Archive for March, 2007

The Corporate Mystic: Sukses berbisnis dengan hati

Sunday, March 18th, 2007

Penulis: Gay Hendricks dan Kate Ludeman
Tahun 2002, 280 halamn
Harga 34000
ISBN: 979-9452-46-5

Pertanyaan mengenai apakah bisnis itu “kejam”, saat ini tidak relevan lagi. Wacana yang tertanam di benak masyarakat bahwa bisnis sangat jauh dari nilai-nilai sosial, bisnis hanya berorientasi profit dan bisnis tidak dapat dikaitkan nilai-nilai moral bagi kalangan usahawan di Indonesia akan segera berakhir. Kejayaan korporasi di zaman Soehartoisme, memberi pelajaran bagi pebisnis bahwa dalam jangka panjang bisnis yang dijalankan jauh dari nilai-nilai etis atau moral (KKN) akan menjadi boomerang dan menghancurkan bisnisnya sendiri.

Buku yang saat ini menjadi bahan pembicaraan dikalangan pebisnis adalah buku karangan dua orang akademisi, Gay Hendricks dan Kate Ludeman yang berjudul “The Corporate Mystics” mengupas akan tersebut hal diatas.

Tidak hanya di Idonesia, resesi ekonomi yang oleh Daryati P Ahmad (Panjimas 2003) yang menuliskan resensi buku Corporate Mystics, pada awal athun 1990-an sering dijadikan contoh bahwa bisnis semata-mata tidak terus membicarakan akan bagaimana memaksimalkan keuntungan bagi pemegam sahan (shareholder). Terpenting harus memanusiakan, mengambil langkah-langkah yang harmonis dengan seluruh partisipan di lingkungan tempat perusahaan berada seperti karyawan, masyarakat, pemerintah, pelangan yang disebut sebagai stakeholder.

Setelah mewawancarai tak kurang dari 1.000 jam dengan ratusan pengusaha dan eksekutif perusahaan sukses di Amerika Serikat, kedua penulis ini meyimpulkan bahwa para pebisnis memiliki sifat sifat yang biasanya dimiliki oleh para mistikus. Mereka sangat menjaga etika dan menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual. Mereka melihat perusahaan sebagai perwujudan kolektif roh, mengandalkaan intiusinya dan tahu bagaimana cara menggunakan pada saat yang diperlukan. Mereka menghadirkan bukan hanya dompet melainkan juga hati dan jiwa mereka dalam bekerja yang disebut oleh penulis buku sebagai Mistikus Korporat.

Selanjutnya, para pebisnis yang diwawancarai itu disebut penulis buku memahami spritulitas yang dalam, mereka bekerja berasakan integritas, mengejar visinya dengan penuh semangat dan bergairah. Selain tiu mereka juga sebagai motivator yang sealu memacu potnesi orang-orang yang mereka temui. Mereka terjun ke dunia bisnis sebagai aktualisai kehendak kata hati dan jiwa disamping tentu untuk memenuhi kebutuhan ekonominya.

Dua penulis Gay Hendricks dan Kate, memaparkan 12 karakter pokok yanga da pada mistikus korporat. Diantaranya kejujuran, keadalian, pengenalan diri sendiri, fokus pada kontribusi, bekerja efisien, membangkitkan yang terbaik dalam diri sediri dan orang lain terbuka menerima perubahan, keseimbangan, disiplin dan visi jauh ke depan serta focus perhatian pada yang didepan mata.

Buku ini sangat baik dibaca oleh mahasiswa yang menggeluti bidang manajemen, dosen maupun para pelaku bisnis. Adanya buku ini memberi paradigma baru akan makin konvergennya konsep-konsep bisnis dengan konsep-konsep sosial bahkan konsep-konsep keagamaan. Bisnis yang sebelumnya (kita anggap) dapat secara lebih baik diatur oleh egoisme, kepentingan pribadi dan sikap-sikap asosial dan tidak etis, kini mulai terbukti lebih membutuhkan sifat-sifat sosial agar dapat menjadi lebih viable (bertahan hidup terus menerus).

Andi Nur Bau Massepe
Mahasiswa Magister Manajemen UGM
Jogjakarta. Desember 2003

Ikatan Alumni; lebih dari organisasi arisan

Friday, March 16th, 2007

Menjadi alumni sebuah almamater yang terkenal, bergengsi dan berprestasi tentu memberi kebangaan sendiri bagi alumnusnya. Secara tidak sadar akan ada rasa bangga bila memasang stiker di mobil berupa logo atau lambang tempat sekolah atau kuliah dulu. Ditambah lagi kalau “bekas” tempat belajar kita akhirnya ditaburi oleh bintang-bintang orang beken, entah itu bintang sinetron, bintang Indonesian Idol, bintang politik, bintang pengusaha sukses, bintang menteri atau segala macam yang top-top lah.

Rasa bangga itu pasti akan selalu meng-haru biru dalam perasaan. Padahal belum tentu lawan bicara kita bisa merasa apa yang sedang berkecamuk dalam hati kita bila kita adalah alumnus dari sekolah itu.

Rasa Pesimis

Di Kongres I SMAnSA Makassar yang diadakan di Hotel Clarion (9/11/06) sempat terlontar nada pesimis dari salah seorang peserta kongres. Mungkin rasa pesimis itu timbul setelah melihat serunya perdebatan suatu bab dalam AD/ART yang dibahas. Bahkan sampai-sampai terjadi debat-kusir. Ia pun menginterupsi dan mengeluarkan pernyataan bahwa untuk apalah ngotot-ngototan seperti itu, toh organisasi seperti ini hanya sedikit lebih tinggi levelnya dari arisan.

