya. Tuhan tahu bagaimana memasang harga yang tepat pada barang-barangnya.”

Terakhir, disetiap akhir pasti ada permulaan. Saya mengajak Anda untuk kembali membuat rencana yang baru ditahun selanjutnya. Dengan sebuah rencana kita tahu akan kemana dan untuk apa hidup ini. Kita yang membuat rencana, kita berusaha, Tuhan kan memberikan.

Rencana dan pengharapan yang belum terwujud, mengharuskan kita untuk bersabar. Bersabar dan terus menerus berupaya kembali untuk mewujudkannya. Dengan bersabar kita menjadi lebih memaknai proses pelajaran yang diberikan kepada kita. Bersabar membuat kita lebih tenang dalam melangkah, membuat kita lebih kuat dan dekat dengan suara Tuhan.

Waktu yang diberikan Tuhan kita di bumi ini sebenarnya singkat. Kita mempunyai kemungkinan dan pilihan untuk mewujudkan harapan-harapan, impian-impian dan tujuan kita. Kembali pada diri kita, Apakah kita memanfaatkan waktu yang diberikan Tuhan sebaik-baiknya atau tidak.

Renungan Kloset, mengajarkan apa yang sudah kita peroleh sampai saat ini adalah hasil dari pilihan kita. Kita memutuskan untuk memakan pelajaran-pelajaran hidup setiap hari. Membuat kita kenyang dan perlu mengeluarkan hal-hal yang buruk, dan menyerap gizi kehidupan yang baik bagi tubuh dan jiwa kita. Kemudian menyiram yang buruk-buruk itu, dan bersiap-siap lagi menyantap pelajaran-pelajaran yang baru lagi dimasa yang akan datang.

Selamat tahun baru 2007 dan selamat hari raya Idul Adha.

Andi Muh. Nur Bau Massepe

Makassar,

Desember 2006

Kapan Saya Menikah?

Tuesday, December 5th, 2006

Mmm.. Itu sebuah pertanyaan membosankan saat ini bagiku. Saya sendiri coba berpikir
mengapa ya setiap bertemu teman atau keluarga apalagi di acara-acara seperti nikahan dua kata tersebut yang selalu saya dengar. Apa tidak ada pertanyaan yang kreatif selain “itu”?

Mungkin dalam pikiran mereka itu, diusia yang menginjak 28 tahun, umumnya atau rata-rata laki-laki seusiaku sudah pada menikah dan berkeluarga.

Lihat, teman-teman Sekolah ku (SMP dan SMA) saat ini memang hampir sebagian sudah menikah dan di anugerahkan balita yang lucu itu. Teman kuliah ku hampir setiap bulan memposting di milis undangan pernikahan mereka. Senang juga melihat beraneka ragam model undangan dan kreatif-kreatif.

Kini hampir setiap bulan ada undangan pernikahan dirumah ku. Entah itu dari keluargaku, teman sekolah, ataupun mantan “kekasih-kekasih”ku (heheh).

Membicarakan kata kapan menikah terpenting adalah makna pernikahan itu sendiri. Apa kah yang melatar belakangi dari sebuah pernikahan?
Apa harus didasari oleh perasaan cinta ?

Ataukah sesuatu yang mengalir begitu saja takala diri kita telah merasa siap lahir batin tanpa perlu mengenal lebih jauh pasangan kita?

Bagaimana ihwal kita merasa sudah siap dengan kekasih kita untuk membina rumah tangga?

Apakah dimulai dengan penjajakan kemudian pacaran? Setelah itu kemudian
“merasa cocok” lalu memutuskan untuk menikah.
Bagaimana pula timbulnya perasaan cinta? Cinta yang indah dan menyakitkan itu.

Selama ini ada banyak kasus-kasus pernikahan yang saya amatin. Teman yang sekaligus
mantan guru SMP dulu, sebagai contoh dia hanya butuh dua minggu setelah dikenalkan oleh orang tuanya akhirnya memutuskan untuk menikah.

Saya bertanya dan dia menjelaskan, “Orang tua pasti sudah tau apa yang tepat bagi anaknya, jadi saya yakin itu lah yang terbaik. Terpenting itu dek,..niat kita. Menikah adalah ibadah”, ucapnya dengan lembut. Dia pun menyebutkan hadis Rasulullah SAW, yang intinya tidak sempurna iman seseorang bila belum menikah.

Bagaimana menikahi seseorang tanpa ada perasaan yang dalam (cinta) dan mengetahui pribadinya terlebih dahulu apa cocok denga kita atau tidak? Batin ku mempertanyakan mengenai memilih pasangan hidup Apakah selamanya mengandalkan niat baik itu?

Apakah dengan adanya niat baik itu ada jaminan bahwa pernikahan kita bakal bahagia?
Kembali ter-ngiang, bahwa segala niat baik itu akan selalu dilindungi Tuhan, akhirnya pertanyaan dalam kepalaku itupun saya akhiri, karena sudah the-end kalau menyangkut kembali ke Dia..

