Kapan Saya Menikah?

Mmm.. Itu sebuah pertanyaan membosankan saat ini bagiku. Saya sendiri coba berpikir
mengapa ya setiap bertemu teman atau keluarga apalagi di acara-acara seperti nikahan dua kata tersebut yang selalu saya dengar. Apa tidak ada pertanyaan yang kreatif selain “itu”?

Mungkin dalam pikiran mereka itu, diusia yang menginjak 28 tahun, umumnya atau rata-rata laki-laki seusiaku sudah pada menikah dan berkeluarga.

Lihat, teman-teman Sekolah ku (SMP dan SMA) saat ini memang hampir sebagian sudah menikah dan di anugerahkan balita yang lucu itu. Teman kuliah ku hampir setiap bulan memposting di milis undangan pernikahan mereka. Senang juga melihat beraneka ragam model undangan dan kreatif-kreatif.

Kini hampir setiap bulan ada undangan pernikahan dirumah ku. Entah itu dari keluargaku, teman sekolah, ataupun mantan “kekasih-kekasih”ku (heheh).

Membicarakan kata kapan menikah terpenting adalah makna pernikahan itu sendiri. Apa kah yang melatar belakangi dari sebuah pernikahan?
Apa harus didasari oleh perasaan cinta ?

Ataukah sesuatu yang mengalir begitu saja takala diri kita telah merasa siap lahir batin tanpa perlu mengenal lebih jauh pasangan kita?

Bagaimana ihwal kita merasa sudah siap dengan kekasih kita untuk membina rumah tangga?

Apakah dimulai dengan penjajakan kemudian pacaran? Setelah itu kemudian
“merasa cocok” lalu memutuskan untuk menikah.
Bagaimana pula timbulnya perasaan cinta? Cinta yang indah dan menyakitkan itu.

Selama ini ada banyak kasus-kasus pernikahan yang saya amatin. Teman yang sekaligus
mantan guru SMP dulu, sebagai contoh dia hanya butuh dua minggu setelah dikenalkan oleh orang tuanya akhirnya memutuskan untuk menikah.

Saya bertanya dan dia menjelaskan, “Orang tua pasti sudah tau apa yang tepat bagi anaknya, jadi saya yakin itu lah yang terbaik. Terpenting itu dek,..niat kita. Menikah adalah ibadah”, ucapnya dengan lembut. Dia pun menyebutkan hadis Rasulullah SAW, yang intinya tidak sempurna iman seseorang bila belum menikah.

Bagaimana menikahi seseorang tanpa ada perasaan yang dalam (cinta) dan mengetahui pribadinya terlebih dahulu apa cocok denga kita atau tidak? Batin ku mempertanyakan mengenai memilih pasangan hidup Apakah selamanya mengandalkan niat baik itu?

Apakah dengan adanya niat baik itu ada jaminan bahwa pernikahan kita bakal bahagia?
Kembali ter-ngiang, bahwa segala niat baik itu akan selalu dilindungi Tuhan, akhirnya pertanyaan dalam kepalaku itupun saya akhiri, karena sudah the-end kalau menyangkut kembali ke Dia..

Apakah setelah menikah perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya? Bagaimana kalo tidak sama sekali?
Trus, atas dasar apa keluarga atau orang tua, memiliki pertimbangan gadis ini cocok dengan kita?

Saya menganggap pernikahan adalah soal memilih pasangan hidup yang kita rasa “baik” menurut kita.

Dapat dibayangkan bagaimana kita akan menjalani hari-hari ini berdua bersama pasangan kita itu (istri). Mulai sebelum tidur kita berada disampingnya, kemudian bagun tidur, beraktifitas dikantor, pulang kerumah maka tiada hari tanpa pasangan kita.

Apa tidak membosankan. (ah mungkin tidak bila orang itu adalah orang yang kita cintai).

Dari diskusi ditempat minum sara’ba di sungai cerekang teman ku yang sudah 6 tahun pacaran sejak lulus SMA, kemudian mereka menikah, dia menjelaskan bahwa semua perasaan yang mengebu-gebu (chemistry-istilah cangihnya) sewaktu pacaran itu seperti; perasaan cinta, perasaan sayang, perasaan sehidup semati sewaktu pacaran akan “hilang”.

Semuanya berganti dengan tema seperti; hari ini bagiamana mendapatkan penghasilan, bagaimana membiaya kebutuhan keluarga, mesti bayar cicilan kartu kredit, beli pulsa, membiaya si kecil, urusan dengan keluarga mertua, dan bla..bla..bla lagi sampai dia bilang enak dengan status men-jomblo. Lohh!

Liat infotainment, kasus-kasus perselingkuhan, kawin cerai, gugat meng-gugat antara mantan suami-istri terjadi disekililing kita. Dari pernyataan mereka banyak mengaku bahwa sudah tidak ada perasaan cocok lagi, atau istilahnya hilfil (hilang feeling).

Lalu kemanakah Cinta itu, yang takala sewaktu pacaran dan diawal-awal pernikahan layaknya pasangan sejati. Tapi berselang beberapa tahun tiba-tiba berubah menjadi pertikaian.

