Ikatan Alumni; lebih dari organisasi arisan

March 16th, 2007 by massepe

Menjadi alumni sebuah almamater yang terkenal, bergengsi dan berprestasi tentu memberi kebangaan sendiri bagi alumnusnya. Secara tidak sadar akan ada rasa bangga bila memasang stiker di mobil berupa logo atau lambang tempat sekolah atau kuliah dulu. Ditambah lagi kalau “bekas” tempat belajar kita akhirnya ditaburi oleh bintang-bintang orang beken, entah itu bintang sinetron, bintang Indonesian Idol, bintang politik, bintang pengusaha sukses, bintang menteri atau segala macam yang top-top lah.

Rasa bangga itu pasti akan selalu meng-haru biru dalam perasaan. Padahal belum tentu lawan bicara kita bisa merasa apa yang sedang berkecamuk dalam hati kita bila kita adalah alumnus dari sekolah itu.

Rasa Pesimis

Di Kongres I SMAnSA Makassar yang diadakan di Hotel Clarion (9/11/06) sempat terlontar nada pesimis dari salah seorang peserta kongres. Mungkin rasa pesimis itu timbul setelah melihat serunya perdebatan suatu bab dalam AD/ART yang dibahas. Bahkan sampai-sampai terjadi debat-kusir. Ia pun menginterupsi dan mengeluarkan pernyataan bahwa untuk apalah ngotot-ngototan seperti itu, toh organisasi seperti ini hanya sedikit lebih tinggi levelnya dari arisan.

Pernyataan itu menggugah nurani saya, dan bertanya dalam hati, benarkah organisasi semacam IKA lebih sedikit dari sekedar arisan ?. Kalau pengertian arisan yang dimaksud orang tersebut sama seperti kebanyakan orang yaitu tempat kumpul-kumpul yang umumnya dilakukan oleh ibu-ibu “kurang kerjaan” untuk bicara ngorol-ngidul, gossip sana-sini, abis itu pamer barang baru, bla..bla..bla sampai siapa yang menang arisan dan  disepakati di mana arisan berikutnya, maka itu sungguh suatu ironi.

Lalu, akankah IKA SMAnSA demikian? Jawabnya tentu tidak. Namun, bila tidak ingin dicap sebagai organisasi yang sedikit di atas organisasi arisan, maka perlu pengurus IKA SMAnSA untuk memikirkan dan mewujudkan sebuah organisasi yang sesuai dengan amanah Kongres I yang tertuang dalam AD/ART yang di mana tersirat keinginan untuk menghasilkan suatu karya, adanya  partisipasi dan kontribusi positif bagi alumni & masyarakat, serta inovasi yang terbaru bagi kemaslahatan orang banyak.

Tiga Motivasi

Setidaknya ada tiga hal yang dapat menjadi motivasi sebuah ikatan alumni itu didirikan.
Pertama :  Silaturahmi.

Hal yang paling indah adalah mengenang masa-masa “suka-duka” belajar di sekolah. Dulu waktu SMA,  tentu akan sangat indah mengenang segala kekonyolan, keluguan, dan segala macam kisah buruk maupun kisah indah.

Kalau lagi kongkow-kongkow sama teman-teman Se-SMA dulu, obrolan akan seru dan berubah jadi gelak tawa (sangat bagus untuk menghilangkan kepenatan habis pulang kerja) bila menceritakan kisah lucu & konyol  dari seorang teman. Kelucuan cerita-cerita konyol  itu sampai-sampai membuat kita sakit perut.  Bahkan saking lucunya bisa mengeluarkan air mata.

Silaturahmi atau penulis membahasakannya merajut kembali persahabatan dan pertemanan yang mungkin sedang renggang, karena waktu dan jarak yang sempat memisahkan. Tidak jarang dari  di event yang IKA adakan, banyak alumni yang baru  bertemu kembali dengan teman yang sudah hampir 10 tahun bahkan 25 tahun tidak ketemu.

Kedua : Ajang untuk beraktualisasi diri.

Aktualisasi dalam arti memberi kontribusi kepada sesama sebagai wujud kepedulian atas suatu hal. Contohnya, mengadakan bakti sosial & semacamnya. Kegiatan bakti sosial tersebut adalah wujud rasa ingin  mengabdi untuk kebaikan masyarakat. Berbagi ilmu, berbagi materi sebagai rasa syukur kepada Allah SWT dan berbagi lainnya . Tentunya ada kesenangan, kegembiraan,  keceriaan, serta suatu Kebahagiaan tersendiri kalau bersama teman-teman belajar kita dulu dan se-almamater dengan kita, bisa bersama-sama berbuat baik kepada masyarakat banyak.

Ketiga: Mencari peluang dan berbagi Kepentingan.

Motivasi ini akan sering muncul dari suatu yang namanya organisasi. Entah itu kepentingan yang bermotif ekonomi (materi), politik, meningkatkan karir, kesempatan untuk belajar, dan kepentingan lainnya. Inilah yang sering menimbulkan konflik dalam organisasi (conflict of interest).  Namun jika dilihat dari sisi positif, kalau semua kepentingan itu dapat kita sinergikan, sehingga menciptakan sebuah peluang bisnis yang win-win, maka mengapa tidak ?

Uraian tadi adalah peluang yang bisa kita ciptakan dari sebuah organisasi ikatan alumni. Tentu, untuk mewujudkan tidaklah mudah. Hal yang paling berat adalah bagaimana meng-organizingnya. Belum tentu ada  yang mau action untuk mewujudkannya.
Maklum setiap anggota tentu punya prioritas utama dalam hidupnya. Mereka sudah punya jadwal tersendiri, sehingga sangat dimaklumi jika ada anggota yang aktif, pasif, dan sekedar sebagai penggembira. Tapi itulah dinamika organisasi. Diperlukan suatu keahlian yang bagus, Good Leadership, Good Management Skill, Time Management yang excellent, dan yang paling penting adalah adanya saling pengertian, toleransi dan kedisiplinan bagi anggotanya, mengingat organisasi ini merupakan organisasi nirlaba yang lebih banyak nilai sosial dan pendidikannya dibanding motif ekonomi.

Bagaimana pun juga, tentu setiap orang ingin yang terbaik baik organisasinya. Tentu kita tidak akan mau bergabung pada sebuah organisasi yang NATO (No Action Talk Only) karena itu akan wasting time.  Selamat berorganisasi. Sukses IKA SMAnSA Makassar ! (*)

Andi Muh Nur Bau Massepe
Penulis adalah alumni angkatan 1996 dan Wakil Sekretaris Bidang Infokom IKA SMAnSA Makassar

CINTA itu memberi

February 28th, 2007 by massepe

Manusia belajar CINTA dengan mencintai sesamanya tetapi sesungguhnya CINTA itu hanya terjadi karena TUHAN (dikutip dari artikel ANAND KRISHNA, dari GAYAN the Song of the soul) 

Jangan bosan membaca masalah cinta lagi, maklum lah menurut ku itu tema yang paling manusiawi dan paling menyentuh nilai-nilai kemanusian dalam kehidupan kita dibumi ini. Saya belajar bahwa CINTA itu adalah MEMBERI dari Erich Fromm, walaupuin dalam prakteknya sudah sering lakukan tanpa sadar. Sungguh Erich Fromm dalam bukunya The Art of Loving, 1962 (edisi terjemahan- SENI MENCINTA, Pustaka SInar Harapan 1990) menyadarkan saya kalau hakikat cinta adalah memberi.

Sebuah pengambaran yang baik, bahwa proses cinta itu sesama manusia namanya memberi dan menerima, bahasa kerennya Thank and Give. Ungkapan klise dan sudah sering kita dengar. Tapi saya kadang belum paham betul akan hal itu. Apa arti “Memberi” dalam CINTA? Makna memberi merupakan suatu hal yang mengandung unsur aktif dan menerima adalah pasif.

Dalam tindakan memberi kita dapat menghayati kekuatan kita, kelebihan kita, kekuatan kita. Pengalaman memberi memberi suatu vitalitas dan kemampuan yang menjadikan kita bahagia.

