Saya kutip dari blognya pak Rusman Hakim (salah seorang pengamat kewirausahaan) yang tulisannya saya rasa cukup mencerahkan.
———–
POWER OF THE VERBS
Dalam suatu seminar, seorang peserta berkeluh-kesah kepada Stephen
Covey, bahwa kehidupan rumah tangganya tidak bahagia. Ia dan isterinya
sudah tidak sepaham lagi, sehingga terlalu banyak pertengkaran yang
terjadi. Oleh sebab itu, ia ingin Covey memberinya jalan keluar. “Apa
yang harus saya lakukan, Tuan Covey?” demikian ia bertanya.
Setelah berfikir sejenak Stephen Covey menjawab: “Cintai isterimu..”
Sang
penanya tertegun, lalu ia menegaskan: “Anda tahu Stephen, saya sudah
tidak cinta lagi pada isteri saya. Jadi apa yang harus saya perbuat?”
“Cintai isterimu..”, Stephen Covey mengulangi jawabannya.
“Anda
tentu tidak mengerti bahwa sesungguhnya sudah tidak ada lagi perasaan
cinta di hati saya terhadap dia..” sang peserta tetap pada pendiriannya.
“Kawan..!
Yang saya maksud di sini adalah ‘cinta’ dalam kata kerja. Bukan
‘perasaan cinta’ sebagai kata benda atau kata keadaan. Jadi Anda harus
mencintai isteri Anda dalam kata kerja. Lakukanlah, cintai isteri Anda
dan Anda akan menemukan cinta itu kembali..”
Meski petikan
dialog di atas kelihatan sederhana, namun sebenarnya yang dibahas oleh
Stephen Covey adalah sebuah kunci kesuksesan hidup. Sebuah “resep
rahasia” yang akan mampu menuntun manusia ke arah kebahagiaan sejati
dalam kehidupan yang hingar-bingar ini. Mengapa demikian?
Sebagian
besar orang memang lebih banyak menggantungkan kebahagiaan hidupnya
pada “kata benda” atau “kata keadaan”. Lebih tepatnya, pada “sesuatu”
baik berupa benda, orang atau pun lingkungan.
Yang lebih
mengherankan adalah kenyataan bahwa rata-rata manusia hanya mau atau
hanya bisa berbahagia, kalau ada alasan tertentu untuk itu. Coba
perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini:
“Saya akan sangat berbahagia bila saya berhasil menjadi orang kaya..!”
“Mobil
mewah itu sungguh bagus, berteknologi tinggi serta memberikan prestise
tersendiri. Alangkah berbahagianya bila saya dapat memilikinya..”
“Dunia serasa gelap, dan tiada lagi kebahagiaan yang tersisa semenjak saya ditinggal oleh kekasih yang sangat saya cintai..”
“Hari mendung menjelang hujan lebat, jalanan macet pula. Hati saya benar-benar tertekan hari ini..”
Empat
contoh kalimat di atas menunjukkan secara jelas, betapa banyak orang
yang menggantungkan kebahagiaanya pada keadaan (kekayaan), pada benda
(mobil mewah), pada orang (kekasih) dan pada lingkungan (cuaca mendung
dan jalan macet).
Padahal, kalau kita mau berfikir jernih,
mengapa pula kebahagiaan itu harus dilekatkan pada hal-hal di luar
kita, baik benda, orang, keadaan mau pun lingkungan?
Kekuatan Kata Kerja
Sejak
kelahiran manusia pertama di atas bumi, Tuhan Yang Maha Esa telah
memberi perintah agar manusia aktif bekerja untuk dapat mempertahankan
hidup. Dalam segala hal, manusia harus “taking action”, maka itu
artinya ia harus selalu berada dalam lingkup kata kerja.
Patut
disyukuri bahwasanya kesadaran dan etos kerja manusia secara fisik
berkembang pesat, sehingga tingkat kemajuan teknologi di dunia industri
sekarang sudah sedemikian majunya.
Namun apa lacur, kalau pun
kekuatan kata kerja telah mampu membawa kemajuan di tingkat fisik,
tidak demikian halnya di tingkat mental. Hampir semua orang berfikir
bahwa kekuatan kata kerja hanya berlaku atas segala sesuatu yang kita
kerjakan secara fisik. Nyaris tidak pernah terfikir bahwa kekuatan kata
kerja juga berlaku atas aktivitas-aktivitas mental dan emosi.
