Archive for December, 2007

Tuhan, Antara ada dan tiada

Sunday, December 23rd, 2007

Allah
Seorang konsumen
datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya.

 
Si tukang cukur mulai
memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai
menghangat.

 
Mereka membicarakan banyak
hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan
beralih tentang Tuhan.

 
Si tukang cukur
bilang,"Saya tidak percaya Tuhan itu ada".

 
"Kenapa kamu
berkata begitu ???" timpal si konsumen.

 
"Begini, coba
Anda perhatikan di depan sana , di jalanan… untuk menyadari bahwa Tuhan itu
tidak ada.
Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada,
Adakah yang sakit??,
Adakah anak terlantar??
Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan.
Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini
semua terjadi."

 
Si konsumen diam untuk
berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu
pendapat.

 
Si tukang cukur
menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang
cukur.

 
Beberapa saat setelah
dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang
panjang, berombak kasar (mlungker-mlungker- istilah jawa-nya), kotor dan brewok
yang tidak dicukur.
Orang itu
terlihat kotor dan tidak terawat.

 
Si konsumen balik ke
tempat tukang cukur dan berkata, "Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG
CUKUR."

 
Si tukang cukur tidak
terima," Kamu kok bisa bilang begitu ??".
"Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!"

 
"Tidak!"
elak si konsumen.
"Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan
rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana ",
si konsumen menambahkan.

 
"Ah tidak, tapi
tukang cukur tetap ada!", sanggah si tukang cukur.
" Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak
datang ke saya", jawab si tukang cukur membela diri.

 
"Cocok!"
kata si konsumen menyetujui.
"Itulah point utama-nya!.
Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA !
Tapi apa yang terjadi… orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU
MENCARI-NYA.
Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini."

 
Si tukang cukur
terbengong !!!


 
 
(sumber: internet, unknown)

Pesan: apa yang kita pikir bahwa Tuhan tidak ada itu benar, dan kalau Tuhan itu ada juga benar. Hidup selalu dihadakan pilihan, yang mana Anda pilih. Jika kita memang beriman, jangan ragukan lagi ke tiadaan Tuhan.

Siapa elo?

Thursday, December 20th, 2007

Tulisan yang menarik dari Samuel Mulia, penulis di kolom urban life di kompas setiap minggu. Saya senang banget membacanya, karena cara menulisnya yang cukuup unik, mejelek-jelekkan diri sendiri, tapi penuh refleksi,

selamat membaca…!!

——

Siapa elo?
samuel mulia, penulis mode dan gaya hidup

Di akhir pekan lalu, saya berkumpul bersama
sahabat-sahabat saya sambil menikmati makanan italia buatan salah satu
teman saya itu. Di tengah goyangan pasta, ada menu asinan betawi.
Benar-benar menu mancanegara.

Di seputaran kolam renang itu kami mengobrol ke sana kemari.
Kebetulan sahabat-sahabat saya itu berprofesi seperti menu siang itu.
Dari yang bekerja di rumah pelelangan sampai yang mengelola gedung,
tanpa melupakan yang memiliki salon dan seorang seniman.

Seorang wanita salah satu dari sahabat-sahabat saya itu bekerja di
sebuah bank yang baru saja melakukan aksi perampingan karyawan. Jadi,
ternyata yang bercita-cita memiliki "tubuh" ramping bukan cuma manusia.
Saya berpikir, perusahaannya sudah dibantu sekian tahun dengan
manusia-manusia ini sampai sukses dan setia, dan ketika keuntungan
berkurang dan mulai panik, maka salah satunya melakukan perampingan.
"Kata setia itu gak ada lagi, Mas," celetuk teman saya.

Sahabat saya bercerita bahwa ia sempat deg-degan apakah ia juga
dimasukkan ke dalam program pelangsingan—yang bisa membuat orang tak
bisa tidur itu, dan malah benar-benar langsing karena stres—meski
imbalannya, menurut cerita sahabat saya itu, mencapai enam puluh kali
gaji.

Ia menjadi bingung. Bagaimana kalau seandainya aksi pengurangan
pegawai itu menimpa dirinya, dan ia sampai harus mencari pekerjaan lagi
meski angka enam puluh kali sekian juta bisa ia genggam. Saya senang
mendengar ceritanya itu, apalagi ucapannya yang terakhir. "Gue bisa aja
dapat uang sebanyak itu, tetapi siapa gue setelah gak kerja di sana?"