Pernyataan itu menggugah nurani saya, dan bertanya dalam hati, benarkah organisasi semacam IKA lebih sedikit dari sekedar arisan ?. Kalau pengertian arisan yang dimaksud orang tersebut sama seperti kebanyakan orang yaitu tempat kumpul-kumpul yang umumnya dilakukan oleh ibu-ibu “kurang kerjaan” untuk bicara ngorol-ngidul, gossip sana-sini, abis itu pamer barang baru, bla..bla..bla sampai siapa yang menang arisan dan  disepakati di mana arisan berikutnya, maka itu sungguh suatu ironi.

Lalu, akankah IKA SMAnSA demikian? Jawabnya tentu tidak. Namun, bila tidak ingin dicap sebagai organisasi yang sedikit di atas organisasi arisan, maka perlu pengurus IKA SMAnSA untuk memikirkan dan mewujudkan sebuah organisasi yang sesuai dengan amanah Kongres I yang tertuang dalam AD/ART yang di mana tersirat keinginan untuk menghasilkan suatu karya, adanya  partisipasi dan kontribusi positif bagi alumni & masyarakat, serta inovasi yang terbaru bagi kemaslahatan orang banyak.

Tiga Motivasi

Setidaknya ada tiga hal yang dapat menjadi motivasi sebuah ikatan alumni itu didirikan.
Pertama :  Silaturahmi.

Hal yang paling indah adalah mengenang masa-masa “suka-duka” belajar di sekolah. Dulu waktu SMA,  tentu akan sangat indah mengenang segala kekonyolan, keluguan, dan segala macam kisah buruk maupun kisah indah.

Kalau lagi kongkow-kongkow sama teman-teman Se-SMA dulu, obrolan akan seru dan berubah jadi gelak tawa (sangat bagus untuk menghilangkan kepenatan habis pulang kerja) bila menceritakan kisah lucu & konyol  dari seorang teman. Kelucuan cerita-cerita konyol  itu sampai-sampai membuat kita sakit perut.  Bahkan saking lucunya bisa mengeluarkan air mata.

Silaturahmi atau penulis membahasakannya merajut kembali persahabatan dan pertemanan yang mungkin sedang renggang, karena waktu dan jarak yang sempat memisahkan. Tidak jarang dari  di event yang IKA adakan, banyak alumni yang baru  bertemu kembali dengan teman yang sudah hampir 10 tahun bahkan 25 tahun tidak ketemu.

Kedua : Ajang untuk beraktualisasi diri.

Aktualisasi dalam arti memberi kontribusi kepada sesama sebagai wujud kepedulian atas suatu hal. Contohnya, mengadakan bakti sosial & semacamnya. Kegiatan bakti sosial tersebut adalah wujud rasa ingin  mengabdi untuk kebaikan masyarakat. Berbagi ilmu, berbagi materi sebagai rasa syukur kepada Allah SWT dan berbagi lainnya . Tentunya ada kesenangan, kegembiraan,  keceriaan, serta suatu Kebahagiaan tersendiri kalau bersama teman-teman belajar kita dulu dan se-almamater dengan kita, bisa bersama-sama berbuat baik kepada masyarakat banyak.

Ketiga: Mencari peluang dan berbagi Kepentingan.

Motivasi ini akan sering muncul dari suatu yang namanya organisasi. Entah itu kepentingan yang bermotif ekonomi (materi), politik, meningkatkan karir, kesempatan untuk belajar, dan kepentingan lainnya. Inilah yang sering menimbulkan konflik dalam organisasi (conflict of interest).  Namun jika dilihat dari sisi positif, kalau semua kepentingan itu dapat kita sinergikan, sehingga menciptakan sebuah peluang bisnis yang win-win, maka mengapa tidak ?

Uraian tadi adalah peluang yang bisa kita ciptakan dari sebuah organisasi ikatan alumni. Tentu, untuk mewujudkan tidaklah mudah. Hal yang paling berat adalah bagaimana meng-organizingnya. Belum tentu ada  yang mau action untuk mewujudkannya.
Maklum setiap anggota tentu punya prioritas utama dalam hidupnya. Mereka sudah punya jadwal tersendiri, sehingga sangat dimaklumi jika ada anggota yang aktif, pasif, dan sekedar sebagai penggembira. Tapi itulah dinamika organisasi. Diperlukan suatu keahlian yang bagus, Good Leadership, Good Management Skill, Time Management yang excellent, dan yang paling penting adalah adanya saling pengertian, toleransi dan kedisiplinan bagi anggotanya, mengingat organisasi ini merupakan organisasi nirlaba yang lebih banyak nilai sosial dan pendidikannya dibanding motif ekonomi.

Bagaimana pun juga, tentu setiap orang ingin yang terbaik baik organisasinya. Tentu kita tidak akan mau bergabung pada sebuah organisasi yang NATO (No Action Talk Only) karena itu akan wasting time.  Selamat berorganisasi. Sukses IKA SMAnSA Makassar ! (*)

Andi Muh Nur Bau Massepe
Penulis adalah alumni angkatan 1996 dan Wakil Sekretaris Bidang Infokom IKA SMAnSA Makassar