Erich mendeskripsikan dengan sangat cerdas, hal yang mendasar takala dalam aktifitas seksual (bercinta-red), puncak aktifitas seksual laki-laki adalah orgasme. Orgasme ditandai dengan laki-laki “memberikan” dirinya, alat kelaminnya kepada perempuan. Pada saat orgasmus ia “memberikan” benihnya pada perempuan.

Bagi perempuan, prosesnya juga adalah “memberikan” dirinya dengan membukakan pintu-pintu menuju sistem reproduksi-nya, walaupun perempuan berada diposisi seperti “menerima” tetapi Erich Fromm menyatakan bahwa hal tersebut juga merupakan kegiatan memberi, bila tidak tentu hubungan seksual tersebut akan dingin.

Tindakan cinta yang menghasilkan kegiatan memberi bagi sisi perempuan kembali terjadi bila ia menjadi seorang ibu. Ibu akan memberi dari sebagian dirinya kepada calon bayi yang berada di rahim, memberi makanan padanya, memberi perhatian dan harapan hidup bagi janin. Kemudian dia lahir Ibu akan memberi susu, memberi perhatian, memberi kasih sayang yang tulus.

Begitulah CINTA yang dimaknai sebagai suatu pemberian. Hal ini membukakan mata saya bahwa sungguh CINTA itu bukan lah semacam proses bisnis/dagang, ada untung rugi. Bukan pula pemaknaan ingin menguasai dan ingin menerima saja. Bukan pula sebagai kegiatan mengemis, meminta, merengek untuk di cintai.

Pertanyaannya Apakah setelah kita memberi CINTA kita kepada seseorang, apakah ada jaminan orang itu akan MENCINTAI kita juga?

Sepertinya Erich Fromm tidak menjelaskan dalam karyanya itu. Tapi secara logika dan realita kita bisa saya katakan TIDAK!!!. Saya jadi teringat lagunya DEWA yang judulnya PUPUS. Reff nya begini “baru kusadari Cintaku bertepuk sebelah kanan, kau buat remuk seluruh hatiku”

Sakit jadinya.

Nah kalau bertepuk sebelah tangan lalu bagaimana? Apakah bukan Cinta namanya? Mungkin begitulah CINTA adalah misteri. Saya merasakan suatu hal misteri. Tidak ada formula yang pasti.

Pak Ustadz mengingatkan bahwa CINTA yang hakiki itu adalah hanya kepada ALLAH SWT. Karena dialah pemilik CINTA. Yah itu kita sepakati bahwa CINTA sejati kita adalah hanya kepadaNYA. Saya pun masih perlu memperbaiki dan belajar untuk menuju cinta yang hakiki itu. Menuju penghambaanku padaNYA.

Tapi saya sadar bahwa kita manusia hidup didunia. Kita diberikan rasa CINTA kepada sesama manusia. Saya laki-laki tentu akan manusiawi kalau mempunyai rasa CINTA kepada seorang perempuan.

Dari pengalaman baiknya saya sadar bahwa CINTA sesama perempuan itu bukan lah suatu CINTA 100%, Bukannya tidak tulus, CINTA yang misalnya 80% itu akan masih menyisakan 20% buat jaga-jaga kalau misalnya bertepuk sebelah tangan.

Terinpsirasi dari Hukum Paretto, maklum saya orang sales dan marketing. Hehehe.

SELAMAT HARI VALENTINE…!!

Andi Nur BM (yang belajar dan mencari CINTA)

Makassar, Februari 2007

Bisnis Itu Permainan, Bukan Ilmu Pengetahuan

January 14th, 2007 by massepe

Ada artikel menarik yang saya dapatkan di salah satu blog tentang kewirausahaan….Selamat Membaca>>!!

————-

                        

 

BISNIS ITU PERMAINAN, BUKAN ILMU PENGETAHUAN
                      
                          Selama
kita merasa belum familiar dan takut memulai bisnis, biasanya yang
timbul di pikiran kita adalah: “belajar!”. Pilihannya mungkin dengan
jalan mengambil program S2 dan jadi seorang MBA, atau ikut
sebanyak-banyaknya seminar dan pelatihan, atau bisa juga dengan berguru
dan mengabdi pada seorang begawan bisnis.

Kira-kira, sudah selaraskah alur pemikiran yang sedemikian dengan apa yang terjadi pada kenyataannya? Mari kita telaah.

Kebanyakan
dari kita berbisnis karena ingin sukses, lalu menjadi kaya raya. Kita
membayangkan, betapa enak dan hebatnya bila kita dapat sesukses dan
sekaya Bill Gates atau Donald Trump. Menurut pandangan masyarakat pada
umumnya, mereka itulah orang-orang sukses yang sebenar-benarnya.
Merekalah sosok-sosok pebisnis yang prestasinya membuat banyak orang
terobsesi.

Maka tidak heran jika para pakar pun berusaha
menyadap dan mempelajari segala hal yang ada pada orang-orang sukses
itu, dengan harapan dapat mentransfer nilai-nilai kesuksesannya kepada
orang-orang lain yang juga ingin menjadi figur sukses. Mereka
berpendapat bahwa: “Leaders are made, not born”.

Selanjutnya,
segala sepak terjang yang dilakukan oleh para pebisnis tersebut,
dikumpulkan, dipilah-pilah, lalu dianalisis. Dari analisis itu dibuat
teori-teori. Hasilnya, muncullah berbagai teori kesuksesan yang
terkemas dalam materi-materi “ilmu bisnis”, wacana profesionalisme,
ilmu kepemimpinan (leadership), dan lain sebagainya.

Orang-orang
awam memang ingin sekali menemukan cara-cara yang bisa membantu mereka
untuk secara cepat mencapai kesuksesan. Semacam rel kereta yang tinggal
diikuti saja akan mengantar orang tiba di gerbang kejayaan.

Namun
demikian, apa benar kalau kita ingin menjadi figur sukses — lebih
spesifiknya pebisnis sukses — harus menempuh perjalanan yang sarat
dengan teori-teori kesuksesan seperti itu?

Dari berbagai
catatan yang ada, tampaknya tidak demikian. Banyak sepak-terjang yang
dilakukan oleh para pemimpin bisnis dunia tidak mencerminkan bahwa
kesuksesan mereka disebabkan pembelajaran yang sungguh-sungguh dalam
ilmu bisnis, profesionalisme dan teori kepemimpinan. Tidak juga
pengetahuan ekonomi, teori-teori tentang kebebasan finansial, ilmu
marketing dan lain sebagainya. Pun, tidak karena mereka rajin mengikuti
seminar kesuksesan atau lokakarya tentang strategi bisnis.

Di
lain pihak, banyak pemimpin bisnis ternyata merupakan orang-orang yang
justru tidak suka belajar, malas sekolah, dan hanya ingin bermain-main
saja. Boro-boro ikut seminar atau lokakarya. Lho kok bisa?

Ada
beberapa contoh kasus. Yang pertama, Thomas Alva Edison. Nama ini sudah
kita tahu sejak di bangku SD bukan? Namun, tentunya kita kenal Edison
lebih sebagai tokoh ilmu pengetahuan, karena sekolah memfokuskan ajaran
hanya pada penemuan atas lampu pijar dan berbagai temuan teknis lain
yang dilakukannya.

Maka jarang kita memperhatikan bahwa
sesungguhnya Thomas Alva Edison adalah juga seorang pengusaha besar
yang sukses. Ia adalah pemilik dan pendiri berbagai perusahaan dengan
nama-nama seperti Lansden Co. (mobil/otomotif), Battery Supplies Co.
(baterai), Edison Manufacturing Co. (baterai dsb), Edison Portland
Cement Co. (semen dan beton), North Jersey Paint Co. (cat), Edison
General Electric Co. (alat listrik dll), dan banyak lainnya. Salah satu
yang masih berjaya sampai sekarang adalah General Electric.