"Mas dari mana, ya?"

Siapa gue. Sebuah pertanyaan yang penting sekali tampaknya. Saya
kemudian mengingat bahwa kejadian itu juga pernah saya alami. Beberapa
waktu lalu saya bertemu dengan klien saya yang kebetulan dulu pernah
menjadi manajer iklan di majalah di mana saya bekerja. Ia kini bekerja
di sebuah hotel berbintang. Suatu hari saya bertemu dengannya di
kantornya di salah satu gedung pencakar langit di kawasan Sudirman.
Saya tiba di reception.

"Selamat pagi, Mbak. Saya Samuel Mulia, ingin bertemu dengan Ibu
Santi," jelas saya. Dengan senyum ramahnya ia membalas, "Pak Samuel
dari mana, ya?" Saat ia menanyakan itu, saya gelagapan, benar-benar tak
bisa menjawab, malah saya balik bertanya, "Dari mana ya, Mbak?" Tentu
saya tak bisa menjawab bahwa saya dari rumah. Saya mengerti sepenuhnya
bahwa pertanyaan dari mananya itu dimaksudkan sebagai nama perusahaan
di mana saya bekerja.

Masalahnya, saya sekarang tak bekerja di sebuah perusahaan atau
institusi apa pun. Sebagai konsultan media pemula dan ecek-ecek, saya
belum berani membuat perusahaan. Jadi saya bingung, benar-benar KO
mendengar pertanyaan si Mbak. Kemudian karena saya memang tidak dari
mana-mana, saya mengatakan saya ini temannya Ibu Santi.

Wajah ramah dan senyumnya berubah menjadi ketus. Mungkin ia
berpikir, ini bukan waktunya main-main dan mengunjungi teman saat jam
bekerja. Saya cuma menggerutu dalam hati, yaaa… beginilah kalau
keramahan hanya menjadi sebuah kewajiban dan tak datang dari nurani.
Saya malu sendiri karena setelah menggerutu, saya jadi ingat suara
teman saya yang suka nyeletuk, "Bukannya elo juga kayak gitu."

Setelah pertemuan itu, di dalam taksi menuju ke tempat pertemuan
berikutnya, saya berpikir lagi, apakah saya akan ditanya lagi saya dari
mana? Kemudian saya malah jadi bertanya kepada diri saya sendiri,
siapakah saya ini? Siapakah saya selama ini di mata saya dan di mata
orang lain? Saat itu mata saya terbuka bahwa selama ini saya melabelkan
orang dan diri saya sendiri dengan nama institusi di mana tempat
bekerja. Karena berbelas tahun melabelkan dan kemudian menjadi
kebiasaan, maka ketika si Mbak receptionist mengajukan pertanyaan dari
mana, saya kebingungan karena "nama belakang" saya kini sudah tak ada
lagi.

Kalau Paris itu (bukan) Hilton

Saya sampai berpikir apakah orang mengenal saya seperti ini. Samuel itu loh yang nulis di Kompas. Tentu nama Kompas
sudah seperti nama Krisdayanti. Sambil merem dan mimpi saja bisa
teringat. Atau Samuel itu loh yang kerja di Bank ABC. Dan tak hanya
label institusi, tetapi juga sampai menyerempet dengan urusan nama
keluarga dan perilaku. Samuel itu elo yang anaknya Jenderal Kancil.
Masak gak tahu sih, Samuel itu loh, dia kan cucunya pengusaha guling.
Kakeknya kan dulu membuat guling dan bantal, baru aja meninggal.
Kakeknya kan dulu nakal. Makanya, cucunya sami mawon. Samuel itu elo
yang dulu kerja di majalah pisang jambu, yang sok tahu itu, yang
mulutnya nggak disekolahin. Samuel itu elo, yang bekas berselingkuh ama
penyanyi keroncong.

