Bisnis Itu Permainan, Bukan Ilmu Pengetahuan
Sunday, January 14th, 2007Ada artikel menarik yang saya dapatkan di salah satu blog tentang kewirausahaan….Selamat Membaca>>!!
————-
BISNIS ITU PERMAINAN, BUKAN ILMU PENGETAHUAN
Selama
kita merasa belum familiar dan takut memulai bisnis, biasanya yang
timbul di pikiran kita adalah: “belajar!”. Pilihannya mungkin dengan
jalan mengambil program S2 dan jadi seorang MBA, atau ikut
sebanyak-banyaknya seminar dan pelatihan, atau bisa juga dengan berguru
dan mengabdi pada seorang begawan bisnis.
Kira-kira, sudah selaraskah alur pemikiran yang sedemikian dengan apa yang terjadi pada kenyataannya? Mari kita telaah.
Kebanyakan
dari kita berbisnis karena ingin sukses, lalu menjadi kaya raya. Kita
membayangkan, betapa enak dan hebatnya bila kita dapat sesukses dan
sekaya Bill Gates atau Donald Trump. Menurut pandangan masyarakat pada
umumnya, mereka itulah orang-orang sukses yang sebenar-benarnya.
Merekalah sosok-sosok pebisnis yang prestasinya membuat banyak orang
terobsesi.
Maka tidak heran jika para pakar pun berusaha
menyadap dan mempelajari segala hal yang ada pada orang-orang sukses
itu, dengan harapan dapat mentransfer nilai-nilai kesuksesannya kepada
orang-orang lain yang juga ingin menjadi figur sukses. Mereka
berpendapat bahwa: “Leaders are made, not born”.
Selanjutnya,
segala sepak terjang yang dilakukan oleh para pebisnis tersebut,
dikumpulkan, dipilah-pilah, lalu dianalisis. Dari analisis itu dibuat
teori-teori. Hasilnya, muncullah berbagai teori kesuksesan yang
terkemas dalam materi-materi “ilmu bisnis”, wacana profesionalisme,
ilmu kepemimpinan (leadership), dan lain sebagainya.
Orang-orang
awam memang ingin sekali menemukan cara-cara yang bisa membantu mereka
untuk secara cepat mencapai kesuksesan. Semacam rel kereta yang tinggal
diikuti saja akan mengantar orang tiba di gerbang kejayaan.
Namun
demikian, apa benar kalau kita ingin menjadi figur sukses — lebih
spesifiknya pebisnis sukses — harus menempuh perjalanan yang sarat
dengan teori-teori kesuksesan seperti itu?
Dari berbagai
catatan yang ada, tampaknya tidak demikian. Banyak sepak-terjang yang
dilakukan oleh para pemimpin bisnis dunia tidak mencerminkan bahwa
kesuksesan mereka disebabkan pembelajaran yang sungguh-sungguh dalam
ilmu bisnis, profesionalisme dan teori kepemimpinan. Tidak juga
pengetahuan ekonomi, teori-teori tentang kebebasan finansial, ilmu
marketing dan lain sebagainya. Pun, tidak karena mereka rajin mengikuti
seminar kesuksesan atau lokakarya tentang strategi bisnis.
Di
lain pihak, banyak pemimpin bisnis ternyata merupakan orang-orang yang
justru tidak suka belajar, malas sekolah, dan hanya ingin bermain-main
saja. Boro-boro ikut seminar atau lokakarya. Lho kok bisa?
Ada
beberapa contoh kasus. Yang pertama, Thomas Alva Edison. Nama ini sudah
kita tahu sejak di bangku SD bukan? Namun, tentunya kita kenal Edison
lebih sebagai tokoh ilmu pengetahuan, karena sekolah memfokuskan ajaran
hanya pada penemuan atas lampu pijar dan berbagai temuan teknis lain
yang dilakukannya.
Maka jarang kita memperhatikan bahwa
sesungguhnya Thomas Alva Edison adalah juga seorang pengusaha besar
yang sukses. Ia adalah pemilik dan pendiri berbagai perusahaan dengan
nama-nama seperti Lansden Co. (mobil/otomotif), Battery Supplies Co.
(baterai), Edison Manufacturing Co. (baterai dsb), Edison Portland
Cement Co. (semen dan beton), North Jersey Paint Co. (cat), Edison
General Electric Co. (alat listrik dll), dan banyak lainnya. Salah satu
yang masih berjaya sampai sekarang adalah General Electric.
Apakah
untuk mencapai itu semua Edison harus bersusah-payah mengikuti berbagai
sekolah dan pendidikan tinggi? Atau mengikuti seminar kelas dunia yang
diselenggarakan oleh para pakar kesuksesan, pakar bisnis atau pakar
financial freedom? Ternyata tidak. Figur Edison adalah figur pemalas
yang hanya tahan 3 minggu bersekolah. Ia lebih suka bermain-main dengan
perkakas, dengan kawat dan dengan listrik. Itu kesenangannya dan dengan
itu ia sukses.
Contoh lain adalah Kenji Eno. Ia juga tidak suka
sekolah. Ia cuma suka bermain-main dengan permainan, istimewanya dengan
video games. Kelas 2 SMA berhenti sekolah terus nganggur. Lalu dapat
kerja di perusahaan perangkat lunak, sampai akhirnya ia berhasil
mendirikan perusahaan perangkat lunaknya sendiri yang dinamakan WARP.
Dalam tempo beberapa tahun saja Kenji Eno mampu membawa perusahaannya
menjadi perusahaan video games terhebat di dunia yang diakui oleh
tokoh-tokoh industri.