Apakah
untuk mencapai itu semua Edison harus bersusah-payah mengikuti berbagai
sekolah dan pendidikan tinggi? Atau mengikuti seminar kelas dunia yang
diselenggarakan oleh para pakar kesuksesan, pakar bisnis atau pakar
financial freedom? Ternyata tidak. Figur Edison adalah figur pemalas
yang hanya tahan 3 minggu bersekolah. Ia lebih suka bermain-main dengan
perkakas, dengan kawat dan dengan listrik. Itu kesenangannya dan dengan
itu ia sukses.

Contoh lain adalah Kenji Eno. Ia juga tidak suka
sekolah. Ia cuma suka bermain-main dengan permainan, istimewanya dengan
video games. Kelas 2 SMA berhenti sekolah terus nganggur. Lalu dapat
kerja di perusahaan perangkat lunak, sampai akhirnya ia berhasil
mendirikan perusahaan perangkat lunaknya sendiri yang dinamakan WARP.
Dalam tempo beberapa tahun saja Kenji Eno mampu membawa perusahaannya
menjadi perusahaan video games terhebat di dunia yang diakui oleh
tokoh-tokoh industri.

Fenomena-fenomena yang dibuat oleh
orang-orang semacam Edison dan Kenji Eno ini memberi kesan kepada kita
semua bahwa bisnis itu sebenarnya lebih dekat kepada sebuah permainan,
dan terlalu jauh untuk diperlakukan sebagai sebuah ilmu pengetahuan.

Gede
Prama yang dikenal sebagai pakar manajemen (bahkan dijuluki Stephen
Covey Indonesia), mengomentari fenomena Kenji Eno sebagai kesuksesan
dari kebebasan berfikir yang mampu melompat, karena belum terkena
polusi-polusi yang dibuat sekolah.

Menurut saya, adalah keliru
mempelajari fenomena pemimpin, untuk menciptakan pemimpin. Demikian
juga, keliru mempelajari fenomena pebisnis sukses, untuk mencetak
pebisnis sukses. Sebab, fenomena pemimpin (atau pebisnis) adalah
fenomena manusia, yang tidak sama dengan fenomena alam. Kalau Isaac
Newton mempelajari peristiwa jatuhnya buah apel ke tanah (fenomena
alam) dan kemudian menemukan hukum gavitasi, maka itu oke-oke saja.
Karena fenomena alam tidak berubah, hukum gravitasi pun akan tetap
abadi.

Akan tetapi, mempelajari fenomena manusia pasti akan
menimbulkan frustrasi. Sebab, manusia merupakan mesin perubahan,
sehingga tidak akan ada fenomena manusia yang tinggal tetap abadi
sepanjang masa, berlawanan dengan yang kita lihat pada peristiwa
jatuhnya buah apel.
Pemimpin, dalam bidang apa pun termasuk
bisnis, adalah sosok manusia yang bebas, yang bertindak semaunya tanpa
memperhatikan teori mau pun kaidah, sehingga nyaris percuma kalau kita
ingin mempelajari dan mengikuti jejak sepak terjangnya.

Coba
lihat, pada saat terjadinya resesi ekonomi dunia tahun 1929, semua
orang berdasarkan teori-teori yang ada, berusaha untuk berlaku sehemat
mungkin. Tapi sebaliknya, Matsushita si raja elektrik dari Jepang malah
royal mengeluarkan uang. Seakan uang itu tidak lebih dari mainan saja
layaknya. Meski pun bukan tanpa alasan dia berlaku demikian.

Lihat
juga Kim Woo Chong, pendiri imperium Daewoo. Ketika semua pengusaha
(juga dengan teori-teori yang ada) berkonsentrasi memasuki pasar
negara-negara kaya semacam Amerika dan Eropa, ia malah dengan santainya
masuk ke pasar-pasar “keras” seperti Iran, Sudan dan Rusia serta
negara-negara blok timur.

“Kesia-siaan” mempelajari dan berusaha
mengikuti sepak terjang para pemimpin bisnis bisa dirasakan secara
langsung di lapangan. Saat pertama kali Harvard Business Review
mempublikasikan konsep pemasaran yang beken dengan “Marketing Mix” 4P
(product, price, place dan promotion), nyaris semua pengusaha serta
pakar bisnis menganut konsep ini secara fanatik. Begitu juga dengan
perguruan-perguruan tinggi dan sekolah manajemen.

Tapi, tidak
terlalu lama, sebagai akibat “ulah” para pemimpin bisnis yang gemar
bermain-main, perubahan tren perekonomian dan industri memaksa para
pakar dan pembelajar merubah lagi konsepnya dengan 6P, 8P bahkan yang
terakhir disebutkan sebagai 12P.

Terus bagaimana? Kalau kita
harus bersiaga setiap saat untuk belajar dan tidak ketinggalan zaman
dengan ilmu marketing, kapan kita berbisnis?

Saya rasa kita
semua banyak yang terjebak dan hanyut dalam “arus ilmu pengetahuan”
yang dibuat oleh mereka yang “pakar ilmu pengetahuan”, sehingga kita
tidak sempat lagi berinovasi yang justru merupakan kunci sukses bisnis.
Kita malah terus menerus “dipaksa” mengejar ketinggalan ilmu
pengetahuan tanpa tahu di mana ujung pangkalnya.

Pertanyaannya: ”Sebenarnya kita mau jadi pebisnis atau mau jadi ilmuwan sih?”

Saya
sendiri yakin bahwa bisnis dan kesuksesan itu adalah semacam permainan
saja. Seperti apa yang dikatakan oleh William Cohen dalam tulisannya
“The Art Of The Leader” : “Success is acquired by playing hard, not by
working hard..”.

Mengacu pada obsesi banyak orang tentang Bill
Gates dan Donald Trump sebagaimana disebut di atas, perlu diketahui
bahwa kedua orang tokoh ini pun mencapai sukses dari kesenangannya
bermain-main.

Bill Gates sejak masih berusia 13 tahun sudah
bermain-main dengan perangkat lunak komputer, dan dengan itu ia menjadi
salah satu orang terkaya di dunia. Donald Trump juga sejak kecil selalu
bermain-main ke kantor ayahnya, Fred Trump. Dia suka sekali
melihat-lihat maket gedung dan pencakar langit, sebelum tertarik dengan
bidang bisnis sang ayah, yaitu properti. Dan jadilah Donald Trump
seorang Raja Properti.

Terakhir yang ingin saya sampaikan
adalah, orang yang mempelajari ilmu kepemimpinan tidak akan menjadi
pemimpin. Tapi, orang yang mencoba menjadi pemimpin, akan menjadi
pemimpin. Demikian juga, orang yang mempelajari ilmu bisnis, tidak akan
menjadi pebisnis. Tapi, orang yang mencoba menjadi pebisnis, akan
menjadi pebisnis.

Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com

Renungan Kloset

December 24th, 2006 by massepe

(renungan akhir tahun 2006)

Ada baiknya
Tak mencatat hidup
Dalam lembar-lembar buku harian

Suatu masa
JIka dibacanya lagi
Manis, membuat kita ingin kembali
Pahit, membuat duka tak bias lupa

Ada baiknya
Merenung hifup
Dalam kloset yang sepi

Tak perlu malu
Mengenang tersenyum atau menangis
Setelah itu semua hilagn
Bersiap menerima makan baru
Yang lebih baik dari kemarin

By: Rieke Diyah Pitaloka

Puisi yang ditulis mba Rieke ini (pemeran Oneng dalam baja bajuri) saya catat dalam buku diary ku. Laki-laki punya diary? Bancis bangett.. kata temanku, Tapi saya protes BJ.Habibie aja punya diary, sampai buku yang terbaru yang  berjudul Detik-detik yang Menegangkan", banyak merujuk dari diary-nya itu.

Ya.. BJ.Habibie aja punya diary, mengapa harus dibilang diary itu punya kaum hawa, siapa tau besok-besok buku diary ku itu bisa menjadi buku yang best seller. Dan bisa seperti beliau juga jadi presiden. Hehehe.