Beberapa hari setelah kumpul- kumpul di tepi kolam renang, saya
melihat tayangan bagaimana sejuta media meliput masuknya Paris Hilton
ke penjara. Berbagai media berkomentar ini dan itu. Saya membayangkan
bagaimana kalau Paris itu bukan Hilton? Cuma perempuan biasa yang tidak
punya kaitan dengan nama belakangnya? Akankah sejuta media
mengerumuninya? Siapakah Paris tanpa Hilton? "Yaaa… itu kan ibu kota
Perancis," celetuk teman saya.

Ya, siapakah saya ini kalau saya tak punya predikat apa pun, tidak
bekerja di bank kondang atau anak orang kondang? Saat saya pindah kerja
dari perusahaan besar ke perusahaan ecek-ecek, klien-klien saya yang
dahulu baik dan memberikan saya perlakuan istimewa tiba-tiba tak
mengenal saya, memberi kesusahan saat meminta janji temu, kalaupun
baik, hanya sekadarnya. Harus diakui, saya merindukan untuk kembali
memiliki nama belakang, dan tentu saya memilih yang besar dan terkenal
kalau perlu.

Dan kadang ketika saya tak punya nama belakang yang besar dan
kondang, saya mencari-cari dengan melakukan perilaku yang mengundang
orang untuk membicarakan, agar nama yang tak ada apa-apanya itu menjadi
apa- apanya dong. Kalau dimisalkan sebuah brand, maka ketika saya mem-build brand saya, saya membangun dengan cara yang provokatif sehingga memancing perhatian orang, yang sensasional, meski brand saya sendiri tak ada istimewanya sama sekali.

Jadi, memiliki nama besar di belakang yang bukan nama saya sendiri
membuat saya seperti ketagihan bak pengguna narkoba. Sekali dilepas,
maka saya jadi sakau. Teman saya dengan polos bertanya, "Mas, jadi
sekarang Mas ini siapa?"

http://www.kompascommunity.com/index.php?fuseaction=home.urban

POWER OF THE VERBS

Thursday, December 20th, 2007

Saya kutip dari blognya pak Rusman Hakim (salah seorang pengamat kewirausahaan) yang tulisannya saya rasa cukup mencerahkan.

———–
POWER OF THE VERBS

Dalam suatu seminar, seorang peserta berkeluh-kesah kepada Stephen
Covey, bahwa kehidupan rumah tangganya tidak bahagia. Ia dan isterinya
sudah tidak sepaham lagi, sehingga terlalu banyak pertengkaran yang
terjadi. Oleh sebab itu, ia ingin Covey memberinya jalan keluar. “Apa
yang harus saya lakukan, Tuan Covey?” demikian ia bertanya.

Setelah berfikir sejenak Stephen Covey menjawab: “Cintai isterimu..”

Sang
penanya tertegun, lalu ia menegaskan: “Anda tahu Stephen, saya sudah
tidak cinta lagi pada isteri saya. Jadi apa yang harus saya perbuat?”

“Cintai isterimu..”, Stephen Covey mengulangi jawabannya.

“Anda
tentu tidak mengerti bahwa sesungguhnya sudah tidak ada lagi perasaan
cinta di hati saya terhadap dia..” sang peserta tetap pada pendiriannya.

“Kawan..!
Yang saya maksud di sini adalah ‘cinta’ dalam kata kerja. Bukan
‘perasaan cinta’ sebagai kata benda atau kata keadaan. Jadi Anda harus
mencintai isteri Anda dalam kata kerja. Lakukanlah, cintai isteri Anda
dan Anda akan menemukan cinta itu kembali..”

Meski petikan
dialog di atas kelihatan sederhana, namun sebenarnya yang dibahas oleh
Stephen Covey adalah sebuah kunci kesuksesan hidup. Sebuah “resep
rahasia” yang akan mampu menuntun manusia ke arah kebahagiaan sejati
dalam kehidupan yang hingar-bingar ini. Mengapa demikian?

Sebagian
besar orang memang lebih banyak menggantungkan kebahagiaan hidupnya
pada “kata benda” atau “kata keadaan”. Lebih tepatnya, pada “sesuatu”
baik berupa benda, orang atau pun lingkungan.

Yang lebih
mengherankan adalah kenyataan bahwa rata-rata manusia hanya mau atau
hanya bisa berbahagia, kalau ada alasan tertentu untuk itu. Coba
perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini:

“Saya akan sangat berbahagia bila saya berhasil menjadi orang kaya..!”