Tengok pernyataan Si ME seorang penyanyi dangdut kenamaan, yang kasus merebak setelah video mesumnya bersama seorang wakil rakyat YZ, menyatakan hubungan itu didasari oleh perasaan cinta. Sehingga pasti bisa dibayangkan betapa retaknya mahligai rumah tangga YZ tersebut karena kehadiran ME yang mengatas namakan “cinta”.

Cinta memang dapat membangun sebuah rumah tangga yang harmonis tapi juga bias menghancurkannya.

Saya berpikir sebenarnya, antara cinta dan pernikahan itu adalah sesuatu yang berdiri sendiri. Banyak orang yang berpendapat bahwa pernikahaan adalah lembaga cinta dua insan manusia.

Saya berpikir pernikahan adalah suatu objek yang memiliki konsepsi sendiri. Memiliki aturan-aturannya sendiri, terlepas adanya cinta didalamnya. Kita tahukan budaya timur, sangat menjunjung tinggi keutuhan sebuah pernikahan. Kehormatan dari sang suami, juga kehormatan dari sang istri dari yang dinamai oleh masyarakat suatu “kebaikan”.

Dan cinta kita tahu, sifat cinta sangat tidak terikat dengan aturan-aturan yang ada.
Dan pendapatku pernikahan tidak selamanya didasari oleh cinta.

Jadi menurutku, pernikahan adalah sebuah perjalan baru bagi kehidupan kita, yang dilakukan oleh orang dewasa dengan kesadaran masing-masing.

Alangkah bahagianya (barangkali) kalo kita menikah berdasarkan perasaan cinta. Dan walaupun kita sadar, begitu sudah memasuki wilayah pernikahan, kita juga harus menanggalkan segala pengalaman (experience) bercinta kita menggantinya dengan aturan-aturan baru yang namanya lembaga pernikahan.

Tentu aturan baru itu adalah sebuah pengalaman baru lagi yang sebaiknya didasari oleh cinta, dan juga kaidah-kaidah yang kita yakini dalam agama kita masing-masing. Kaidah-kaidah yang menjadi keyakinan hidup masing-masing.

Hal ini barangkali tidak banyak orang sadari.
Sehingga mereka yang sudah mengikat dirinya dengan suatu lembaga pernikahan, masih saja tidak bosan-bosannya mencari yang namanya pengalaman bercinta itu!.

Apa dulunya tidak pernah pacaran? Atau dulu nya cepat menikah

Bener gak? Ah. Tidak tau saya sendiri belum pernah menikah.! Wallahu wa’alam.

Dan bila ditanya kembali kapan menikah? Jawabannya, “belum ketemu jodoh !”.

Anda tahu kan bahwa jodoh itu urusan Tuhan, jadi sudah susah untuk dijelaskan lebih lanjut lagi”. Ya tanyain sendiri ma Tuhan. Atau setidaknya Doaian saya lah. Wasalam.!

Panakukkang, Makassar Desember 2006
A.M.Nur Bau Massepe

16 Responses to “Kapan Saya Menikah?”

  1. santi Says:

    Kepadamu kulirihkan sepenggal doa dalam sepertiga
    malamku.. “Ya Rabb, jagalah dirinya, kuatkan
    teguh kakinya di jalanMu, kuatkan jasadnya dengan
    rahmatMu, kuatkan ruhnya dengan ruhMu, buatlah
    dia tersenyum hingga kelak kami dapat bertemu..
    Di syurgaMu.., insya Allah..!”

    semoga do’a ini membantu. Amin.

  2. Dhawie Says:

    Ya ampuunn Andi Nur..
    ternyata tidak cuman perempuan ya yang kena pertanyaan itu.. ternyata lelaki muda seperti dirimu juga kena “gangguan” pertanyaan itu ya.. !! Setuju.. !! emangnya g ada pertanyaan lain apa ??? ehhehe

    Pemeo bilang “carilah rezeki sampai ke negri china.. en carilah jodoh sampai ke negri jiran.. (oo maksudnya rezeki adanya di china dan jodoh adanya di malaisia.. makanya g ada di indonesia… kali yee..)
    hehehe..

  3. Rhiena Says:

    …”Kita tahukan budaya timur, sangat menjunjung tinggi keutuhan sebuah pernikahan. Kehormatan dari sang suami, juga kehormatan dari sang istri dari yang dinamai oleh masyarakat suatu “kebaikan”. “…

    Kayaknya terlalu generalisasi ces, menurutku banyak org yang menikah saling menjaga keutuhan dan kehormatan bukan semata-mata karna budaya, tapi kesadaran masing2 terhadap apa yg mereka percaya jadi yah … begitu deh. Hehehe…

    Btw, nur kayaknya kau jadi pemarah di’ ditanyai trus, em begini pale rasanya. Pantasan kalo sy tanya2 Yuni pertanyaan yang sama, dia juga jadi koro2ang … hahahahaha..
    Take Care n c u!

  4. Andi Noer Says:

    nah.. tulisan ku sbenarnya menyindir, kalo dirimu merasa, memang di tulis buat orang2 yg suka tanya itu kayak kita hehehe.