Hidup itu bergerak.. tulis ku di salah tema diblog ku.
Semua kejadian terjadi merupakan konsekuensi kita dalam memilih dan memutuskan suatu hal. Hidup adalah perpindahan dari suatu pilihan dan suatu keputusan. Kita belajar dari keputusan-keputusan yang kita tempuh. Hasill dari keputusan kita pasti tidak selamanya baik, dan juga tidak selamanya buruk. Alangkah bahagianya jikalau setiap lekuk-lekuk kehidupan yang kita jalani adalah buah hasil keputusan kita. Dari situlah kita belajar suatu kebijaksanaan dan kedewasaan.

Kembali ke laptop…..(tukul bangett)
Pusisi Renungan kloset, yang menarik adalah pesan bahwa  hidup itu tidak usah terlalu banyak di sesali. Saya sepakat, takala banyak kejadian-kejadian hidup yang telah terjadi, hanya lah menjadi hal yang tak berguna kalau dirasain pahit atau manis lagi. Sudah berlalu….

Nah di penguhung tahun 2006,  begitu banyak kejadian yang sudah terlewatkan.
Bagaimana kah saya memaknai pergantian tahun ini?

Pertama-tama menyadari bahwa kehidupan itu adalah sebuah sekolah.
Cherie Carter Scott, Ph.D dalam bukunya If life is a game these are the rules, Dia menuliskan “Anda sudah terdaftar pada sekolah informal yang disebut “kehidupan”. Setiap Hari Anda akan memperoleh kesempatan memetik pelajaran dalam sekolah ini. Anda bisa menyukai atau membenci pelajaran-pelajaran itu, tetapi Anda sudah merancangnya sebagai baian dari kurikulum Anda.

Hidup ini saya anggap sebagai sebuah sekolah. School of life. Sekolah kehidupan kata penganut de-schooling seperti Gde Prama, Adreas Harefa, Jansen Sinamo, YB Mangunwijaya (alm) dan banyak lagi. Mereka menganggap sekolah yang paling sempurna adalah sekolah kehidupan, bukan sekolah yang dari umur 4 tahun sudah kita jalani itu. Kita hanya duduk, mendengar, kerjakan tugas, menyalin dan terima lapor.

Disekolah kehidupan saya merasa tidak ada yang benar dan salah. Semuanya dimulai keberanian kita membebaskan diri kita terhadap “value” (nilai-nilai) yang sudah sejak kecil kita peroleh dari Orang tua, guru-guru, keluarga dan lingkungan kita. Dengan terbiasa mengosongkan dulu nilai-nilai yang kita dapat, kita  akan cepat mempelajari pelajaran-pelajaran berisi nilai-nilai baru dengan sikap yang kritis.

Saya kembali mengutip R.Kiyosaki, dalam buku Rich Kids and Smart Kids, dalam tulisan yakni, Tuhan memberi kita sebuah kaki kanan (right) dan sebuah kaki kiri (left). Tuhan tidak memberi kita sebuah kaki yang benar (right) dan sebuah kaki yang salah (wrong). Lanjutnya, Orang yang berpikir mereka harus selalu benar adalah orang yang seperti dengan sebuah kaki kanan saja. Mereka mengira membuat kemajuan, tetapi biasanya mereka hanya berputar-putar dalam lingkaran.

Dari situlah saya mencoba menerima ketidak sempurnaan. Setelah tahu kalau saya ini adalah termasuk tipe perfeksionis. Disekolah kehidupan mengajarkan ku bahwa tidak ada kesempurnaan mutlak. Kesempurnaan adalah suatu sikap yang berlebihan, dan dalam Alqur’an mengajarkan bahwa Tuhan amat membeci perilaku yang berlebihan. Kesempurnaan yang baik adalah melalui sebuah proses yang tidak bisa secara instant.

Kaizen, adalah salah satu prinsip yang sangat dikenal di Jepang. Kaizen adalah proses penyempurnaan secara terus menerus yang tiada henti. Prinsip ini lebih baik dari pada keinginan untuk mewujudkan suatu hal yang langsung sempurna.

Kedua, saya ingin mensyukuri apa yang telah saya lalui selama setahun ini. Saya bersyukur pada Tuhan terhadap pelajaran kehidupan yang telah dia berikan. Saya bersyukur pernah merasakan menjadi kaum papa, takala di Jakarta, dengan pengalaman di”tampar Monas” kata kawan yang pernah kuliah di STIE YKPN. Di’tampar monas” maksudnya merasakan dinamika hidup di Jakarta. Merasakan kehidupan kaum masyarakat bawah. Masyarakat bawah yang kehidupannya mengandalkan sarana publik buatan pemerintah.

Merasakan hari-hari bergelantungan di bus kota, berdesak-desakan didalamnya, sampai perang mulut dengan kenek bersama teman kuliah MM yang orang Padang itu. Gara-gara bus yang sudah penuh sesak masih saja diisi orang untuk masuk, kita pun protes, tapi malah keneknya suruh turun kalau tidak mau.Ilmu marketing tidak dipakai di bus sudah kita bayar ongkos harusnya dapat pelayanan malah disuruh turun. Onde mande….!!

Saya juga tidak habis berpikir dan prihatin, bagaimana susahnya orang pinggiran yang kekantor memanfaatkan kereta ekonomi KRL. Sungguh lebih manusiawi kandang ayam dari pada kereta ekonomi itu, Saya juga bingung dengan pemerintah, mengapa menyediakan namanya system transportasi rakyat yang kayak itu, bila lengah sedikit nyawa bisa melayang, karena harus berhimpitan dan bergelantung dipinggir gerbong atau naik diatas gerbong.

Dengan bersyukur akan memberi kita sikap untuk menikmati apa yang sudah ada sekarang. Rasa syukur berarti kita berterima kasih atas dan menghargai apa yang kita punya dan dimana kita sekarang berada dijalan kehidupan kita.

Ketiga, dari bersyukur itu, akhirnya saya tidak berhenti-hentinya mengucapkan terima kasih. Berterima kasih kepada Tuhan. Berterima kasih atas kebijaksanan yang saya peroleh.

Berterima kasih kepada Orang Tua, ayah dan ibu atas semua yang diberikan, baik dan materi maupun kasih sayang. Berterima kasih kepada orang yang mengecewakan saya. Apalgi saya sangat berterima kasih kepada orang yang membantu ku dalam kesusahan. Berterima kasih kepada orang yang membuat kita susah. Berterima kasih kepada orang yang membuat ku sedih dan bahagia.

Kata terima kasih merupakan kata yang sangat jarang kita ucapkan. Berterima kasih bermakna kita tahu apa yang telah kita terima. Begitu juga pelajaran yang kita dapatkan dari sang pemberi dan pemilik Ilmu hakiki.

Seorang filsuf Thomas Paine pernah mengatakan, ”Apa yang kita peroleh dengan terlalu mudah pasti kurang kita hargai. Hanya harga yang mahalah yang memberi nilai kepada segalanya. Tuhan tahu bagaimana memasang harga yang tepat pada barang-barangnya.”

Terakhir, disetiap akhir pasti ada permulaan. Saya mengajak Anda untuk kembali membuat rencana yang baru ditahun selanjutnya. Dengan sebuah rencana kita tahu akan kemana dan untuk apa hidup ini. Kita yang membuat rencana, kita berusaha, Tuhan kan memberikan.

Rencana dan pengharapan yang belum terwujud, mengharuskan kita untuk bersabar. Bersabar dan terus menerus berupaya kembali untuk mewujudkannya. Dengan bersabar kita menjadi lebih memaknai proses pelajaran yang diberikan kepada kita. Bersabar membuat kita lebih tenang dalam melangkah, membuat kita lebih kuat dan dekat dengan suara Tuhan.

Waktu yang diberikan Tuhan kita di bumi ini sebenarnya singkat. Kita mempunyai kemungkinan dan pilihan untuk mewujudkan harapan-harapan, impian-impian dan tujuan kita. Kembali pada diri kita, Apakah kita memanfaatkan waktu yang diberikan Tuhan sebaik-baiknya atau tidak.