Ambil
contoh, emosi-emosi negatif seperti kecewa, marah, takut atau perasaan
tertekan, adalah unsur-unsur mental yang dianggap sebagai suatu
“keadaan” atau “kondisi”, yang terjadi sebagai akibat pengaruh-pengaruh
dari luar. Karena merupakan akibat dari pengaruh luar, maka emosi-emosi
semacam itu tidak dapat dikontrol oleh yang bersangkutan.
Nyaris
tidak ada orang yang mau berspekulasi bahwa emosi sebenarnya juga
merupakan aktivitas manusia yang bisa dikendalikan oleh yang empunya
tubuh. Aktivitas yang tentunya bisa dilakukan oleh manusia berdasarkan
“kata kerja”.
Penyanyi seriosa sekaliber Surti Suwandi atau
Pranawengrum, mampu menstimulir dirinya saat menyanyikan lagu sedih,
sampai menangis mengeluarkan airmata yang tidak sedikit. Demikian juga
apa yang dilakukan oleh para penyanyi opera dan artis film drama.
Hal
tersebut merupakan bukti kecil dan sederhana, bahwa emosi pun bisa
“dilakukan”. Dan itulah juga yang sesungguhnya dimaksud oleh Stephen
Covey, bahwa “cinta” bukanlah sekadar keadaan emosi yang terjadi dengan
sendirinya. Cinta adalah juga sebuah aktivitas manusia yang bisa
dilakukan kapan saja sesuai dengan inisiatif si pelaku.
Bahagia dan Sukses Juga Merupakan Kata Kerja
Kita
perlu prihatin, bahwa sebagian besar orang menganggap seakan-akan
kebahagiaan hanya akan datang kalau ada pemicunya, apakah itu berupa
harta benda, perhatian atau kasih sayang seseorang, atau stimulus lain.
Hal
ini perlu dikoreksi. Sesungguhnya, kebahagiaan dapat dikendalikan
sesuai dengan inisiatif orang yang bersangkutan. Jim Dorner, seorang
tokoh kepemimpinan pernah mengatakan bahwa manusia sudah sepantasnya
berbahagia, dan itu bisa diperoleh cukup dengan mengatakan: ”I want to
be happy! I don’t want to be unhappy!”, tanpa mengait-ngaitkannya
dengan faktor luar.
Memang, sesuai dengan hukum sebab dan
akibat, segala sesuatu yang terjadi senantiasa karena ada suatu alasan
yang melatarbelakanginya. Kekeliruan yang selama ini dilakukan oleh
banyak orang sehingga mereka sulit untuk merasa bahagia secara terus
menerus adalah bahwa latar belakang kebahagiaan mereka selalu
diletakkan pada obyek-obyek luar yang mudah lenyap serta di luar
kendalinya.
Padahal, sumber-sumber daya yang permanen ada pada
diri kita sendiri merupakan alasan terbaik untuk kita bisa selalu
merasa bahagia.
Apa saja? Banyak, antara lain keyakinan akan
diri, kepiawaian dalam bidang-bidang tertentu, profesionalisme,
semangat dan daya juang, naluri avonturisme, proaktivitas, motivasi,
visi, serta kedekatan kita dengan Tuhan. Dengan latihan dan kesadaran
akan berbagai kemampuan pribadi inilah, pada akhirnya kita akan
terbiasa untuk berbahagia setiap saat, tanpa perlu melihat materi luar
apa yang kita miliki.
Pertanyaannya adalah, bagaimana mungkin
komponen-komponen tak kasat mata (intangible) seperti semangat,
kepiawaian, motivasi, kepercayaan diri dan sebagainya itu dapat menjadi
alasan untuk kita berbahagia? Bukankah lebih realistis kalau orang
merasa bahagia karena memperoleh banyak uang, memiliki rumah besar dan
mobil mewah?
Seperti telah disinggung di atas, uang, rumah
besar, mobil mewah dan bahkan kasih sayang orang lain, adalah
unsur-unsur luar yang tidak sepenuhnya berada di bawah kendali kita.
Sifatnya situasional, sehingga setiap saat bisa saja lenyap dari
kepemilikan kita.
Sebaliknya, kemampuan diri pribadi merupakan
“mesin kehidupan” yang kita miliki secara abadi, tidak akan hilang
sepanjang hayat masih dikandung badan. Uang, mobil serta harta benda
lainnya mudah diperoleh asalkan kita mau bekerja memanfaatkan “mesin
kehidupan” tersebut secara tepat dan benar.
Silahkan direnungkan.(rh)
*** Artikel ini dapat Anda baca juga di portal wirausaha http://www.gacerindo.com, dilengkapi dengan gambar.
Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
LifeWisdom Presenter
E-mail: rusman@gacerindo.com
Portal: http://www.gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com