“Mobil
mewah itu sungguh bagus, berteknologi tinggi serta memberikan prestise
tersendiri. Alangkah berbahagianya bila saya dapat memilikinya..”

“Dunia serasa gelap, dan tiada lagi kebahagiaan yang tersisa semenjak saya ditinggal oleh kekasih yang sangat saya cintai..”

“Hari mendung menjelang hujan lebat, jalanan macet pula.  Hati saya benar-benar tertekan hari ini..”

Empat
contoh kalimat di atas menunjukkan secara jelas, betapa banyak orang
yang menggantungkan kebahagiaanya pada keadaan (kekayaan), pada benda
(mobil mewah), pada orang (kekasih) dan pada lingkungan (cuaca mendung
dan jalan macet).

Padahal, kalau kita mau berfikir jernih,
mengapa pula kebahagiaan itu harus dilekatkan pada hal-hal di luar
kita, baik benda, orang, keadaan mau pun lingkungan?

Kekuatan Kata Kerja

Sejak
kelahiran manusia pertama di atas bumi, Tuhan Yang Maha Esa telah
memberi perintah agar manusia aktif bekerja untuk dapat mempertahankan
hidup. Dalam segala hal, manusia harus “taking action”, maka itu
artinya ia harus selalu berada dalam lingkup kata kerja.

Patut
disyukuri bahwasanya kesadaran dan etos kerja manusia secara fisik
berkembang pesat, sehingga tingkat kemajuan teknologi di dunia industri
sekarang sudah sedemikian majunya.

Namun apa lacur, kalau pun
kekuatan kata kerja telah mampu membawa kemajuan di tingkat fisik,
tidak demikian halnya di tingkat mental. Hampir semua orang berfikir
bahwa kekuatan kata kerja hanya berlaku atas segala sesuatu yang kita
kerjakan secara fisik. Nyaris tidak pernah terfikir bahwa kekuatan kata
kerja juga berlaku atas aktivitas-aktivitas mental dan emosi.

Ambil
contoh, emosi-emosi negatif seperti kecewa, marah, takut atau perasaan
tertekan, adalah unsur-unsur mental yang dianggap sebagai suatu
“keadaan” atau “kondisi”, yang terjadi sebagai akibat pengaruh-pengaruh
dari luar. Karena merupakan akibat dari pengaruh luar, maka emosi-emosi
semacam itu tidak dapat dikontrol oleh yang bersangkutan.

Nyaris
tidak ada orang yang mau berspekulasi bahwa emosi sebenarnya juga
merupakan aktivitas manusia yang bisa dikendalikan oleh yang empunya
tubuh. Aktivitas yang tentunya bisa dilakukan oleh manusia berdasarkan
“kata kerja”.

Penyanyi seriosa sekaliber Surti Suwandi atau
Pranawengrum, mampu menstimulir dirinya saat menyanyikan lagu sedih,
sampai menangis mengeluarkan airmata yang tidak sedikit. Demikian juga
apa yang dilakukan oleh para penyanyi opera dan artis film drama.

Hal
tersebut merupakan bukti kecil dan sederhana, bahwa emosi pun bisa
“dilakukan”. Dan itulah juga yang sesungguhnya dimaksud oleh Stephen
Covey, bahwa “cinta” bukanlah sekadar keadaan emosi yang terjadi dengan
sendirinya. Cinta adalah juga sebuah aktivitas manusia yang bisa
dilakukan kapan saja sesuai dengan inisiatif si pelaku.

Bahagia dan Sukses Juga Merupakan Kata Kerja

Kita
perlu prihatin, bahwa sebagian besar orang menganggap seakan-akan
kebahagiaan hanya akan datang kalau ada pemicunya, apakah itu berupa
harta benda, perhatian atau kasih sayang seseorang, atau stimulus lain.

Hal
ini perlu dikoreksi. Sesungguhnya, kebahagiaan dapat dikendalikan
sesuai dengan inisiatif orang yang bersangkutan. Jim Dorner, seorang
tokoh kepemimpinan pernah mengatakan bahwa manusia sudah sepantasnya
berbahagia, dan itu bisa diperoleh cukup dengan mengatakan: ”I want to
be happy! I don’t want to be unhappy!”, tanpa mengait-ngaitkannya
dengan faktor luar.