Renungan Kloset, mengajarkan apa yang sudah kita peroleh sampai saat ini adalah hasil dari pilihan kita. Kita memutuskan untuk memakan pelajaran-pelajaran hidup setiap hari. Membuat kita kenyang dan perlu mengeluarkan hal-hal yang buruk, dan menyerap gizi kehidupan yang baik bagi tubuh dan jiwa kita. Kemudian menyiram yang buruk-buruk itu, dan bersiap-siap lagi menyantap pelajaran-pelajaran yang baru lagi dimasa yang akan datang.

Selamat tahun baru 2007 dan selamat hari raya Idul Adha.

Andi Muh. Nur Bau Massepe

Makassar,

Desember 2006

Kapan Saya Menikah?

December 5th, 2006 by massepe

Mmm.. Itu sebuah pertanyaan membosankan saat ini bagiku. Saya sendiri coba berpikir
mengapa ya setiap bertemu teman atau keluarga apalagi di acara-acara seperti nikahan dua kata tersebut yang selalu saya dengar. Apa tidak ada pertanyaan yang kreatif selain “itu”?

Mungkin dalam pikiran mereka itu, diusia yang menginjak 28 tahun, umumnya atau rata-rata laki-laki seusiaku sudah pada menikah dan berkeluarga.

Lihat, teman-teman Sekolah ku (SMP dan SMA) saat ini memang hampir sebagian sudah menikah dan di anugerahkan balita yang lucu itu. Teman kuliah ku hampir setiap bulan memposting di milis undangan pernikahan mereka. Senang juga melihat beraneka ragam model undangan dan kreatif-kreatif.

Kini hampir setiap bulan ada undangan pernikahan dirumah ku. Entah itu dari keluargaku, teman sekolah, ataupun mantan “kekasih-kekasih”ku (heheh).

Membicarakan kata kapan menikah terpenting adalah makna pernikahan itu sendiri. Apa kah yang melatar belakangi dari sebuah pernikahan?
Apa harus didasari oleh perasaan cinta ?

Ataukah sesuatu yang mengalir begitu saja takala diri kita telah merasa siap lahir batin tanpa perlu mengenal lebih jauh pasangan kita?

Bagaimana ihwal kita merasa sudah siap dengan kekasih kita untuk membina rumah tangga?

Apakah dimulai dengan penjajakan kemudian pacaran? Setelah itu kemudian
“merasa cocok” lalu memutuskan untuk menikah.
Bagaimana pula timbulnya perasaan cinta? Cinta yang indah dan menyakitkan itu.

Selama ini ada banyak kasus-kasus pernikahan yang saya amatin. Teman yang sekaligus
mantan guru SMP dulu, sebagai contoh dia hanya butuh dua minggu setelah dikenalkan oleh orang tuanya akhirnya memutuskan untuk menikah.

Saya bertanya dan dia menjelaskan, “Orang tua pasti sudah tau apa yang tepat bagi anaknya, jadi saya yakin itu lah yang terbaik. Terpenting itu dek,..niat kita. Menikah adalah ibadah”, ucapnya dengan lembut. Dia pun menyebutkan hadis Rasulullah SAW, yang intinya tidak sempurna iman seseorang bila belum menikah.

Bagaimana menikahi seseorang tanpa ada perasaan yang dalam (cinta) dan mengetahui pribadinya terlebih dahulu apa cocok denga kita atau tidak? Batin ku mempertanyakan mengenai memilih pasangan hidup Apakah selamanya mengandalkan niat baik itu?

Apakah dengan adanya niat baik itu ada jaminan bahwa pernikahan kita bakal bahagia?
Kembali ter-ngiang, bahwa segala niat baik itu akan selalu dilindungi Tuhan, akhirnya pertanyaan dalam kepalaku itupun saya akhiri, karena sudah the-end kalau menyangkut kembali ke Dia..

Apakah setelah menikah perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya? Bagaimana kalo tidak sama sekali?
Trus, atas dasar apa keluarga atau orang tua, memiliki pertimbangan gadis ini cocok dengan kita?

Saya menganggap pernikahan adalah soal memilih pasangan hidup yang kita rasa “baik” menurut kita.

Dapat dibayangkan bagaimana kita akan menjalani hari-hari ini berdua bersama pasangan kita itu (istri). Mulai sebelum tidur kita berada disampingnya, kemudian bagun tidur, beraktifitas dikantor, pulang kerumah maka tiada hari tanpa pasangan kita.

Apa tidak membosankan. (ah mungkin tidak bila orang itu adalah orang yang kita cintai).

Dari diskusi ditempat minum sara’ba di sungai cerekang teman ku yang sudah 6 tahun pacaran sejak lulus SMA, kemudian mereka menikah, dia menjelaskan bahwa semua perasaan yang mengebu-gebu (chemistry-istilah cangihnya) sewaktu pacaran itu seperti; perasaan cinta, perasaan sayang, perasaan sehidup semati sewaktu pacaran akan “hilang”.

Semuanya berganti dengan tema seperti; hari ini bagiamana mendapatkan penghasilan, bagaimana membiaya kebutuhan keluarga, mesti bayar cicilan kartu kredit, beli pulsa, membiaya si kecil, urusan dengan keluarga mertua, dan bla..bla..bla lagi sampai dia bilang enak dengan status men-jomblo. Lohh!

Liat infotainment, kasus-kasus perselingkuhan, kawin cerai, gugat meng-gugat antara mantan suami-istri terjadi disekililing kita. Dari pernyataan mereka banyak mengaku bahwa sudah tidak ada perasaan cocok lagi, atau istilahnya hilfil (hilang feeling).

Lalu kemanakah Cinta itu, yang takala sewaktu pacaran dan diawal-awal pernikahan layaknya pasangan sejati. Tapi berselang beberapa tahun tiba-tiba berubah menjadi pertikaian.

Tengok pernyataan Si ME seorang penyanyi dangdut kenamaan, yang kasus merebak setelah video mesumnya bersama seorang wakil rakyat YZ, menyatakan hubungan itu didasari oleh perasaan cinta. Sehingga pasti bisa dibayangkan betapa retaknya mahligai rumah tangga YZ tersebut karena kehadiran ME yang mengatas namakan “cinta”.

Cinta memang dapat membangun sebuah rumah tangga yang harmonis tapi juga bias menghancurkannya.

Saya berpikir sebenarnya, antara cinta dan pernikahan itu adalah sesuatu yang berdiri sendiri. Banyak orang yang berpendapat bahwa pernikahaan adalah lembaga cinta dua insan manusia.

Saya berpikir pernikahan adalah suatu objek yang memiliki konsepsi sendiri. Memiliki aturan-aturannya sendiri, terlepas adanya cinta didalamnya. Kita tahukan budaya timur, sangat menjunjung tinggi keutuhan sebuah pernikahan. Kehormatan dari sang suami, juga kehormatan dari sang istri dari yang dinamai oleh masyarakat suatu “kebaikan”.

Dan cinta kita tahu, sifat cinta sangat tidak terikat dengan aturan-aturan yang ada.
Dan pendapatku pernikahan tidak selamanya didasari oleh cinta.

Jadi menurutku, pernikahan adalah sebuah perjalan baru bagi kehidupan kita, yang dilakukan oleh orang dewasa dengan kesadaran masing-masing.

Alangkah bahagianya (barangkali) kalo kita menikah berdasarkan perasaan cinta. Dan walaupun kita sadar, begitu sudah memasuki wilayah pernikahan, kita juga harus menanggalkan segala pengalaman (experience) bercinta kita menggantinya dengan aturan-aturan baru yang namanya lembaga pernikahan.

Tentu aturan baru itu adalah sebuah pengalaman baru lagi yang sebaiknya didasari oleh cinta, dan juga kaidah-kaidah yang kita yakini dalam agama kita masing-masing. Kaidah-kaidah yang menjadi keyakinan hidup masing-masing.