Fenomena-fenomena yang dibuat oleh
orang-orang semacam Edison dan Kenji Eno ini memberi kesan kepada kita
semua bahwa bisnis itu sebenarnya lebih dekat kepada sebuah permainan,
dan terlalu jauh untuk diperlakukan sebagai sebuah ilmu pengetahuan.
Gede
Prama yang dikenal sebagai pakar manajemen (bahkan dijuluki Stephen
Covey Indonesia), mengomentari fenomena Kenji Eno sebagai kesuksesan
dari kebebasan berfikir yang mampu melompat, karena belum terkena
polusi-polusi yang dibuat sekolah.
Menurut saya, adalah keliru
mempelajari fenomena pemimpin, untuk menciptakan pemimpin. Demikian
juga, keliru mempelajari fenomena pebisnis sukses, untuk mencetak
pebisnis sukses. Sebab, fenomena pemimpin (atau pebisnis) adalah
fenomena manusia, yang tidak sama dengan fenomena alam. Kalau Isaac
Newton mempelajari peristiwa jatuhnya buah apel ke tanah (fenomena
alam) dan kemudian menemukan hukum gavitasi, maka itu oke-oke saja.
Karena fenomena alam tidak berubah, hukum gravitasi pun akan tetap
abadi.
Akan tetapi, mempelajari fenomena manusia pasti akan
menimbulkan frustrasi. Sebab, manusia merupakan mesin perubahan,
sehingga tidak akan ada fenomena manusia yang tinggal tetap abadi
sepanjang masa, berlawanan dengan yang kita lihat pada peristiwa
jatuhnya buah apel.
Pemimpin, dalam bidang apa pun termasuk
bisnis, adalah sosok manusia yang bebas, yang bertindak semaunya tanpa
memperhatikan teori mau pun kaidah, sehingga nyaris percuma kalau kita
ingin mempelajari dan mengikuti jejak sepak terjangnya.
Coba
lihat, pada saat terjadinya resesi ekonomi dunia tahun 1929, semua
orang berdasarkan teori-teori yang ada, berusaha untuk berlaku sehemat
mungkin. Tapi sebaliknya, Matsushita si raja elektrik dari Jepang malah
royal mengeluarkan uang. Seakan uang itu tidak lebih dari mainan saja
layaknya. Meski pun bukan tanpa alasan dia berlaku demikian.
Lihat
juga Kim Woo Chong, pendiri imperium Daewoo. Ketika semua pengusaha
(juga dengan teori-teori yang ada) berkonsentrasi memasuki pasar
negara-negara kaya semacam Amerika dan Eropa, ia malah dengan santainya
masuk ke pasar-pasar “keras” seperti Iran, Sudan dan Rusia serta
negara-negara blok timur.
“Kesia-siaan” mempelajari dan berusaha
mengikuti sepak terjang para pemimpin bisnis bisa dirasakan secara
langsung di lapangan. Saat pertama kali Harvard Business Review
mempublikasikan konsep pemasaran yang beken dengan “Marketing Mix” 4P
(product, price, place dan promotion), nyaris semua pengusaha serta
pakar bisnis menganut konsep ini secara fanatik. Begitu juga dengan
perguruan-perguruan tinggi dan sekolah manajemen.
Tapi, tidak
terlalu lama, sebagai akibat “ulah” para pemimpin bisnis yang gemar
bermain-main, perubahan tren perekonomian dan industri memaksa para
pakar dan pembelajar merubah lagi konsepnya dengan 6P, 8P bahkan yang
terakhir disebutkan sebagai 12P.
Terus bagaimana? Kalau kita
harus bersiaga setiap saat untuk belajar dan tidak ketinggalan zaman
dengan ilmu marketing, kapan kita berbisnis?
Saya rasa kita
semua banyak yang terjebak dan hanyut dalam “arus ilmu pengetahuan”
yang dibuat oleh mereka yang “pakar ilmu pengetahuan”, sehingga kita
tidak sempat lagi berinovasi yang justru merupakan kunci sukses bisnis.
Kita malah terus menerus “dipaksa” mengejar ketinggalan ilmu
pengetahuan tanpa tahu di mana ujung pangkalnya.
Pertanyaannya: ”Sebenarnya kita mau jadi pebisnis atau mau jadi ilmuwan sih?”
Saya
sendiri yakin bahwa bisnis dan kesuksesan itu adalah semacam permainan
saja. Seperti apa yang dikatakan oleh William Cohen dalam tulisannya
“The Art Of The Leader” : “Success is acquired by playing hard, not by
working hard..”.
Mengacu pada obsesi banyak orang tentang Bill
Gates dan Donald Trump sebagaimana disebut di atas, perlu diketahui
bahwa kedua orang tokoh ini pun mencapai sukses dari kesenangannya
bermain-main.
Bill Gates sejak masih berusia 13 tahun sudah
bermain-main dengan perangkat lunak komputer, dan dengan itu ia menjadi
salah satu orang terkaya di dunia. Donald Trump juga sejak kecil selalu
bermain-main ke kantor ayahnya, Fred Trump. Dia suka sekali
melihat-lihat maket gedung dan pencakar langit, sebelum tertarik dengan
bidang bisnis sang ayah, yaitu properti. Dan jadilah Donald Trump
seorang Raja Properti.
Terakhir yang ingin saya sampaikan
adalah, orang yang mempelajari ilmu kepemimpinan tidak akan menjadi
pemimpin. Tapi, orang yang mencoba menjadi pemimpin, akan menjadi
pemimpin. Demikian juga, orang yang mempelajari ilmu bisnis, tidak akan
menjadi pebisnis. Tapi, orang yang mencoba menjadi pebisnis, akan
menjadi pebisnis.
Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com