Memang, sesuai dengan hukum sebab dan
akibat, segala sesuatu yang terjadi senantiasa karena ada suatu alasan
yang melatarbelakanginya. Kekeliruan yang selama ini dilakukan oleh
banyak orang sehingga mereka sulit untuk merasa bahagia secara terus
menerus adalah bahwa latar belakang kebahagiaan mereka selalu
diletakkan pada obyek-obyek luar yang mudah lenyap serta di luar
kendalinya.

Padahal, sumber-sumber daya yang permanen ada pada
diri kita sendiri merupakan alasan terbaik untuk kita bisa selalu
merasa bahagia.

Apa saja? Banyak, antara lain keyakinan akan
diri, kepiawaian dalam bidang-bidang tertentu, profesionalisme,
semangat dan daya juang, naluri avonturisme, proaktivitas, motivasi,
visi, serta kedekatan kita dengan Tuhan. Dengan latihan dan kesadaran
akan berbagai kemampuan pribadi inilah, pada akhirnya kita akan
terbiasa untuk berbahagia setiap saat, tanpa perlu melihat materi luar
apa yang kita miliki.

Pertanyaannya adalah, bagaimana mungkin
komponen-komponen tak kasat mata (intangible) seperti semangat,
kepiawaian, motivasi, kepercayaan diri dan sebagainya itu dapat menjadi
alasan untuk kita berbahagia? Bukankah lebih realistis kalau orang
merasa bahagia karena memperoleh banyak uang, memiliki rumah besar dan
mobil mewah?

Seperti telah disinggung di atas, uang, rumah
besar, mobil mewah dan bahkan kasih sayang orang lain, adalah
unsur-unsur luar yang tidak sepenuhnya berada di bawah kendali kita.
Sifatnya situasional, sehingga setiap saat bisa saja lenyap dari
kepemilikan kita.

Sebaliknya, kemampuan diri pribadi merupakan
“mesin kehidupan” yang kita miliki secara abadi, tidak akan hilang
sepanjang hayat masih dikandung badan. Uang, mobil serta harta benda
lainnya mudah diperoleh asalkan kita mau bekerja memanfaatkan “mesin
kehidupan” tersebut secara tepat dan benar.

Silahkan direnungkan.(rh)

*** Artikel ini dapat Anda baca juga di portal wirausaha http://www.gacerindo.com, dilengkapi dengan gambar.

Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
LifeWisdom Presenter
E-mail: rusman@gacerindo.com
Portal: http://www.gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com

desember 2007

Thursday, December 20th, 2007

Alo,
Menulis dan meng update sebuah blog nampaknya bukan pekerjaan yang mudah. Saya rasa sendiri sampai saat ini "terkena" penyakit malas menulis dan menulis. Padahal inginnya sih punya blog saya rajin memposting tulisan-tulisan di blog ini.

Mungkin aktifitas saya yang terlalu banyak. Pertama, aktifitas saya sebagai mahasiswa di program S-3 UNHAS (padahal saya ingin menulis tetang "mengapa saya mengambil kuliah S-3-isinya segala curhat dan pikiran tentang kuliah di S-3 bagi saya) sampai sekarang belum selesai ditulis.

Aktifitas kedua, mengajar di STMIK DIPANEGARA semester ini saya hanya mengajar 6 kelas dengan satu mata kuliah yaitu Kecakapan Antar Personal (Interpersonal skill), mata kuliah yang lebih banyak bercerita dan memotivasi mahasiswa. Tentang sharing menjadi dosen sekali lagi saya ingin menulis tapi kok tidak selesai tulisan tentang pengalaman menjadi dosen.

Ketiga, aktif di organisasi IMA (Indonesia Marketing Association) walaupun saat ini saya sudah mengurangi untuk tidak aktif disana, tapi cukup menuntut waktu dan energi juga.

Sebenarnya blog ini mungkin menjadi tulisan terakhir di tahun 2007 ini. Wow, tidak terasa waktu berganti lagi ya. Sudah masuk tahun 2008. Mudah-mudahan denagn pergantian tahun ini semakin baik dan semakin majulah saya.

Selamat tahun baru semua kawan ku..!
Semoga tahun 2008 ini semakin baik dan semakin maju juga buat kalian