  5. Pido Says:

    ehem ….
    ade kelas bicara nich …

    sesungguhnya wanita dipilih karena empat hal : pertama karena harta, kedua karena kecantikan, ketiga karena keturunannya, dan keempat karena agamanya … dan pilihlah bagimu yang baik agamanya .. niscaya itu lebih baik bagimu …
    ada yang menikah setelah lama berpacaran, pertanyaannya bahagiakah mereka ??
    ada yang menikah tanpa melalui proses pacaran ato bahkan baru kenal, pertanyaannya tidak bahagiakah mereka ???
    sesungguhnya cinta bisa tumbuh belakangan, begitu yang biasa saya dengar dari orang-orang yang menikah tanpa melalui jalur pacaran …
    dan betul juga itu hasil diskusi di warung sara’bba, karena sesungguhnya “cinta” pada pernikahan hanya akan bertahan selama beberapa waktu selebihnya adalah pengertian dan pengertian … namun bukankan itu juga wujud “cinta” lain yang dipelajari seiring bejalannya pernikahan ????
    teriringi do’a semoga ka’ Nur segera menemukan “belahan jiwa” -nya Amien .. (do’a tulus dari seorang ade)

  6. pSyCHotiQue Says:

    Makanya, Nur, sering-seringko nonton iklan LA Lights…”Enjoy Ajaaaa…!”

  7. Nirma Says:

    Katanya Ringo di TV, May….:)

  8. yeni Says:

    pada mulanya lagi mencari tips menikah cepat, karena aku mengalami hal yang sama. dan hampir jadi tdk percaya dgn perlunya cinta dalam suatu pernikahan. sekarang aku sepakat bahwa cinta dan menikah adalah 2 hal yang terpisah.

  9. Ulie Says:

    Well, kupikir orang kadang suka iseng nanya “kapan married” simply bcoz they don’t have anything else to ask :). Terutama kalo dia gag tau kalo yg ditanya rada “sensi” sama pertanyaan itu.

    Trus… banyak orang yg sudah menikah malah kangen sama masa sendiri/masa bebasnya, seriously!! Hehe jadi bingung kan, keinginan manusia emang gag ada abisnya.

  10. Andi Noer Says:

    wah kalo begitu gawat lo mba, bagusnya sih kl sdh merrit gak usah inget2 masa sendiri..
    gimana

  11. Indriayu Says:

    Karena menikah tak hanya butuh cinta,..

  12. Andi Noer Says:

    butuh banyak, butuh rumah, butuh mobil, butuh deposito, butuh biaya anak, butuh pajak NPWP, entar apa kata duniaaaaa
    hahahah
    tx ya dah mo ngisi testi ku

  13. asturi Says:

    tapi yang pasti aq tunggu undangan Noer ya…BTW,selamat buat Erawati yang akan “memutuskan” menikah 6 Jan 2008…

  14. asturi Says:

    kalo sebagian ortu mempertanyakan kapan anaknya akan menikahnya, tidak dengan orang tua :)Entah kenapa..?? Sampai2 aq sempat berpikir apa mungkin kami anak2nya akan selalu dianggap anak kecil yang tugasnya hanya untuk sekolah….Sampai suatu saat mereka bertanya kenapa kami,siapa yang akan terlebih dulu melanjutkan SEKOLAH??
    MyGod..Apa yang salah dengan mereka..??? Tapi itulah kenytaannya :) Di satu sisi aq merasa nyaman,karena ga perlu di buru2 pertanyaan tentang itu. Namun aq mencoba untuk membahas itu terlebih dulu… Dan ternyata tanggapan yang keluar…Apa nanti pernikahan itu tidak menghambat pendidikan dan karierku ke depan???? :)

  15. Andi Noer Says:

    Terima kasih atas comment dari teman-teman, orang Anda yang sekedar mampir, dab membaca, Ternyata asyik juga ya menulis kacangan kayak ini, tapi banyak yang respon. Sudah satu tahun tulisan ini dibuat Ternyata saya juga belum Merrit. Huahuaa.. Jadi tulisannya belum direvisi..
    Terima kasih.. terima kasih

  16. eliana Says:

    hihihi…lucu.
    (maaf, bukan bermaksud ngetawain mas). baru kemarin saya ngobrol dengan teman saya tentang topik sama seperti yang mas angkat ini dan saya berpendapat mirip dengan mas plus tambahan dari ulie ;P, eh ga taunya sekarang malah kesasar di blog mas yang jg ga jauh2 beda. kayaknya Allah lagi bercanda nih dengan memperjalankanku kesini, perhaps just for strenghtening my opinion hehehe. don’t worry be happy mas (meski mas udah setahun belum juga kesampaian hihihi…). yakinlah semua udah diatur. dunia ini memang menawarkan beribu alasan buat kita bersedih, tapi Allah punya berjuta alasan agar kita bergembira. Semangat!!! nb:kalo mas segera ingin, i doain cepet kesampaian dah. hihihi..hehehe..hahahaha..ups (sory kelepasan)yup, that’s for sure.

Leave a Reply