Siapa elo?

Tulisan yang menarik dari Samuel Mulia, penulis di kolom urban life di kompas setiap minggu. Saya senang banget membacanya, karena cara menulisnya yang cukuup unik, mejelek-jelekkan diri sendiri, tapi penuh refleksi,

selamat membaca…!!

——

Siapa elo?
samuel mulia, penulis mode dan gaya hidup

Di akhir pekan lalu, saya berkumpul bersama
sahabat-sahabat saya sambil menikmati makanan italia buatan salah satu
teman saya itu. Di tengah goyangan pasta, ada menu asinan betawi.
Benar-benar menu mancanegara.

Di seputaran kolam renang itu kami mengobrol ke sana kemari.
Kebetulan sahabat-sahabat saya itu berprofesi seperti menu siang itu.
Dari yang bekerja di rumah pelelangan sampai yang mengelola gedung,
tanpa melupakan yang memiliki salon dan seorang seniman.

Seorang wanita salah satu dari sahabat-sahabat saya itu bekerja di
sebuah bank yang baru saja melakukan aksi perampingan karyawan. Jadi,
ternyata yang bercita-cita memiliki "tubuh" ramping bukan cuma manusia.
Saya berpikir, perusahaannya sudah dibantu sekian tahun dengan
manusia-manusia ini sampai sukses dan setia, dan ketika keuntungan
berkurang dan mulai panik, maka salah satunya melakukan perampingan.
"Kata setia itu gak ada lagi, Mas," celetuk teman saya.

Sahabat saya bercerita bahwa ia sempat deg-degan apakah ia juga
dimasukkan ke dalam program pelangsingan—yang bisa membuat orang tak
bisa tidur itu, dan malah benar-benar langsing karena stres—meski
imbalannya, menurut cerita sahabat saya itu, mencapai enam puluh kali
gaji.

Ia menjadi bingung. Bagaimana kalau seandainya aksi pengurangan
pegawai itu menimpa dirinya, dan ia sampai harus mencari pekerjaan lagi
meski angka enam puluh kali sekian juta bisa ia genggam. Saya senang
mendengar ceritanya itu, apalagi ucapannya yang terakhir. "Gue bisa aja
dapat uang sebanyak itu, tetapi siapa gue setelah gak kerja di sana?"

"Mas dari mana, ya?"

Siapa gue. Sebuah pertanyaan yang penting sekali tampaknya. Saya
kemudian mengingat bahwa kejadian itu juga pernah saya alami. Beberapa
waktu lalu saya bertemu dengan klien saya yang kebetulan dulu pernah
menjadi manajer iklan di majalah di mana saya bekerja. Ia kini bekerja
di sebuah hotel berbintang. Suatu hari saya bertemu dengannya di
kantornya di salah satu gedung pencakar langit di kawasan Sudirman.
Saya tiba di reception.

"Selamat pagi, Mbak. Saya Samuel Mulia, ingin bertemu dengan Ibu
Santi," jelas saya. Dengan senyum ramahnya ia membalas, "Pak Samuel
dari mana, ya?" Saat ia menanyakan itu, saya gelagapan, benar-benar tak
bisa menjawab, malah saya balik bertanya, "Dari mana ya, Mbak?" Tentu
saya tak bisa menjawab bahwa saya dari rumah. Saya mengerti sepenuhnya
bahwa pertanyaan dari mananya itu dimaksudkan sebagai nama perusahaan
di mana saya bekerja.

Masalahnya, saya sekarang tak bekerja di sebuah perusahaan atau
institusi apa pun. Sebagai konsultan media pemula dan ecek-ecek, saya
belum berani membuat perusahaan. Jadi saya bingung, benar-benar KO
mendengar pertanyaan si Mbak. Kemudian karena saya memang tidak dari
mana-mana, saya mengatakan saya ini temannya Ibu Santi.

Wajah ramah dan senyumnya berubah menjadi ketus. Mungkin ia
berpikir, ini bukan waktunya main-main dan mengunjungi teman saat jam
bekerja. Saya cuma menggerutu dalam hati, yaaa… beginilah kalau
keramahan hanya menjadi sebuah kewajiban dan tak datang dari nurani.
Saya malu sendiri karena setelah menggerutu, saya jadi ingat suara
teman saya yang suka nyeletuk, "Bukannya elo juga kayak gitu."