Hal ini barangkali tidak banyak orang sadari.
Sehingga mereka yang sudah mengikat dirinya dengan suatu lembaga pernikahan, masih saja tidak bosan-bosannya mencari yang namanya pengalaman bercinta itu!.

Apa dulunya tidak pernah pacaran? Atau dulu nya cepat menikah

Bener gak? Ah. Tidak tau saya sendiri belum pernah menikah.! Wallahu wa’alam.

Dan bila ditanya kembali kapan menikah? Jawabannya, “belum ketemu jodoh !”.

Anda tahu kan bahwa jodoh itu urusan Tuhan, jadi sudah susah untuk dijelaskan lebih lanjut lagi”. Ya tanyain sendiri ma Tuhan. Atau setidaknya Doaian saya lah. Wasalam.!

Panakukkang, Makassar Desember 2006
A.M.Nur Bau Massepe

Kerja cuman selingan untuk menunggu waktu shalat

October 20th, 2006 by massepe

”…Kerja itu
cuma selingan, Untuk menunggu waktu shalat…"

Ketika Pak Heru, atasan saya, memerintahkan untuk mencari klien yang
bergerak di bidang interior, seketika pikiran saya sampai kepada Pak Azis.
Meskipun hati masih meraba-raba, apa mungkin Pak Azis mampu membuat kios
internet, dalam bentuk serupa dengan anjungan tunai mandiri dan dari kayu
pula, dengan segera saya menuju ke bengkel workshop Pak Azis.

Setelah beberapa kali keliru masuk jalan, akhirnya saya menemukan bengkel
Pak Azis, yang kini ternyata sudah didampingi sebuah masjid. Pak Azispun
tampak awet muda, sama seperti dulu, hanya pakaiannya yang sedikit
berubah. Kali ini dia selalu memakai kopiah putih. Rautnya cerah, fresh,
memancarkan kesan tenang dan lebih santai. Beungeut wudhu-an ( wajah sering

wudhu), kata orang sunda. Selalu bercahaya.

Hidayah Allah ternyata telah sampai sejak lama, jauh sebelum Pak Azis
berkecimpung dalam berbagai dinamika kegiatan Islam. Hidayah itu bermula
dari peristiwa angin puting-beliung, yang tiba-tiba menyapu seluruh atap
bengkel workshop-nya, pada suatu malam kira-kira
lima tahun silam. "Atap rumah saya tertiup angin sampai tak tersisa
satupun. Terbuka semua." cerita Pak Azis."Padahal nggak ada hujan,
nggak
ada tanda-tanda bakal ada angin besar. Angin berpusar itupun cuma sebentar
saja."

Batin Pak Azis bergolak setelah peristiwa itu. Walau uang dan pekerjaan
masih terus mengalir kepadanya, Pak Azis tetap merasa gelisah, stres &
selalu tidak tenang. "Seperti
orang patah hati, Ndra. Makan tidak enak,
tidur juga susah."cerita Pak Azis lagi.

Lama-kelamaan Pak Azis menjadi tidak betah tinggal di rumah dan stres.
Padahal, sebelum kejadian angin puting-beliung yang anehnya hanya mengenai
bengkel workshop merangkap rumahnya saja, Pak Azis merasa hidupnya sudah
sempurna. Dari desainer grafis hingga jadi arsitek. Dengan keserbabisaannya

itu, pak Azis merasa puas dan bangga, karena punya penghasilan tinggi. Tapi
setelah peristiwa angin puting-beliung itu, pak Azis kembali bangkrut,
beliau bertanya dalam hati : "apa sih yang kurang" apa salahku "
?

Akhirnya pak Azis menekuni ibadah secara mendalam "Seperti musafir atau
walisongo, saya mendatangi masjid-masjid di malam hari. Semua masjid besar
dan beberapa masjid di pelosok Bandung ini, sudah pernah saya inapi."
Setahun lebih cara tersebut ia jalani, sampai kemudian akhirnya saya bisa
tidur normal, bisa menikmati pekerjaan dan keseharian seperti sediakala.

"Bahkan lebih tenang dan santai daripada sebelumnya."
"Lebih tenang ? Memang Pak Azis dapet hikmah apa dari tidur di masjid
itu?"

"Di masjid itu ‘kan tidak sekedar tidur, Ndra. Kalau ada shalat malam,
kita

dibangunkan, lalu pergi wudhu dan tahajjud. Karena terbiasa, tahajjud juga
jadi terasa enak.
Malah nggak enak kalau tidak shalat malam, dan shalat-shalat wajib yang
lima itu jadi kurang enaknya, kalau saya lalaikan. Begitu, Ndra."
"Sekarang tidak pernah terlambat atau bolong shalat-nya, Pak Azis ?"
"Alhamdulillah. Sekarang ini saya menganggap bhw yg utama itu adalah
shalat. Jadi, saya dan temen-temen menganggap kerja itu cuma sekedar
selingan aja."

"Selingan ?"

"Ya, selingan yang berguna. Untuk menunggu kewajiban shalat, Ndra."

Untuk beberapa lama saya terdiam, sampai kemudian adzan ashar mengalun
jelas dari masjid samping rumah Pak Azis. Pak Azis mengajak saya untuk
segera pergi mengambil air wudhu, dan saya lihat para pekerjanyapun sudah
pada pergi ke samping rumah, menuju masjid. Bengkel workshop itu menjadi
lengang seketika. Sambil memandang seluruh ruangan bengkel, sambil berjalan
menuju masjid di samping workshop, terus terngiang-ngiang di benak saya :
"Kerja itu cuma selingan, Ndra. Untuk menunggu waktu shalat…"

Sepulangnya dari tempat workshop, sambil memandang sibuknya lalu lintas di
jalan raya, saya merenungi apa yang tadi dikatakan oleh Pak Azis. Sungguh
trenyuh saya, bahwa setelah perenungan itu, saya merasa sebagai orang yang
sering berlaku sebaliknya. Ya, saya lebih sering menganggap shalat sebagai
waktu rehat, cuma selingan, malah saya cenderung lebih mementingkan
pekerjaan kantor. Padahal sholat yang akan bantu kita nantinya…( sungguh
saya orang yang merugi..)

Kadang-kadang waktu shalat dilalaikan sebab pekerjaan belum selesai, atau
rapat dengan klien dirasakan tanggung untuk diakhiri.
Itulah penyebab dari kegersangan hidup saya selama ini. Saya lebih semangat
dan habis-habisan berjuang meraih dunia, daripada mempersiapkan bekal
terbaik untuk kehidupan kekal di akhirat nanti.
padahal dunia ini akan saya tinggalkan.. juga ……….

kenapa saya
begitu bodoh..

Saya lupa, bahwa shalat adalah yang utama.
Mulai saat itu saya berjanji untuk mulai shalat di awal waktu..

Kalau Anda tidak mengirimkan email ini ke temen Anda..ya ga papa sih. Cuma
kalo dikirim mungkin ada gunanya bagi mereka gitu loh.

Sumber: milis SMANSA BWK 53 bwk53@yahoogroups.com

 

" Mengucapkan selamat hari raya lebaran idul
fitri,..

mas pepeng, atau andi, atau nur, mohon maaf lahir
batin bila selama ini ada kesalahan baik sengaja maupun tidka sengaja. Rahmat
dan hidayah Allah bersama Anda.

 

Menulis Blog? Just do It !!

September 20th, 2006 by massepe

Nampaknya banyak teman-teman FS yang sudah punya blog, dan aktif menulis. Menulis weblog memang punya kenikmatan sendiri. Ini sedikit bagi-bagi tulisan tentang kiat-kiat menulis, yang saya buat waktu mengisi pelatihan Penulisan di DIKLAT UKM Jurnalistik di STIE YKPN Yogyakarta tahun 2003 lalu. Judul aslinya adalah "menulis Just do it", yang saya ubah jadi menulis weblog just do it. Terima kasih sudah membacanya dan komentarnya..