Apakah setelah menikah perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya? Bagaimana kalo tidak sama sekali?
Trus, atas dasar apa keluarga atau orang tua, memiliki pertimbangan gadis ini cocok dengan kita?

Saya menganggap pernikahan adalah soal memilih pasangan hidup yang kita rasa “baik” menurut kita.

Dapat dibayangkan bagaimana kita akan menjalani hari-hari ini berdua bersama pasangan kita itu (istri). Mulai sebelum tidur kita berada disampingnya, kemudian bagun tidur, beraktifitas dikantor, pulang kerumah maka tiada hari tanpa pasangan kita.

Apa tidak membosankan. (ah mungkin tidak bila orang itu adalah orang yang kita cintai).

Dari diskusi ditempat minum sara’ba di sungai cerekang teman ku yang sudah 6 tahun pacaran sejak lulus SMA, kemudian mereka menikah, dia menjelaskan bahwa semua perasaan yang mengebu-gebu (chemistry-istilah cangihnya) sewaktu pacaran itu seperti; perasaan cinta, perasaan sayang, perasaan sehidup semati sewaktu pacaran akan “hilang”.

Semuanya berganti dengan tema seperti; hari ini bagiamana mendapatkan penghasilan, bagaimana membiaya kebutuhan keluarga, mesti bayar cicilan kartu kredit, beli pulsa, membiaya si kecil, urusan dengan keluarga mertua, dan bla..bla..bla lagi sampai dia bilang enak dengan status men-jomblo. Lohh!

Liat infotainment, kasus-kasus perselingkuhan, kawin cerai, gugat meng-gugat antara mantan suami-istri terjadi disekililing kita. Dari pernyataan mereka banyak mengaku bahwa sudah tidak ada perasaan cocok lagi, atau istilahnya hilfil (hilang feeling).

Lalu kemanakah Cinta itu, yang takala sewaktu pacaran dan diawal-awal pernikahan layaknya pasangan sejati. Tapi berselang beberapa tahun tiba-tiba berubah menjadi pertikaian.

Tengok pernyataan Si ME seorang penyanyi dangdut kenamaan, yang kasus merebak setelah video mesumnya bersama seorang wakil rakyat YZ, menyatakan hubungan itu didasari oleh perasaan cinta. Sehingga pasti bisa dibayangkan betapa retaknya mahligai rumah tangga YZ tersebut karena kehadiran ME yang mengatas namakan “cinta”.

Cinta memang dapat membangun sebuah rumah tangga yang harmonis tapi juga bias menghancurkannya.

Saya berpikir sebenarnya, antara cinta dan pernikahan itu adalah sesuatu yang berdiri sendiri. Banyak orang yang berpendapat bahwa pernikahaan adalah lembaga cinta dua insan manusia.

Saya berpikir pernikahan adalah suatu objek yang memiliki konsepsi sendiri. Memiliki aturan-aturannya sendiri, terlepas adanya cinta didalamnya. Kita tahukan budaya timur, sangat menjunjung tinggi keutuhan sebuah pernikahan. Kehormatan dari sang suami, juga kehormatan dari sang istri dari yang dinamai oleh masyarakat suatu “kebaikan”.

Dan cinta kita tahu, sifat cinta sangat tidak terikat dengan aturan-aturan yang ada.
Dan pendapatku pernikahan tidak selamanya didasari oleh cinta.

Jadi menurutku, pernikahan adalah sebuah perjalan baru bagi kehidupan kita, yang dilakukan oleh orang dewasa dengan kesadaran masing-masing.

Alangkah bahagianya (barangkali) kalo kita menikah berdasarkan perasaan cinta. Dan walaupun kita sadar, begitu sudah memasuki wilayah pernikahan, kita juga harus menanggalkan segala pengalaman (experience) bercinta kita menggantinya dengan aturan-aturan baru yang namanya lembaga pernikahan.

Tentu aturan baru itu adalah sebuah pengalaman baru lagi yang sebaiknya didasari oleh cinta, dan juga kaidah-kaidah yang kita yakini dalam agama kita masing-masing. Kaidah-kaidah yang menjadi keyakinan hidup masing-masing.

Hal ini barangkali tidak banyak orang sadari.
Sehingga mereka yang sudah mengikat dirinya dengan suatu lembaga pernikahan, masih saja tidak bosan-bosannya mencari yang namanya pengalaman bercinta itu!.

Apa dulunya tidak pernah pacaran? Atau dulu nya cepat menikah

Bener gak? Ah. Tidak tau saya sendiri belum pernah menikah.! Wallahu wa’alam.

Dan bila ditanya kembali kapan menikah? Jawabannya, “belum ketemu jodoh !”.

Anda tahu kan bahwa jodoh itu urusan Tuhan, jadi sudah susah untuk dijelaskan lebih lanjut lagi”. Ya tanyain sendiri ma Tuhan. Atau setidaknya Doaian saya lah. Wasalam.!

Panakukkang, Makassar Desember 2006
A.M.Nur Bau Massepe