Setelah pertemuan itu, di dalam taksi menuju ke tempat pertemuan
berikutnya, saya berpikir lagi, apakah saya akan ditanya lagi saya dari
mana? Kemudian saya malah jadi bertanya kepada diri saya sendiri,
siapakah saya ini? Siapakah saya selama ini di mata saya dan di mata
orang lain? Saat itu mata saya terbuka bahwa selama ini saya melabelkan
orang dan diri saya sendiri dengan nama institusi di mana tempat
bekerja. Karena berbelas tahun melabelkan dan kemudian menjadi
kebiasaan, maka ketika si Mbak receptionist mengajukan pertanyaan dari
mana, saya kebingungan karena "nama belakang" saya kini sudah tak ada
lagi.

Kalau Paris itu (bukan) Hilton

Saya sampai berpikir apakah orang mengenal saya seperti ini. Samuel itu loh yang nulis di Kompas. Tentu nama Kompas
sudah seperti nama Krisdayanti. Sambil merem dan mimpi saja bisa
teringat. Atau Samuel itu loh yang kerja di Bank ABC. Dan tak hanya
label institusi, tetapi juga sampai menyerempet dengan urusan nama
keluarga dan perilaku. Samuel itu elo yang anaknya Jenderal Kancil.
Masak gak tahu sih, Samuel itu loh, dia kan cucunya pengusaha guling.
Kakeknya kan dulu membuat guling dan bantal, baru aja meninggal.
Kakeknya kan dulu nakal. Makanya, cucunya sami mawon. Samuel itu elo
yang dulu kerja di majalah pisang jambu, yang sok tahu itu, yang
mulutnya nggak disekolahin. Samuel itu elo, yang bekas berselingkuh ama
penyanyi keroncong.

Beberapa hari setelah kumpul- kumpul di tepi kolam renang, saya
melihat tayangan bagaimana sejuta media meliput masuknya Paris Hilton
ke penjara. Berbagai media berkomentar ini dan itu. Saya membayangkan
bagaimana kalau Paris itu bukan Hilton? Cuma perempuan biasa yang tidak
punya kaitan dengan nama belakangnya? Akankah sejuta media
mengerumuninya? Siapakah Paris tanpa Hilton? "Yaaa… itu kan ibu kota
Perancis," celetuk teman saya.

Ya, siapakah saya ini kalau saya tak punya predikat apa pun, tidak
bekerja di bank kondang atau anak orang kondang? Saat saya pindah kerja
dari perusahaan besar ke perusahaan ecek-ecek, klien-klien saya yang
dahulu baik dan memberikan saya perlakuan istimewa tiba-tiba tak
mengenal saya, memberi kesusahan saat meminta janji temu, kalaupun
baik, hanya sekadarnya. Harus diakui, saya merindukan untuk kembali
memiliki nama belakang, dan tentu saya memilih yang besar dan terkenal
kalau perlu.

Dan kadang ketika saya tak punya nama belakang yang besar dan
kondang, saya mencari-cari dengan melakukan perilaku yang mengundang
orang untuk membicarakan, agar nama yang tak ada apa-apanya itu menjadi
apa- apanya dong. Kalau dimisalkan sebuah brand, maka ketika saya mem-build brand saya, saya membangun dengan cara yang provokatif sehingga memancing perhatian orang, yang sensasional, meski brand saya sendiri tak ada istimewanya sama sekali.

Jadi, memiliki nama besar di belakang yang bukan nama saya sendiri
membuat saya seperti ketagihan bak pengguna narkoba. Sekali dilepas,
maka saya jadi sakau. Teman saya dengan polos bertanya, "Mas, jadi
sekarang Mas ini siapa?"

http://www.kompascommunity.com/index.php?fuseaction=home.urban

One Response to “Siapa elo?”

  1. antanypaubs Says:

    I just want to take some money! :)
    Press here

Leave a Reply