Slogan dari perusahaan sepatu Nike (Just do it) bagi teman-teman yang ingin menjadi seorang penulis sangat cocok di pedomani. (Namun sayang pabrik sepatu Nike sudah hengkang dari Indonesia pada akhir tahun 2002 kemarin, alasannya Indonesia penuh resiko untuk berinvestasi saat ini).

Alasannya, kita tidak akan pernah menghasilkan sebuah tulisan sampai seratus tahun sekalipun bila kita tidak memulai mencoba menuliskan apa yang ada di kepala kita diatas selebar kertas. Untuk itu yang terbaik segera lah menulis.


Masalahnya yang sering muncul bagaimana kah membuat sebuah tulisan yang baik dan benar. Bagaimana cara menulis terutama bagi yang masih pemula. Terkadang bingung apa yang mau di tulis pertama kali bila saat sudah mulai duduk di depan komputer. Itu semua dalah persoalan klasik yang pasti di hadapi oleh para penulis-penulisa handal. 

Kesempatan kali ini, saya tidak akan mengutarakan panjang lembar tentang apa itu menulis, jenis-jenis tulisan, bagian-bagian sebuat penulisan itu semua sudah dipelajari pada kelas bahasa Indonesia sewaktu SMP dan SMU dahulu. Dan bila mau berusaha sedikit beli lah buku tentang penulisan yang ada ditoko-toko buku.


Buku-buku karya penulis produktif seperti Andreaf Harefa dan Hernowo mengenai penulisan merupakan buku yang baik dijadikan rujuan. Pada kesempatan kali ini saya akan coba berbagi bagaimana melahirkan sebuah proses kreatifitas dalam dunia tulis menulis dalam diri kita masing-masing, mulai dari “efek bola lampu” (pemunculan ide), kemudian menulisaknnya, pengkoreksian kemudian menuliskannya kembali menjadi sebuah tulisan yang terbaik dari hasil team work antara jari-jari dan otak serta hati dari teman-teman. 


Menulis diawal-awal itu susah. Terkadang satu jam di depan komputer belum tentu ada yang kita tuliskan, malah sering kita merobek berpuluh kertas gara-gara setiap menulis diawal selalu merasa tidak puas, dan merasa salahserta tidak sesuai dengan maksud kita. Untuk menulis,sebaiknya teman-teman;

1. Mencari waktu dan tempat yang enak sesuai selera hati dan otak untuk menulis. Karena menulis itu sebenarnya melibatkan aktifitas dua otak yakni otak kiri (logika) dan otak kanan (emosi). Aktifitas otak kiri seperti perencanaan, outline, tatabahasa, penelitian/analisa dan penyuntingan. Sedangkan otak kanan meliputi semangat, emosi, imajinasi, gairah, dan spontanitas.


2. Rileks, jangan sampai otak kanan lebih dominan, efeknya akan timbul perasaan takut salah, tidak puas, tegang hal ini menggangu kinerja otak kiri yang cenderung lebih logika, sistematis. Outline yang sudah sistimatis akhirnya kita ubah kemudian kita pun menjadi bingung kembali akibat kerja otak kananyang lebih dominan. Akhirnya bingung lagi, tegang, takut salah campur menjadi satu akhirnya stres. Jangan sampai teman-teman kena darah tinggi, marah-marah tanpa sebab alias BeTe. Lebih parah lagi kalau harus masuk rumah sakit.


3. Buat lah Outline bila teman-teman belum memilikinya. Tapi sebelum itu kita harus mencari dan mengumpulkan bahan, hasil reportase, dan data-data statistik terlebih dahulu. Outline bisa juga di buat sebelum pencarian bahan tergantung penguasaan kita terhadap suatu permasalahan.


4. Biar tidak bosan pergunakan musik (anjuran Bobbi de Porter adalah musik klasik/barok, atau instrumen, jangan lagu yang dimengerti bahasanya, soalnya kita terkadang ikut menulis teks lagunya, didepan komputer bisa juga ikut melamun and akhirnya tidak jadi menulis) biar otak kanan lebih terangsang dan tidak mengganggu kinerja otak kiri kita yang sudah penuh dengan opini-opini dan data-data yang sudah sistematis.


5. Terus lah menulis. Jangan takut salah. Menulis paragraf pertama memang kadang lama. Tapi tulis lah dulu apa yang ada di kepala. Jangan pikirkan apakah ini masih sesuai tema. Lebih baik menulislah per paragrap-per-paragrap. (lebih baik langsung di komputer). Jangan pedulikan apakah sesuai dengan tata bahasa atau EYD. Pokoknya menulis saja, rasakan bila ide itu sudah mengalir bagai ember bocor berarti proses kreatif teman-teman sudah berjalan. Jangan di sumbat.


6. Bila teman-teman buntu pada suatu pokok masalah atau sub tema tertentu. No problem. Segerahlah beralih ke sub tema /pokok masalah lainnya. Dan kembali lah ber-ember bocor tanpa mempedulikan sub tema yang tadi sedang terumbat.


7. Setelah selesai dan teman-teman rasa cukup. Dan bila kepala sudah mendidih. Maka berhenti lah. Istirahat dulu. Kalau perlu pergi lah jalan-jalan misalnya keangkringan, bergaul dengan teman-teman, mencuci pakaian. Terserah yang penting bisa rileks sejenak. Bila sudah merasa pulih kembali lanjutkanlah seperti nomor 2 diatas tadi.

8. Kalau pun belum rampung juga, tinggalkan saja. Besok dilanjutkan kembali.

9. Bila sudah selesai, dalam jangka waktu yang cukup lama misalnya dua hari. Coba baca kembali tulisan kita untuk proses pengeditan/pengkoreksian. Posisikan diri kita sebagai seorang redaktur atau editor.

10. Sebagi editor lihat kesalahan yang mana tidak sistematis, lihat yang mana melenceng dari tema, apa ada data yang kurang. Beri tanda kesalahan tersebut dan lanjutkan sampai akhir tulisan. Setelah itu adakan revisi atau perbaikan. Sebaiknya di-print biar enak dan bisa dibaca keman-mana.

11. Cara efektif lainnya adalah dengan menyuruh kawan kita untuk membaca tulisan tersebut, dengar apa yang menurut mereka masih kurang. Entah itu tata bahasanya, ide-ide kita yang sudah kuno, tidak dipahami, EYD, pakoknya yang membuat tulisan kita tidak layak jual.

12. Kemudian cek kembali dan lakukan penulisan ulang terhadap semua input yang teman-teman dapat kan tadi (bila input itu memang benar).

Demikian dua belas langkah sukses menulis dari saya.

Semuanya itu hanya masukan. Dan menurut saya setiap orang punya gaya proses penulisan sendiri-sendiri. Cari cara-cara efektif buat teman-teman untuk menulis.

Selamat menjadi penulis.

kata-kata dari Bobbie de Poter penulis buku Quantum Learning patut dicamkan baik-baik “Kita semua adalah penulis. Dalam diri kita semua ada bakat untuk curhat, seperti berbagi perasaan dan pikiran, menceritakan atau menerangkan bagaimana sesuatu. Dorongan untuk menulis sama dengan dorongan untuk berbicara (curhat). Jadi menulis itu adalah sangat lahiriyah, dan semua pun bisa sehingga tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa” saya tidak berbakat

Bye:

Andi M Nur Bau Massepe

Mantan Pemred Majalah MOTIVATOR, STIE YKPN
Yogyakarta

Turut Berduka atas gempa

May 30th, 2006 by massepe

Mari mengheningkan cipta.

Panjatkan doa, dan bacaan alfatihah, Al.kursi. Syalawat Nabi.

Mari beristgfar, ….

Atas gempa di jogja karta. sabtu jam 6.oo

Book Review: Manusia Bugis

May 19th, 2006 by massepe

180pxthe_bugis_cover

Manusia Bugis

Judul Asli: The Bugis

Penulis: Christian Pelras

Penerjemah: Abdul Rahman Abu Dkk.

Penerbit: Nalar, 2006

Tebal: xxxix + 449

Siapakah manusia Bugis itu? Apa karakteristik yang

melekat padanya sehingga berbeda de-ngan kelompok

manusia lainnya, seperti manusia Jawa, Bali, Melayu,

dan lain-lain? Dan bagaimana karakter kebugisan itu

terbentuk, bertahan, dan berubah mengikuti gerak-gerak

zaman?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itulah yang

dituangkan oleh Christian Pelras, antropolog

berkebangsaan Prancis, dalam bukunya, Manusia Bugis.

Spektrum pemaparannya amat luas dan komprehensif; bak

sebuah repertoar dalam adegan sandiwara Hamlet. Memuat

tentang asal-usul, kondisi geografi dan ekologi,

sistem teknologi, organisasi sosial dan sistem

perkawinan, seni sastra, religi, ekonomi, politik, dan

watak manusia Bugis menurut tapak-tapak waktu. Mulai

dari milenium pertama tarikh Masehi hingga sekarang.

Penyajian seperti itu dimungkinkan karena Pelras

melakukan penelusuran dokumen yang amat teliti dan

penelitian lapangan yang intensif. Risetnya

berlangsung selama 40 tahun (1950–1990).

Temuannya mencengangkan. Sebab-, jejak-jejak masa

silam orang Bugis yang masih samar-samar dan yang

belum terinstal dalam peta pengetahuan bagi umumnya

orang Bugis, termasuk pemerhati dan ilmuwan sosial,

dipaparkan secara amat meyakinkan-. Meskipun pijakan

penelitiannya, kitab La Galigo, diragukan kesahihannya

dan bahkan ditentang oleh sejumlah peneliti- mengenai

Sulawesi Selatan lainnya, seperti Andaya, Caldwell,

dan Koolhof, argumentasinya logis dan di-ser-tai

dengan bukti arkeologis.

Lebih dari itu, ia menampik keyakinan masyarakat umum

dan ilmiah- bahwa moyang orang Bugis pelaut ulung.

Bagi Pelras, mereka petani dan pedagang. Aktivitas

kemaritiman baru ditekuni orang Bugis pada abad ke-18.

Anggapan mengenai nenek- moyang- orang Bugis sebagai

pelaut ulung bersumber dari banyaknya perahu Bugis

pada abad ke-19 yang berlabuh di berbagai wilayah

Nusantara, Papua, Singa-pura, bagian selatan Filipina,

dan pantai barat laut Australia. Lagi pula, perahu

phinisi yang terkenal dan dianggap telah berusia

ratusan tahun, bentuk, dan model akhirnya baru

ditemu-kan antara penghujung abad ke-19 hingga 1930-an

(hlm. 3–4).

Hal lain yang diungkap oleh Pelras adalah bahwa orang

Bugis sejak 1800-an telah menembus ruang yang masih-

dibatasi oleh jarak. James Brook, penge-lana berkulit

putih yang berkunjung ke Wajo pada 1840, ditanya

tentang situasi politik di Turki dan nasib Napoleon

(Pelras, Tapak-tapak Waktu-, 2002: 45). Selain itu,

orang Bugis mampu mendirikan kerajaan yang tidak

mengandung pengaruh India dan tidak mendirikan kota

sebagai pusat aktivitas mereka. Perpaduan antara karya

sastra tertulis dan tradisi lisan melahirkan La Galigo

yang justru lebih panjang dari Mahabarata.

Sungguhpun demikian, karya Pelras tidak luput dari

kelemahan, ter-utama menyangkut karakter orang Bugis

di lapis waktu kini. Klaim Pelras bahwa pola interaksi

sehari-hari warga masyarakat Bugis dilandasi oleh

sistem patron-klien tampaknya sudah sangat- langka.

Itu tampak nyata dalam kehidupan petani dan nelayan,

dengan hubungan antara ponggawa (pemilik sarana

produksi) dan sawi (buruh yang mengoperasikan

peralatan produksi) yang cenderung eksploitatif. Dalam

sistem bagi hasil, sawi men-dapatkan bagian yang

sa-ngat kecil, sehingga kondisi ekonominya selalu

ber-ada di am-bang kelaparan. Kalaupun ponggawa

sa-ngat mudah- memberikan pinjaman berupa pangan dan

uang kepada sawi-nya, itu lebih se-bagai strategi

ponggawa agar sawi-nya senantiasa dalam genggamannya.

Demikian halnya karakter orang Bugis yang menghargai

orang lain dan sangat setia kawan, tampaknya mungkin

sudah mulai tergerus oleh arus zaman. Lihatlah kondisi

pada 2000: Sulawesi Selatan, termasuk di daerah Bugis,

terdapat banyak balita dan anak-anak yang menderita

kelaparan gizi, juga cukup banyak orang Bugis yang

menunaikan ibadah haji. Hal itu meng-isyaratkan bahwa

orang Bugis yang arus rezekinya agak deras kurang

memiliki kepedulian terhadap tetangganya.

Drs Yahya MA, dosen antropologi Universitas Hasanuddin

Majalah Tempo 01/XXXV/27 Februari - 05 Maret 2006

Nama yang “baik” bagi anak Anda

December 12th, 2005 by massepe

NosepickBiasanya menjelang lebaran haji, hajatan yang paling sering diadakan adalah menikah?
Nah, saat ini banyak teman-teman kuliah, maupun teman sekolah di SMU dan SMP pada nikah.
Saya yakin satu tahun kedepan kebingungan kalian adalah memberi nama anak-anak  kan?

Nah ini ada beberapa usulan nama-nama yang bagus dan indah buat teman-teman yang lagi mikirin akan diberi nama apa anak-anak.

Nah, kata William Shakesphare, Apalah arti sebuah nama? tapi menurut ku namailah anak Anda dengan nama yang baik dan indah.

Karena saya lama di Jogja, jadi untuk sementara saya kasih referensi nama jawa, nanti untuk versi nama-nama bugis menyusul, (hehehe.)

Selamat mencari siapa tau ada yang cocok jangan lupain saya ya,..
karena dapat inspirasi dari ku. heheheh

Contohnya :

1. Pandai menanam bunga, diberi nama Rosman.
2. Pandai membaiki mobil, diberi nama Karman
3. Pandai main golf, Parman
4. Pandai dlm korespondensi, Suratman
5. Gagah perkasa, Suparman
6. Kuat dalam berjalan, Wakiman
7. Berani bertanya, Asman
8. Ahli membuat kue, Paiman
9. Pandai berdagang, Saliman
10. Pandai melukis, Saniman
11. Agar jadi orang kaya, Sugiman
12. Agar besar nanti bisa Carmuk, Yasman
13. Suka begituan, Pakman
14. Suka ngerugiin orang lain, Kuman
15. Suka makan toge goreng, Tugiman
16. Selalu ketagihan, Tuman
17. Suka telanjang, Nudiman
18. Selalu sibuk terus, Bisiman
19. Orang yang suka memberi : Kasiman (kasiman deh luh….)
20. Orang yang suka menunda - nunda : Tarman
21. Orang yang sukanya mencium : Kisman
22. Orang yang selalu bokek : Krisman
23. Orang yang selalu ingin mencoba - coba : Triman
24. Orang yang suka melihat : Lukman

(sumber: milis 32 MMUGM)

Tapi kalau ternyata ente2 mau kasih campur dengan nama bugis, jadi bugis jawa, bagus juga menurut ku.

Misalnya kalau anak laki-laki Anda lahir, Anda ingin agar terlihat gagah perkasa, bercita-cita yang tinggi setinggi bulan. Perpaduan nama yang baik menurut ku: Suparman  Mallenggang ri bulang

Tugiman Balala (artinya jago makan toge’)

Karman Pangoto (artinya jago balapan mobil)

Kasiman to mabessa ( senang memberi dan dermawan)

Krisman tena doi’  (kebalikannya selalu kekurangan)

Wakiman malampe jokka  (ini nanti jadi seorang yang kerjanya jalan-jalan terus)

………………………………Itu sedikit beberapa ide buat penamaan anak AndA,